Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

[PUISI] Membaca Kenangan di Sudut Batavia

[PUISI] Membaca Kenangan di Sudut Batavia
Kota Tua Jakarta (unsplash.com/visual karsa)
Share Article

Di antara deretan dinding putih Fatahillah yang mulai mengelupas,

kita pernah berjalan menyusuri sore yang terasa lepas.

Saat itu, riuh klakson jalanan Jakarta menjelma melodi yang sunyi,

ketika matamu menatap lurus, menjanjikan esok yang abadi.

Kita adalah dua pengembara di bawah langit Jakarta yang tembaga,

mencari arti di antara puing-puing bangunan tua yang hampir sirna.

Aku ingat bagaimana jemarimu menunjuk jendela kayu yang tinggi dan rapuh,

bercerita tentang masa lalu tempat orang-orang meletakkan keluh.

Kamu bilang, sejarah bukan cuma soal angka tahun yang kaku di buku.

melainkan tentang rasa yang tertinggal, yang pernah membeku.

Seketika itu, aku melihat diriku di dalam barisan kalimatmu,

menjadi bagian kecil dari linimasa yang ingin kau tuju.

Namun, waktu adalah sekuritas yang paling gemar berkhianat.

Ia melaju tanpa kompromi, meninggalkan kita yang terlambat.

Langkah kaki yang dulu beriringan di atas tegel batu, perlahan kehilangan ritme,

terseret oleh kesibukan kota, ego, dan ambisi yang menjelma rezim.

Kita tak lagi berdiskusi tentang sudut Batavia yang romantis,

hanya menyisakan pesan-pesan singkat yang terasa makin dingin dan praktis.

Sekarang, aku kembali berdiri di dekat stasiun tua, sendirian.

Melihat kereta komuter melintas cepat, membawa tumpukan angan.

Kota ini masih menyimpan wangi kopi dan rintik hujan yang kau sukai,

tapi bangku di depan gedung tua tempat kita berbagi cerita kini telah sepi.

Kamu telah menjadi bagian dari masa lalu yang mapan di ingatan,

sebuah bab berharga dalam hidupku yang tak akan pernah ada kelanjutan.

Biar kukemas rindu ini dalam bait-bait yang barangkali tak kau baca.

Menatap lampu-lampu jalan yang mulai menyala satu per satu di ufuk jingga.

Sebab melepaskanmu ternyata sama seperti merawat bangunan tua,

ia butuh ketabahan untuk menerima bahwa beberapa hal memang indah justru ketika mereka dibiarkan menua dan selesai bersama sejarah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You

[PUISI] Menyembuhkan Diri

10 Mei 2026, 15:25 WIBFiction
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya

Related Articles

See More
[PUISI] Berhenti Memaksa

[PUISI] Berhenti Memaksa

11 Jul 2026, 21:07 WIBFiction
[PUISI] Sang Fakir

[PUISI] Sang Fakir

11 Jul 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Sampai di Hari Ini

[PUISI] Sampai di Hari Ini

10 Jul 2026, 21:07 WIBFiction
[PUISI] Air Mata Terakhir

[PUISI] Air Mata Terakhir

10 Jul 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Kabar Mereka

[PUISI] Kabar Mereka

09 Jul 2026, 21:07 WIBFiction
[PUISI] Tanpa Jiwa

[PUISI] Tanpa Jiwa

09 Jul 2026, 17:38 WIBFiction
[PUISI] Laskar Matahari

[PUISI] Laskar Matahari

09 Jul 2026, 05:25 WIBFiction