Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tak Lagi Murah, 5 Kebutuhan Ini Cuma Terjangkau oleh Orang Kaya
ilustrasi orang kaya, golongan atas, kaum berada (magnific.com/magnific)
  • Kenaikan biaya hidup di Amerika Serikat membuat makan di restoran, hiburan malam, dan aktivitas sosial yang dulu lazim kini lebih sering dikurangi demi menjaga anggaran.

  • Akses layanan kesehatan mental terhambat biaya: konsultasi terapis dapat mencapai 150 dolar AS per sesi, sementara 39,3 persen orang yang membutuhkan layanan tidak mendapatkannya karena kendala finansial.

  • Kepemilikan rumah dan pengasuhan anak makin berat; harga rumah rata-rata 365 ribu dolar AS, sedangkan penitipan anak penuh waktu dapat menyerap 8,9–16 persen pendapatan median keluarga.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dulu, makan di restoran, nongkrong bersama teman, atau punya rumah sendiri mungkin terasa seperti bagian normal dari kehidupan. Sekarang, berbagai kebutuhan dan aktivitas tersebut mulai terasa semakin berat ketika harga terus naik sementara penghasilan gak selalu mengikuti.

Kondisi ini membuat banyak orang harus lebih selektif dalam mengatur pengeluaran, termasuk untuk hal-hal yang sebelumnya terasa biasa saja. Sejumlah data di Amerika Serikat menunjukkan bahwa kenaikan biaya hidup membuat berbagai aktivitas semakin sulit dijangkau oleh masyarakat berpenghasilan menengah.

Pengeluaran untuk makan di luar, hiburan, tempat tinggal, hingga pengasuhan anak kini membutuhkan pertimbangan finansial yang lebih besar. Akibatnya, sesuatu yang dulu dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari perlahan bisa berubah menjadi kemewahan bagi sebagian orang.

Lantas, apa saja kebutuhan yang kini mulai terasa mahal dan sulit dijangkau? Yuk, simak satu per satu berikut ini.

1. Makan di restoran nyaman

ilustrasi makan di restoran (pexels.com/Pixabay)

Makan di restoran yang nyaman sekarang bisa terasa seperti pengeluaran ekstra yang harus dipikirkan matang-matang. Kenaikan harga membuat orang lebih memilih memasak sendiri di rumah atau mengurangi frekuensi makan di luar demi menjaga kondisi keuangan. Data dari Ipsos menunjukkan sekitar sepertiga warga Amerika Serikat mengaku mengurangi kebiasaan makan di luar atau memesan makanan selama periode yang diteliti. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa makan di luar mulai dianggap sebagai pengeluaran yang bisa dikurangi ketika anggaran sedang ketat.

Bagi kamu yang sedang berusaha menghemat, makan di restoran tentu berbeda dengan membeli kebutuhan pokok di supermarket. Sekali makan bersama teman bisa menghabiskan uang yang sebenarnya dapat dialihkan untuk kebutuhan lain. Sementara itu, orang dengan kondisi finansial sangat kuat punya ruang lebih besar untuk menikmati restoran tanpa terlalu memikirkan dampaknya terhadap anggaran bulanan. Perbedaan kemampuan tersebut akhirnya membuat aktivitas sederhana seperti makan di luar terasa semakin eksklusif.

2. Mendapatkan layanan kesehatan mental

ilustrasi mental care, kesehatan mental, konsultasi psikolog, psikiater, konseling (magnific.com/magnific)

Menjaga kesehatan mental memang penting, tapi akses terhadap bantuan profesional masih berkaitan erat dengan kemampuan membayar. Di Amerika Serikat, biaya konsultasi dengan terapis dapat mencapai sekitar 150 dolar AS atau lebih, setara sekitar Rp2,68 juta per sesi berdasarkan kurs sekitar Rp17.896 per 1 dolar AS. Bagi seseorang yang memiliki banyak kebutuhan rutin, nominal tersebut tentu bisa menjadi pertimbangan besar, apalagi jika konseling membutuhkan beberapa kali pertemuan. Akibatnya, sebagian orang memilih menunda atau bahkan menghindari bantuan profesional karena persoalan biaya.

Data dari CDC juga menunjukkan besarnya persoalan tersebut. Sebanyak 39,3 persen orang yang membutuhkan layanan kesehatan mental gak mendapatkannya karena terkendala biaya. Angka ini memperlihatkan bahwa persoalan finansial dapat menjadi salah satu penghalang seseorang untuk memperoleh bantuan ketika sedang mengalami masalah psikologis. Jadi, ketika seseorang dengan mudah menyarankan terapi kepada orang lain, kondisi finansial penerimanya juga perlu dipertimbangkan.

3. Menikmati waktu malam bersama teman

ilustrasi makan bareng di sports bar (pexels.com/Karl Rayson)

Dulu, keluar malam bersama teman bisa menjadi rutinitas sederhana setelah bekerja atau menjalani aktivitas sepanjang minggu. Sekarang, biaya makan, transportasi, hiburan, hingga tempat nongkrong bisa membuat satu malam menghabiskan anggaran yang cukup besar. Ketika pengeluaran untuk tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, dan tabungan sudah memenuhi sebagian besar penghasilan, hiburan sering menjadi pos pertama yang dikurangi. Akhirnya, ajakan nongkrong yang dulu mudah diterima bisa berubah menjadi sesuatu yang harus dipikirkan lebih lama.

Situasi tersebut juga berkaitan dengan panjangnya waktu kerja sebagian pekerja. Berdasarkan survei Gallup pada 2019, sebanyak 52 persen pekerja penuh waktu di Amerika Serikat melaporkan bekerja lebih dari 40 jam dalam seminggu. Waktu kerja yang panjang membuat kesempatan menikmati waktu luang bersama teman semakin terbatas, sementara biaya untuk bersenang-senang juga perlu diperhitungkan. Bagi kamu yang sedang mengejar kestabilan finansial, memilih pulang dan beristirahat di rumah setelah bekerja bisa terasa lebih masuk akal daripada mengeluarkan uang untuk hiburan.

4. Memiliki rumah sendiri

ilustrasi kamar tidur, seprai warna hijau, tanaman hias (pexels.com/Carlos Montelara)

Punya rumah sendiri menjadi salah satu pencapaian finansial yang semakin sulit diwujudkan ketika harga properti dan biaya kepemilikan terus membesar. Data Zillow menyebut rata-rata harga rumah di Amerika Serikat mencapai 365 ribu dolar AS atau sekitar Rp6,53 miliar, sementara biaya tersembunyi kepemilikan rumah rata-rata sekitar 14 ribu dolar AS atau sekitar Rp250,5 juta per tahun. Artinya, kemampuan membeli rumah gak berhenti pada kesanggupan membayar harga properti saja. Ada berbagai biaya lain setelah rumah berhasil dimiliki yang juga harus masuk dalam perhitungan.

Kondisi tersebut membuat sebagian anak muda harus menunda rencana membeli rumah atau memilih tinggal di tempat yang lebih terjangkau. Beban utang, biaya kebutuhan sehari-hari, serta harga rumah yang tinggi dapat membuat seseorang kesulitan mengumpulkan uang untuk uang muka. Sementara itu, orang yang sejak lahir sudah memiliki dukungan finansial lebih besar memiliki pilihan yang jauh lebih luas dalam urusan tempat tinggal. Bahkan, kepemilikan lebih dari satu properti menjadi sesuatu yang memungkinkan bagi kelompok dengan kekayaan sangat tinggi.

5. Memiliki anak tanpa khawatir biaya pengasuhan

ilustrasi newborn, anak bayi (pexels.com/Foden Nguyen)

Memiliki anak membawa berbagai kebutuhan finansial yang harus dipersiapkan sejak awal, salah satunya biaya pengasuhan. Berdasarkan data U.S. Department of Labor, keluarga di Amerika Serikat menghabiskan sekitar 8,9 hingga 16 persen dari pendapatan median mereka untuk penitipan anak penuh waktu bagi satu anak. Angka tersebut tentu bisa terasa berat ketika penghasilan juga harus digunakan untuk tempat tinggal, makanan, transportasi, pendidikan, dan kebutuhan lainnya. Dalam kondisi tertentu, biaya pengasuhan bahkan bisa menjadi salah satu pertimbangan seseorang ketika merencanakan jumlah anak.

U.S. Department of Labor mencatat rata-rata keluarga Amerika mengeluarkan hampir 15.600 dolar AS atau sekitar Rp279,2 juta per tahun untuk kebutuhan tersebut. Keluarga dengan kekayaan besar memiliki pilihan lebih banyak karena dapat membayar pengasuh pribadi, seperti nanny atau babysitter, sehingga kebutuhan pengasuhan bisa dialihkan kepada tenaga profesional. Sementara itu, keluarga dengan anggaran terbatas mungkin harus mengandalkan anggota keluarga, mengurangi jam kerja, atau mencari alternatif penitipan yang lebih murah. Perbedaan pilihan inilah yang membuat pengalaman membesarkan anak bisa terasa sangat berbeda berdasarkan kondisi ekonomi keluarga.

Kenaikan biaya hidup pada akhirnya membuat banyak hal yang dulu terasa biasa berubah menjadi pengeluaran yang harus dihitung dengan cermat. Makan di restoran, bersenang-senang bersama teman, memperoleh layanan kesehatan mental, memiliki rumah, hingga membayar pengasuhan anak semuanya membutuhkan ruang finansial yang cukup.

Data dari Amerika Serikat ini menunjukkan bahwa biaya menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan akses seseorang terhadap berbagai kebutuhan tersebut. Jadi, ketika kamu melihat seseorang mulai mengurangi aktivitas tertentu, belum tentu mereka gak ingin menikmatinya, bisa saja kondisi keuangan memang membuat pilihan mereka menjadi lebih terbatas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article