Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
[PUISI] Absolusi Tanpa Saksi
Ilustrasi awan kelabu yang menggambarkan perasaan abu. (unplash.com/MChe Lee)

Pernah kuletakkan hidup di ujung lidah orang-orang
Menanti vonis yang tak kunjung menjadi penawar

Aku karam dalam telaga validasi yang fana
Mengemis pengakuan demi menambal retak di dada

​Dulu, rasa adalah jangkar yang menahan langkahku di lumpur yang sama
Namun kini kusadari, membungkam riuh di luar sana adalah kesia-siaan yang purba

Semakin keras aku menempa pembuktian
Semakin habis aku dimakan ekspektasi yang tak punya tuan

​Kini, kututup jendela dari tatapan yang menuntut
Membiarkan emosi mengalir, tanpa harus takut dicatat sebagai kalut

Sebab kedaulatan bukan tentang berapa mulut yang berhasil kuhentikan
Tapi tentang seberapa tenang jemariku merajut penerimaan

​Aku tak lagi butuh tepuk tangan untuk merasa ada
Cukup dengan mengakui: akulah pemilik tunggal atas segala rasa

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team