Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Uber dan Nvidia Siap Luncurkan Robotaxi di 28 Kota Dunia

Uber dan Nvidia Siap Luncurkan Robotaxi di 28 Kota Dunia
Uber (unsplash.com/Mariia Shalabaieva)
Intinya Sih
  • Uber dan Nvidia berkolaborasi meluncurkan layanan robotaxi global, dimulai dari uji coba di Los Angeles dan San Francisco pada 2027 sebelum ekspansi ke 28 kota dunia hingga akhir 2028.
  • Robotaxi Uber akan menggunakan platform Nvidia DRIVE Hyperion dengan chip DRIVE Thor dan AI Alpamayo yang mampu memahami situasi jalan kompleks serta menjamin keamanan melalui sistem operasi bersertifikat Halos.
  • Peluncuran ini terjadi di tengah persaingan ketat industri robotaxi antara Uber, Tesla, Waymo, dan perusahaan China seperti WeRide serta Baidu yang berlomba memperluas pasar internasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Dua perusahaan teknologi besar, Uber Technologies dan Nvidia, secara resmi mengumumkan kerja sama besar untuk meluncurkan layanan taksi tanpa sopir (robotaxi), pada Senin (16/3/2026). Melalui kolaborasi ini, teknologi berkendara otomatis tingkat lanjut milik Nvidia akan dipasang pada jaringan transportasi Uber yang sudah tersebar luas di berbagai negara.

Rencana ambisius ini akan mulai diuji coba di kota Los Angeles dan San Francisco pada awal tahun 2027. Setelah tahap awal tersebut berjalan lancar, kedua perusahaan menargetkan untuk memperluas layanan ini hingga menjangkau 28 kota di seluruh dunia pada akhir tahun 2028.

1. Uber dan Nvidia siapkan robotaxi di empat benua

Alpamayo, model AI Nvidia untuk mobil otonom
Alpamayo, model AI Nvidia untuk mobil otonom (nvidia.com)

Uber Technologies mengambil langkah besar dalam mengubah sistem transportasi perkotaan di berbagai dunia melalui peluncuran armada robotaxi. Setelah memulai operasional di wilayah California, perusahaan berencana memperluas layanan ini ke pasar utama di empat benua, mulai dari Amerika Utara, Eropa, Australia, hingga berbagai kota besar di Asia. Melalui jaringan yang luas ini, Uber ingin menghadirkan solusi perjalanan yang lebih aman dan efisien bagi jutaan penggunanya.

Tahap awal di Los Angeles dan San Francisco akan difokuskan pada pengumpulan data untuk melatih sistem kecerdasan buatan agar mengenali kondisi jalanan lokal. Kendaraan khusus akan memetakan setiap sudut kota guna memastikan arah navigasi yang sangat akurat sebelum layanan ini dibuka untuk umum. Setelah data terkumpul, operasional akan dimulai dengan pengawasan manusia untuk menjamin keamanan di jalan raya, sebelum akhirnya berubah menjadi layanan yang sepenuhnya tanpa pengemudi.

CEO Uber, Dara Khosrowshahi, menjelaskan bahwa strategi ini adalah bagian dari upaya membangun ekosistem kendaraan otomatis yang melibatkan banyak pemain industri. Ia menekankan bahwa kerja sama ini sangat penting bagi perkembangan transportasi global di masa depan.

"Melalui penguatan kemitraan dengan Nvidia, kami memadukan AI canggih dengan jaringan global Uber untuk membangun fondasi kendaraan otonom yang beragam demi komersialisasi luas," ujar Khosrowshahi, dilansir Investing.

Untuk mendukung rencana ini, Uber dan Nvidia bekerja sama membangun pusat data besar menggunakan platform Nvidia Cosmos. Fasilitas ini berfungsi mengelola informasi dari jutaan mil perjalanan agar sistem pintar tersebut bisa belajar lebih cepat dan beradaptasi dengan budaya mengemudi yang berbeda di tiap negara. Dengan pendekatan ini, robotaxi diharapkan bisa menjadi solusi nyata dalam mengatasi kemacetan di kota-kota besar dunia.

2. Teknologi canggih Nvidia DRIVE Thor jadi otak robotaxi Uber

Ilustrasi robotaxi (unsplash.com/Maxim)
Ilustrasi robotaxi (unsplash.com/Maxim)

Robotaxi yang akan dioperasikan di jaringan Uber sepenuhnya menggunakan platform Nvidia DRIVE Hyperion yang sangat canggih. Teknologi ini merupakan sistem pusat yang menyatukan komputer utama, rangkaian sensor lengkap, dan jaringan internet berkecepatan tinggi di dalam kendaraan. Sistem ini mengandalkan chip Nvidia DRIVE Thor yang mampu bekerja sangat cepat untuk memantau kondisi di sekitar mobil secara langsung. Dengan perangkat ini, mobil tersebut memiliki kemampuan melihat ke segala arah hingga 360 derajat yang jauh melampaui penglihatan manusia biasa.

Salah satu bagian terpenting dalam teknologi ini adalah model kecerdasan buatan bernama Alpamayo yang berfungsi sebagai otak kendaraan. Berbeda dengan sistem lama yang hanya mendeteksi benda, Alpamayo memungkinkan mobil untuk memahami logika di balik situasi jalan raya yang rumit. Model ini mampu menangani kejadian langka, seperti perbaikan jalan mendadak atau gerakan pejalan kaki yang tidak terduga. Melalui kemampuan berpikir ini, kendaraan dapat menjelaskan mengapa ia mengambil keputusan tertentu demi keamanan dan kenyamanan penumpang.

Pendiri dan CEO Nvidia, Jensen Huang, menekankan bahwa kemajuan teknologi ini adalah titik balik bagi industri robot dunia. Saat berbicara di acara GTC di San Jose, ia melihat bahwa kecerdasan buatan fisik kini sudah sangat matang untuk digunakan di jalan raya.

Selain kemampuan berpikir, sisi keamanan juga diperkuat dengan sistem operasi Nvidia Halos yang sudah tersertifikasi. Sistem ini memastikan setiap gerakan mobil selalu berada dalam batas perlindungan yang ketat. Inovasi ini bertujuan untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap layanan transportasi tanpa pengemudi. Melalui sistem keselamatan yang berlapis, Uber dan Nvidia berharap dapat mengurangi risiko kecelakaan di jalan raya.

3. Persaingan robotaxi semakin ketat antara Uber, Tesla, dan Waymo

ilustrasi robotaxi
ilustrasi robotaxi (tesla.com)

Langkah besar Uber dan Nvidia muncul di tengah persaingan industri robotaxi yang semakin memanas. Saat ini, Waymo masih memimpin pasar dengan layanan komersial yang sudah berjalan di beberapa kota seperti Phoenix, San Francisco, dan Los Angeles. Namun, keunggulan modal dan kemampuan produksi massal milik Tesla diprediksi akan mengubah peta persaingan secara drastis dalam waktu dekat.

Tesla saat ini sedang mengembangkan taksi khusus bernama Cybercab yang rencananya mulai diproduksi massal pada tahun 2026. Meski begitu, Elon Musk memperingatkan bahwa tahap awal produksi mungkin berjalan lambat karena banyaknya komponen baru. Di sisi lain, perusahaan asal China seperti WeRide dan Baidu juga mulai melakukan perluasan pasar secara agresif ke wilayah internasional, termasuk Timur Tengah dan Eropa. Hal ini menciptakan persaingan ketat dalam hal teknologi, aturan hukum, dan kemampuan produksi.

Mengenai kepemimpinan pasar dan standar keselamatan, Co-CEO Waymo, Tekedra Mawakana, menekankan pentingnya keterbukaan data agar masyarakat dapat mempercayai teknologi baru ini sepenuhnya. Ia meyakini bahwa standar nasional sangat diperlukan bagi seluruh pemain industri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More