Nilai Uang Bisa Tergerus, Buffett Sarankan Punya Aset Produktif

- Warren Buffett menilai perang besar dapat menekan daya beli uang karena belanja pemerintah, utang, dan peningkatan likuiditas berpotensi memicu inflasi.
- Aset produktif seperti bisnis, lahan pertanian, dan properti dinilai mampu menghasilkan pendapatan serta berpotensi menyesuaikan nilai saat harga meningkat, berbeda dengan uang tunai.
- Di tengah ketegangan geopolitik dan volatilitas pasar, masyarakat disarankan menjaga dana darurat tiga hingga enam bulan biaya hidup serta menyeimbangkan likuiditas dengan investasi jangka panjang.
Ketika konflik geopolitik meningkat, dampaknya tidak hanya terasa di medan perang atau dalam hubungan antarnegara. Ketidakpastian juga dapat merembet ke perekonomian, mulai dari harga minyak, biaya kebutuhan sehari-hari, hingga nilai mata uang dan kondisi pasar investasi. Bagi masyarakat yang sedang menabung atau membangun kekayaan, situasi seperti ini tentu menimbulkan pertanyaan: apakah menyimpan uang tunai masih menjadi pilihan paling aman ketika inflasi dan ketidakpastian meningkat?
Menurut investor legendaris Warren Buffett, salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam situasi perang besar adalah menurunnya daya beli uang. Dalam wawancara dengan CNBC pada 2014, Buffett mengatakan bahwa nilai uang cenderung turun ketika sebuah negara terlibat dalam perang besar. Ia menjelaskan bahwa hal tersebut telah terjadi dalam berbagai konflik sebelumnya, sehingga jumlah barang dan jasa yang bisa dibeli dengan uang yang sama dapat berkurang.
Karena itu, Buffett selama bertahun-tahun menekankan pentingnya memiliki productive assets, atau aset produktif, yang mampu menghasilkan pendapatan dan memiliki nilai ekonomi nyata. Sejumlah pakar keuangan juga menjelaskan mengapa strategi tersebut dapat menjadi pertimbangan penting dalam menghadapi periode inflasi dan ketidakpastian.
Table of Content
1. Perang membutuhkan biaya yang sangat besar

Ilustrasi perang (freepik.com) Dikutip dari GOBankingRates, perang membutuhkan pengeluaran pemerintah dalam jumlah yang sangat besar. Data dari Brown University menunjukkan bahwa biaya ekonomi berbagai perang yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dapat mencapai triliunan dolar.
Untuk membiayai pengeluaran tersebut, pemerintah dapat menggunakan kombinasi pajak, utang, maupun kebijakan moneter. Ketika jumlah uang dalam perekonomian meningkat lebih cepat dibandingkan ketersediaan barang dan jasa, tekanan inflasi dapat muncul.
James Comblo, partner di Prosperity Capital Advisors, menjelaskan bahwa ketika aktivitas pinjaman meningkat dan bank sentral memberikan dukungan terhadap likuiditas, jumlah uang dapat bertambah relatif terhadap barang dan jasa yang tersedia. Kondisi tersebut cenderung mendorong inflasi dan pada akhirnya mengurangi daya beli masyarakat.
Dengan kata lain, seseorang mungkin masih memiliki jumlah uang yang sama secara nominal, tetapi uang tersebut tidak lagi mampu membeli barang sebanyak sebelumnya.
2. Inflasi membuat uang tunai kehilangan daya beli

Ilustrasi inflasi (magnific.com) Perang besar biasanya diikuti oleh peningkatan belanja pemerintah, terutama untuk kebutuhan pertahanan, energi, logistik, dan berbagai kebutuhan terkait lainnya. Ketika lebih banyak uang mengalir ke dalam perekonomian, tekanan terhadap harga juga dapat meningkat.
Danny Ray, founder PinnacleQuote, mengatakan bahwa ketika jumlah uang dalam sistem meningkat, inflasi dapat muncul dan secara perlahan mengurangi daya beli uang tunai.
Inilah salah satu alasan Buffett lebih banyak menyoroti aset produktif. Bisnis, lahan pertanian, dan properti, misalnya, memiliki kemampuan untuk menghasilkan pendapatan. Dalam kondisi harga yang meningkat, pendapatan dan nilai aset tersebut juga berpotensi ikut menyesuaikan.
Ray menjelaskan bahwa bisnis, farmland, dan real estate dapat menghasilkan pendapatan sekaligus berpotensi mengikuti kenaikan harga dalam jangka panjang. Namun, perang tidak selalu hanya membawa risiko. Perubahan kondisi ekonomi dan pergerakan pasar yang tajam juga dapat menciptakan peluang investasi tertentu.
Menurut Comblo, konflik besar memang dapat mengganggu pasar dalam jangka pendek. Namun, perekonomian juga dapat beradaptasi setelah ketidakpastian mereda. Karena itu, menurutnya, investor sebaiknya tidak terlalu fokus mencoba menebak berita atau peristiwa berikutnya.
Sebaliknya, menjaga eksposur yang disiplin terhadap aset produktif dapat menjadi bagian dari strategi jangka panjang. Volatilitas memang membuat pasar terasa tidak nyaman, tetapi perubahan harga juga merupakan bagian dari bagaimana return jangka panjang terbentuk.
3. Apa arti situasi Iran bagi investor?

Ilustrasi investasi (freepik.com) Ketika ketegangan meningkat di wilayah yang merupakan salah satu pusat produksi minyak dunia, harga minyak biasanya menjadi salah satu hal pertama yang mendapat perhatian pasar.
Kenaikan harga minyak dapat memberikan dampak yang lebih luas karena energi digunakan dalam berbagai aktivitas ekonomi. Biaya transportasi dapat meningkat, begitu pula biaya produksi dan distribusi barang, yang pada akhirnya dapat memengaruhi harga kebutuhan sehari-hari.
Namun, menurut Comblo, pertanyaan yang lebih penting bagi investor bukan hanya apakah harga minyak akan naik atau turun dalam beberapa hari ke depan. Investor juga perlu melihat apakah sebuah konflik akan menghasilkan perubahan struktural dalam perekonomian atau hanya menjadi gangguan sementara.
Dalam kondisi penuh ketidakpastian, keputusan investasi yang didorong oleh ketakutan jangka pendek juga dapat membuat seseorang keluar dari rencana keuangan jangka panjangnya. Menurut Comblo, salah satu pesan utama dari pemikiran Buffett adalah bahwa aset produktif secara historis memiliki kemampuan untuk mengimbangi inflasi dalam jangka panjang, sementara uang tunai saja tidak selalu mampu mempertahankan daya belinya.
Uang mungkin kehilangan sebagian daya beli ketika inflasi meningkat. Sebaliknya, aset produktif yang menghasilkan pendapatan dan arus kas memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi ekonomi.
4. Jangan lupakan dana darurat

Ilustrasi dana darurat (freepik.com) Meski investasi jangka panjang penting, bukan berarti seluruh uang harus langsung ditempatkan ke aset investasi. Dalam situasi ekonomi yang tidak menentu, memiliki dana tunai yang mudah diakses tetap menjadi bagian penting dari perencanaan keuangan.
Eric Mangold, certified wealth strategist (CWS) dan founder Argosy Wealth Management, menekankan bahwa masyarakat tidak seharusnya mengambil keputusan investasi karena panik ketika terjadi krisis. Menurut Mangold, memiliki dana darurat yang setara dengan sekitar tiga hingga enam bulan biaya hidup merupakan langkah penting untuk menjaga stabilitas keuangan.
Dana darurat memberikan bantalan ketika terjadi situasi tidak terduga, seperti kehilangan pekerjaan, pengeluaran medis, atau kebutuhan mendesak lainnya. Dengan adanya dana tersebut, seseorang tidak harus menjual investasi secara terburu-buru ketika pasar sedang mengalami penurunan.
5. Menyeimbangkan likuiditas dan investasi jangka panjang

Ilustrasi investasi (freepik.com) Pada akhirnya, pesan yang dapat diambil dari pandangan Buffett bukan berarti uang tunai sama sekali tidak diperlukan. Cash tetap memiliki fungsi penting, terutama untuk kebutuhan sehari-hari, dana darurat, dan menghadapi kondisi yang tidak terduga.
Namun, menyimpan seluruh kekayaan dalam bentuk uang tunai juga memiliki risiko tersendiri ketika inflasi terus mengurangi daya beli. Karena itu, membangun kombinasi antara likuiditas yang cukup dan kepemilikan aset produktif dapat menjadi bagian dari strategi keuangan jangka panjang.
Situasi geopolitik seperti konflik Iran juga mengingatkan bahwa kondisi ekonomi dapat berubah dengan cepat. Harga minyak, inflasi, pasar saham, dan nilai mata uang dapat bergerak sebagai respons terhadap berbagai perkembangan. Tidak semua pergerakan tersebut dapat diprediksi sebelumnya.
Karena itu, daripada mencoba menebak setiap berita atau perubahan pasar, investor perlu kembali melihat fondasi keuangan mereka sendiri: apakah dana darurat sudah mencukupi, apakah utang terkendali, dan apakah portofolio investasi sesuai dengan tujuan serta jangka waktu yang dimiliki.
Dalam kondisi apa pun, membangun kekayaan bukan hanya soal mencari aset yang bisa naik paling cepat. Yang tidak kalah penting adalah memiliki fondasi keuangan yang cukup kuat untuk bertahan ketika ekonomi menghadapi periode penuh ketidakpastian.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)























