Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
[PUISI] Air Mata Terakhir
Ilustrasi menangis (pexels.com/FOERDER ZONE)

Malam kembali datang

Membawa sunyi yang tak asing

Mengisi ruang-ruang kosong

Yang pernah dipenuhi tawa dan harap

Aku pernah jatuh

Pada luka yang tak bersuara

Memeluk kecewa terlalu lama

Hingga lupa bagaimana rasanya bahagia

Hari-hari berjalan lambat

Meninggalkan jejak letih di dada

Banyak hal kupendam sendiri

Banyak tangis kutahan dalam diam

Lalu malam ini

Aku membiarkan semuanya runtuh

Tak ada lagi yang kututupi

Tak ada lagi yang kusembunyikan

Air mata ini jatuh perlahan

Membawa sedih yang lama menetap

Membasuh pilu yang membeku

Melepas beban yang mengikat

Dan mungkin

Ini adalah air mata terakhirku

Bukan karena luka telah tiada

Bukan karena semua telah sempurna

Melainkan karena aku memilih

Untuk berhenti tenggelam dalam duka

Esok, saat mentari datang

Aku ingin menyambutnya dengan langkah baru.

Dengan hati yang masih memiliki bekas

Namun tak lagi takut untuk berjalan

Sebab setelah tangis yang panjang

Selalu ada ruang untuk pulih

Dan setelah malam yang kelam

Fajar tak pernah lupa untuk datang

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team