Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Revenge Saving Jadi Solusi: Cara Cerdas Kelola Keuangan di Masa Sulit

ilustrasi saving
ilustrasi saving (freepik.com/freepik)
Intinya sih...
  • Revenge saving lahir dari rasa cemas terhadap ekonomi.
  • Banyak orang menabung lebih agresif sebagai respons atas kecemasan terhadap kondisi ekonomi.
  • Generasi Z dan milenial paling banyak melakukan pola ini karena sensitif terhadap isu ekonomi.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di tengah kondisi ekonomi yang terasa makin tak pasti, cara orang mengelola uang juga ikut berubah. Kalau dulu banyak orang melakukan revenge spending alias balas dendam belanja setelah pandemi, sekarang trennya mulai bergeser. Muncul istilah revenge saving, yaitu kebiasaan menabung lebih agresif sebagai respons atas rasa cemas terhadap masa depan.

Fenomena ini banyak dipicu oleh kenaikan harga, isu resesi, dan derasnya informasi ekonomi di media sosial. Tanpa disadari, emosi ikut memengaruhi keputusan keuangan sehari-hari.

Nah, kalau dilakukan dengan cara yang tepat, revenge saving justru bisa jadi solusi cerdas buat kamu bertahan di masa sulit. Supaya gak sekadar menabung karena panik, yuk pahami bagaimana revenge saving bisa diterapkan secara sehat dan terencana di kehidupan sehari-hari.

1. Revenge saving lahir dari rasa cemas terhadap ekonomi

ilustrasi scrolling medsos (pexels.com/Karolina Grabowska)
ilustrasi scrolling medsos (pexels.com/Karolina Grabowska)

Revenge saving muncul sebagai respons alami dari meningkatnya kecemasan terhadap kondisi ekonomi. Banyak orang merasa masa depan keuangan mereka gak seaman dulu. Berita soal inflasi, resesi, dan gejolak pasar membuatmu ingin punya pegangan dana yang cukup. Akhirnya, menabung terasa seperti cara untuk mendapatkan rasa aman.

Berdasarkan survei dari Intuit Credit Karma, lebih dari 4 dari 10 orang menyesuaikan kebiasaan keuangannya berdasarkan perasaan mereka terhadap kondisi ekonomi. Generasi Z dan milenial menjadi kelompok yang paling banyak melakukan pola ini. Paparan informasi digital dan media sosial membuat mereka lebih sensitif terhadap isu ekonomi. Dari sinilah revenge saving berkembang sebagai kebiasaan baru.

2. Mengukur kondisi keuangan lewat “suhu uang”

ilustrasi gaji (vecteezy.com/nuttawan jayawan)
ilustrasi gaji (vecteezy.com/nuttawan jayawan)

Sebelum menerapkan revenge saving, kamu perlu memahami kondisi keuanganmu secara menyeluruh. Mengukur “suhu uang” atau "money temperature" berarti melihat seberapa seimbang antara pemasukan, pengeluaran, dan tabungan. Kamu perlu tahu berapa uang yang masuk dan ke mana saja uang itu keluar setiap bulan. Langkah ini membantumu mengambil keputusan yang lebih sadar.

Matthew Blocki, seorang perencana keuangan bersertifikat asal Amerika Serikat sekaligus pendiri firma perencanaan keuangan Equilibrium Wealth Advisors, menjelaskan bahwa masalah keuangan gak hanya dialami oleh orang yang boros. Menurut pandangannya, orang yang terlalu ekstrem dalam menabung juga bisa merasa tertekan dan gak menikmati hidup. Dengan memahami kondisi keuangan secara menyeluruh, kamu bisa menemukan keseimbangan antara hidup nyaman saat ini dan menyiapkan masa depan. Pendekatan ini membuat revenge saving terasa lebih rasional, bukan emosional.

3. Menjadikan tabungan prioritas dengan reverse budgeting

ilustrasi budgeting
ilustrasi budgeting (freepik.com/schantalao)

Salah satu cara agar revenge saving berjalan efektif adalah menggunakan metode reverse budgeting. Metode ini mengubah kebiasaan lama yang menabung dari sisa uang. Kamu justru menyisihkan tabungan di awal, sebelum membagi uang untuk kebutuhan lain. Dengan cara ini, menabung gak lagi jadi opsi terakhir.

Pendekatan “membayar diri sendiri lebih dulu” dinilai lebih konsisten dalam membangun kebiasaan menabung. Para ahli keuangan menyarankan metode ini karena bisa membantumu fokus pada tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Setelah tabungan aman, barulah pengeluaran disesuaikan. Cara ini membuat revenge saving lebih terstruktur dan realistis.

4. Memisahkan rekening sesuai tujuan keuangan

ilustrasi mesin ATM (pexels.com/Liliana Drew)
ilustrasi mesin ATM (pexels.com/Liliana Drew)

Agar tabungan gak gampang terpakai, pemisahan rekening menjadi langkah penting dalam revenge saving. Kamu bisa memiliki rekening khusus untuk dana darurat, rekening kebutuhan rutin, dan rekening tujuan tertentu. Cara ini membuatmu lebih disiplin dan gak mencampur uang tabungan dengan uang belanja. Selain itu, kamu jadi lebih mudah memantau progres keuangan.

Charlie Wise, seorang eksekutif senior di bidang riset dan konsultasi global di perusahaan analisis kredit TransUnion, menilai bahwa ketidakpastian ekonomi mendorong orang untuk menyimpan uang yang gampang diakses. Menurutnya, dana darurat penting agar kamu bisa cepat mengambil keputusan saat kondisi tak terduga terjadi. Karena itu, dana darurat sebaiknya disimpan terpisah dan likuid. Strategi ini membantu revenge saving tetap aman dan terkontrol.

5. Meningkatkan tabungan secara bertahap dan konsisten

ilustrasi saving
ilustrasi saving (freepik.com/freepik)

Menabung dalam jumlah besar sekaligus sering kali terasa berat dan sulit dipertahankan. Karena itu, meningkatkan tabungan secara bertahap menjadi pilihan yang lebih realistis. Kamu bisa mulai dari nominal kecil lalu menambahkannya secara berkala. Cara ini membantumu beradaptasi tanpa merasa terbebani.

Para penasihat keuangan menyarankan kenaikan tabungan dilakukan secara rutin, meski hanya sedikit setiap tahun. Peningkatan kecil ini bisa memberi dampak besar dalam jangka panjang berkat efek pertumbuhan dana. Selain itu, kamu gak akan terlalu merasa kehilangan uang untuk kebutuhan harian. Dengan pendekatan ini, revenge saving berubah menjadi kebiasaan jangka panjang yang lebih berkelanjutan.

Revenge saving memang lahir dari rasa cemas terhadap kondisi ekonomi, tapi dampaknya bisa sangat positif apabila dikelola dengan benar. Kuncinya adalah mengubah emosi menjadi strategi keuangan yang terencana dan masuk akal.

Dengan memahami kondisi keuangan, memprioritaskan tabungan, dan mengatur rekening secara disiplin, kamu bisa merasa lebih siap menghadapi masa depan. Di tengah situasi sulit, langkah kecil yang konsisten justru memberi efek besar. Jadi, daripada panik berlebihan, lebih baik kamu menjadikan revenge saving sebagai kebiasaan cerdas untuk menjaga keuangan tetap aman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More

BNI Kucurkan Pinjaman Rp1,5 Triliun untuk Dukung Program MBG

26 Jan 2026, 17:40 WIBBusiness