Pernah kuletakkan hidup di ujung lidah orang-orang
Menanti vonis yang tak kunjung menjadi penawar
Aku karam dalam telaga validasi yang fana
Mengemis pengakuan demi menambal retak di dada
Dulu, rasa adalah jangkar yang menahan langkahku di lumpur yang sama
Namun kini kusadari, membungkam riuh di luar sana adalah kesia-siaan yang purba
Semakin keras aku menempa pembuktian
Semakin habis aku dimakan ekspektasi yang tak punya tuan
Kini, kututup jendela dari tatapan yang menuntut
Membiarkan emosi mengalir, tanpa harus takut dicatat sebagai kalut
Sebab kedaulatan bukan tentang berapa mulut yang berhasil kuhentikan
Tapi tentang seberapa tenang jemariku merajut penerimaan
Aku tak lagi butuh tepuk tangan untuk merasa ada
Cukup dengan mengakui: akulah pemilik tunggal atas segala rasa
![[PUISI] Absolusi Tanpa Saksi](https://image.idntimes.com/post/20260501/myriam-zilles-zxxevfzhvne-unsplash-1_ed005b91-a35f-4b86-ac1e-9c853f1af6f6.jpg)