Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Uang Beredar Januari 2026 Tumbuh 10 Persen, Tembus Rp10.117 Triliun
Ilustrasi mata uang Rupiah (freepik.com/skata)
  • Bank Indonesia melaporkan uang beredar (M2) Januari 2026 tumbuh 10 persen yoy, mencapai Rp10.117,8 triliun, didorong peningkatan M1 dan uang kuasi.
  • Pertumbuhan M2 dipengaruhi kenaikan tagihan bersih ke Pemerintah Pusat sebesar 22,6 persen serta penyaluran kredit perbankan yang naik 10,2 persen yoy.
  • Dana Pihak Ketiga meningkat 10,8 persen menjadi Rp9.489,1 triliun, sementara Uang Primer (M0) adjusted tumbuh 14,7 persen di tengah tren penurunan suku bunga kredit dan simpanan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times Bank Indonesia (BI) melaporkan likuiditas perekonomian yang tercermin dari uang beredar dalam arti luas (M2) meningkat pada Januari 2026. M2 tumbuh 10,0 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan Desember 2025 sebesar 9,6 persen (yoy), dengan posisi mencapai Rp10.117,8 triliun.

Bank sentral menyebut kenaikan tersebut didorong oleh pertumbuhan komponen uang beredar sempit (M1), uang kuasi, serta peningkatan tagihan bersih kepada pemerintah pusat dan penyaluran kredit perbankan.

1. M2 naik 10 persen, ditopang M1 dan uang kuasi

Secara komponen, M1 tumbuh 14,9 persen (yoy) pada Januari 2026, meningkat dari 14,0 persen (yoy) pada bulan sebelumnya. Nilainya mencapai Rp5.923,3 triliun dengan pangsa 58,5 persen terhadap total M2.

"Peningkatan M1 disebabkan oleh giro rupiah dan uang kartal di luar bank umum dan BPR yang tumbuh masing-masing sebesar 24,9 persen (yoy) dan 14,5 persen (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya masing-masing sebesar 22,3 persen (yoy) dan 14,3 persen (yoy)," tulis BI dalam keterangan resmi, dikutip Senin (23/2/2026).

Tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu tercatat Rp2.543,7 triliun atau tumbuh 7,6 persen (yoy), relatif stabil dibandingkan Desember 2025 sebesar 7,7 persen (yoy).

Sementara itu, uang kuasi mencapai Rp4.148,0 triliun atau tumbuh 5,4 persen (yoy), sedikit melambat dari 5,6 persen (yoy) pada bulan sebelumnya. Perlambatan terutama dipengaruhi kontraksi giro valas sebesar 0,7 persen (yoy), setelah sebelumnya tumbuh 2,1 persen (yoy).

2. Kredit tumbuh 10,2 persen, tagihan ke pemerintah naik

BI menyampaikan faktor utama yang memengaruhi pertumbuhan M2 adalah tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat dan ekspansi kredit. Peningkatan M2 pada Januari 2026 terutama dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus) dan penyaluran kredit.

Tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat tumbuh 22,6 persen (yoy), lebih tinggi dari 13,6 persen (yoy) pada Desember 2025. Penyaluran kredit pada Januari 2026 tercatat Rp8.416,4 triliun atau tumbuh 10,2 persen (yoy), meningkat dari 9,3 persen (yoy) pada bulan sebelumnya. Kredit korporasi tumbuh 15,2 persen (yoy), sementara kredit perorangan meningkat 4,3 persen (yoy).

Berdasarkan jenis penggunaan, Kredit Investasi tumbuh 21,9 persen (yoy), lebih tinggi dari 20,5 persen (yoy) sebelumnya. Kredit Modal Kerja naik 4,8 persen (yoy), sedangkan Kredit Konsumsi tumbuh 7,2 persen (yoy), didorong Kredit Multiguna sebesar 9,9 persen (yoy).

Kredit properti meningkat 14,1 persen (yoy), terutama dari kredit konstruksi yang tumbuh 34,4 persen (yoy). Di sisi lain, kredit kepada UMKM terkontraksi 0,5 persen (yoy), setelah sebelumnya terkontraksi 0,3 persen (yoy).

3. DPK tumbuh 10,8 persen, suku bunga menurun

Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Januari 2026 tercatat Rp9.489,1 triliun atau tumbuh 10,8 persen (yoy), lebih tinggi dari 10,5 persen (yoy) pada Desember 2025.

Pertumbuhan tersebut didorong giro yang naik 19,0 persen (yoy) dan tabungan 8,8 persen (yoy), sementara simpanan berjangka tumbuh 5,7 persen (yoy). DPK korporasi tumbuh 18,2 persen (yoy), sedangkan DPK perorangan meningkat 3,3 persen (yoy).

Pada periode yang sama, rata-rata tertimbang suku bunga kredit tercatat 8,79 persen, turun tipis dari 8,80 persen pada bulan sebelumnya. Suku bunga simpanan berjangka tenor 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan masing-masing turun menjadi 4,20 persen, 4,66 persen, 4,62 persen, dan 4,52 persen.

4. Uang Primer (M0) adjusted tumbuh 14,7 persen

Selain M2, BI melaporkan Uang Primer (M0) adjusted pada Januari 2026 sebesar Rp2.193,0 triliun atau tumbuh 14,7 persen (yoy), melanjutkan pertumbuhan 16,8 persen (yoy) pada bulan sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut dipengaruhi kenaikan giro bank umum di BI adjusted sebesar 30,1 persen (yoy) dan uang kartal yang diedarkan sebesar 12,4 persen (yoy). Perhitungan M0 adjusted telah memperhitungkan dampak pemberian insentif likuiditas dalam kerangka pengendalian moneter.

Data ini menggambarkan perkembangan likuiditas, intermediasi perbankan, serta dinamika suku bunga pada awal 2026 sebagaimana dirilis dalam laporan resmi Bank Indonesia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team