Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Saham SpaceX Rontok, Nilai Pasar Susut hingga Rp2.400 Triliun
ilustrasi perusahaan SpaceX (unsplash.com/Sven Piper)
  • Saham SpaceX anjlok lebih dari 6 persen setelah euforia IPO mereda, memicu aksi ambil untung dan volatilitas tinggi di pasar.
  • Penurunan harga saham berpotensi memangkas nilai pasar SpaceX hingga lebih dari Rp2.400 triliun, setara hampir dengan PDB tahunan Indonesia.
  • Investor ritel mulai menahan pembelian saham sementara perusahaan fokus pada ekspansi besar di sektor kecerdasan buatan melalui akuisisi dan penerbitan obligasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

SpaceX sempat menjadi pusat perhatian pasar saham setelah melantai di bursa dan mencatat lonjakan harga yang sangat tinggi. Antusiasme investor bahkan sempat menempatkan perusahaan milik Elon Musk tersebut di jajaran lima perusahaan paling bernilai di dunia.

Namun, euforia itu ternyata gak berlangsung lama. Pada perdagangan Kamis, harga saham SpaceX justru mengalami penurunan cukup tajam dan memicu kekhawatiran di kalangan investor.

Jika tren pelemahan ini berlanjut, nilai pasar perusahaan diperkirakan menyusut hingga sekitar 150 miliar dolar AS atau setara lebih dari Rp2.400 triliun. Angka tersebut hampir setara dengan produk domestik bruto tahunan Indonesia.

1. Saham SpaceX turun setelah euforia IPO mulai mereda

ilustrasi Wall Street New York (unsplash.com/fabio Spano)

Saham SpaceX tercatat turun lebih dari 6 persen dan diperdagangkan di kisaran 178,50 dolar AS atau sekitar Rp2,9 juta per lembar. Penurunan tersebut terjadi setelah saham perusahaan itu sebelumnya melonjak tajam dalam dua hari pertama sejak penawaran saham perdana atau IPO. Meski terkoreksi, harga saham SpaceX masih berada sekitar 30 persen di atas harga penawaran awal sebesar 135 dolar AS atau sekitar Rp2,2 juta per saham.

Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian investor mulai memilih merealisasikan keuntungan yang telah mereka peroleh. Analis IPOX Schuster, Kat Liu, menilai aksi ambil untung merupakan hal yang cukup wajar mengingat besarnya skala IPO dan kenaikan harga saham yang sangat cepat dalam waktu singkat. Ia juga mengatakan bahwa pekan perdagangan yang singkat dan penuh pergerakan membuat volatilitas saham SpaceX semakin terasa.

2. Nilai pasar berpotensi menyusut ribuan triliun rupiah

ilustrasi perusahaan SpaceX (unsplash.com/SpaceX)

Sebelum mengalami penurunan, kapitalisasi pasar SpaceX mencapai sekitar 2,52 triliun dolar AS atau setara sekitar Rp40.320 triliun. Jika pelemahan harga saham terus berlanjut, nilai pasar perusahaan tersebut diperkirakan bisa berkurang lebih dari 150 miliar dolar AS. Dengan asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS, angka itu setara lebih dari Rp2.400 triliun.

Nilai yang hilang tersebut bahkan lebih besar dibandingkan total produk domestik bruto beberapa negara berkembang. Meski terdengar fantastis, perubahan kapitalisasi pasar sebesar itu memang dapat terjadi pada perusahaan dengan valuasi sangat tinggi. Pergerakan harga saham beberapa persen saja sudah cukup untuk menghapus nilai perusahaan dalam jumlah yang sangat besar.

3. Investor ritel mulai mengurangi pembelian saham

ilustrasi S&P 500, investasi, saham (magnific.com/tirachardz)

Dalam tiga hari perdagangan sebelumnya, investor ritel tercatat membeli saham SpaceX secara agresif. Total pembelian bersih mereka mencapai lebih dari 300 juta dolar AS atau sekitar Rp4,8 triliun. Tingginya minat investor individu menjadi salah satu faktor yang mendorong lonjakan harga saham sesaat setelah IPO.

Namun, aktivitas pembelian mulai melambat pada Kamis. Data dari Vanda Research menunjukkan bahwa hingga pukul 14.00 waktu setempat, pembelian bersih investor ritel hanya mencapai sekitar 9,1 juta dolar AS atau sekitar Rp145,6 miliar. Penurunan minat beli ini mengindikasikan bahwa sebagian investor mulai bersikap lebih hati-hati setelah reli harga saham yang sangat cepat.

4. Ambisi besar di bidang AI memunculkan pertanyaan baru

ilustrasi chip (Unsplash/Brian Kostiuk)

Sebagian pelaku pasar juga mulai mempertanyakan apakah valuasi SpaceX saat ini benar-benar sebanding dengan prospek bisnisnya. Salah satu perhatian utama datang dari langkah perusahaan yang ingin memperkuat ekspansi di sektor kecerdasan buatan atau AI. Bidang tersebut memang menjanjikan pertumbuhan besar, tapi juga membutuhkan biaya investasi yang gak sedikit.

SpaceX baru-baru ini mengumumkan rencana mengakuisisi Anysphere, perusahaan pengembang asisten pemrograman berbasis AI bernama Cursor. Nilai transaksi itu mencapai 60 miliar dolar AS atau sekitar Rp960 triliun dan seluruhnya akan dibayar menggunakan saham. Selain itu, perusahaan juga disebut tengah mempersiapkan penerbitan obligasi senilai sedikitnya 20 miliar dolar AS atau sekitar Rp320 triliun untuk mendukung ekspansi AI yang lebih agresif.

5. Analis sudah mengingatkan risiko volatilitas sejak awal

ilustrasi risiko investasi (freepik.com/standret)

Sejumlah analis dan manajer investasi sebenarnya telah mengingatkan bahwa saham SpaceX kemungkinan akan bergerak sangat fluktuatif pada masa awal perdagangan. Salah satu penyebabnya adalah jumlah saham yang beredar di publik relatif terbatas, sementara valuasinya sudah sangat tinggi. Kombinasi tersebut membuat harga saham lebih mudah bergerak tajam ketika sentimen pasar berubah.

Koreksi yang dialami SpaceX juga ikut menyeret saham perusahaan antariksa lainnya di Amerika Serikat. Saham Rocket Lab dan Planet Labs turun sekitar 3 persen, sedangkan AST SpaceMobile melemah sekitar 7 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen negatif terhadap SpaceX turut memengaruhi sektor antariksa secara keseluruhan.

Turunnya saham SpaceX menjadi pengingat bahwa euforia pasar gak selalu bertahan lama. Meskipun perusahaan masih memiliki prospek pertumbuhan yang besar, investor tampaknya mulai mempertimbangkan kembali apakah valuasi saat ini memang layak untuk dipertahankan.

Langkah ekspansi agresif di bidang AI juga akan menjadi ujian penting bagi perusahaan dalam beberapa tahun mendatang. Bagi kamu yang mengikuti perkembangan pasar saham, kondisi ini menunjukkan pentingnya memahami risiko sebelum ikut terbawa tren investasi yang sedang populer.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article