Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
[PUISI] Anila Sore dan Rahasia yang Menguap
ilustrasi gambar siluet perempuan (commons.wikimedia.org/Shitadevi)

Sore meremang, aroma kopi berkelindan dengan rintik hujan,
Membasuh Bumi, menghidupkan pendar mimpi yang kian lamat.
Di sini, aku merangkul hening yang kian tajam,
Mengeja kembali detak hidup yang tengah kujalani dalam diam.

Ada riuh imaji yang saling beradu dalam senyap,
Lalu perlahan luruh, menguap bersama kepulan asap.
Hidup memang teka-teki yang tak habis dikupas,
Kadang menyeret kita ke persimpangan jalan yang terasa asing dan luas.

Bak narasi yang disusun Semesta, ada kejutan yang melampaui logika,
Sesuatu yang sering kali luput dari jangkauan nalar manusia.
Namun, jalan sunyi ini bukanlah jalan yang mati,
Melainkan ruang untuk jeda, merasai setiap rona yang hadir di hati.

Biarlah misteri tetap menjadi rahasia yang terkunci,
Meski langkah seringkali tertahan, tak mampu lagi menepi.
Sebab dalam sunyi yang paling dalam, kita akhirnya menyadari,
Ada begitu banyak hal kecil yang layak untuk disyukuri.

Hingga pada akhirnya, biarlah waktu yang menjadi saksi,
Tentang langkah-langkah kecil yang bertahan di tengah badai dan sanksi.
Bahwa bahagia bukan tentang jalan yang selalu lapang dan terang,
Namun tentang hati yang tetap tenang saat malam mulai menjelang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎