Sore meremang, aroma kopi berkelindan dengan rintik hujan,
Membasuh Bumi, menghidupkan pendar mimpi yang kian lamat.
Di sini, aku merangkul hening yang kian tajam,
Mengeja kembali detak hidup yang tengah kujalani dalam diam.
Ada riuh imaji yang saling beradu dalam senyap,
Lalu perlahan luruh, menguap bersama kepulan asap.
Hidup memang teka-teki yang tak habis dikupas,
Kadang menyeret kita ke persimpangan jalan yang terasa asing dan luas.
Bak narasi yang disusun Semesta, ada kejutan yang melampaui logika,
Sesuatu yang sering kali luput dari jangkauan nalar manusia.
Namun, jalan sunyi ini bukanlah jalan yang mati,
Melainkan ruang untuk jeda, merasai setiap rona yang hadir di hati.
Biarlah misteri tetap menjadi rahasia yang terkunci,
Meski langkah seringkali tertahan, tak mampu lagi menepi.
Sebab dalam sunyi yang paling dalam, kita akhirnya menyadari,
Ada begitu banyak hal kecil yang layak untuk disyukuri.
Hingga pada akhirnya, biarlah waktu yang menjadi saksi,
Tentang langkah-langkah kecil yang bertahan di tengah badai dan sanksi.
Bahwa bahagia bukan tentang jalan yang selalu lapang dan terang,
Namun tentang hati yang tetap tenang saat malam mulai menjelang.
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Anila Sore dan Rahasia yang Menguap
![[PUISI] Anila Sore dan Rahasia yang Menguap](https://image.idntimes.com/post/20260501/1001439347_166a8efd-fc8a-4159-ab69-2f52e04b41f7.jpg)
ilustrasi gambar siluet perempuan (commons.wikimedia.org/Shitadevi)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Curated For You
- [PUISI] Suara yang Lebih Keras dari Senjata30 Apr 2026, 05:04 WIB
- [PUISI] Peluh yang Bersemi04 Mei 2026, 05:04 WIB
Editorial Team
EditorYudha
Related Article
[PUISI] Mengeja Ulang Langkah15 Agu 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Biar Takdir Membawaku Jauh15 Agu 2026, 05:04 WIB
[Puisi] Yang Tersisa Setelah Segalanya14 Agu 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Patah-Patah Napas14 Agu 2026, 20:27 WIB
[PUISI] Pulang Kepada Diriku yang Sederhana14 Agu 2026, 07:07 WIB
[PUISI] Barangkali Memang Bukan Kita14 Agu 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Dewi Kebahagiaan13 Agu 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Jangan Rusak Alam Ini13 Agu 2026, 20:27 WIB
[PUISI] Hujan yang Jatuh di Kota Asing13 Agu 2026, 12:07 WIB
[PUISI] Kereta Pulang13 Agu 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Mengalunkan Nada Dalam Sunyi13 Agu 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Terpikat Kilau Semesta12 Agu 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Merayakan Sayap-Sayap Patah12 Agu 2026, 20:27 WIB
[PUISI] Sajak Tentang Dirimu12 Agu 2026, 19:48 WIB
[PUISI] Menjahit Sunyi di Hulu Usia12 Agu 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Anak Terbalut Luka12 Agu 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Berlabuh di Pulau Berbeda11 Agu 2026, 21:17 WIB
[PUISI] Bintang yang Bersinar Sendiri11 Agu 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Tempat Pulang di Dunia11 Agu 2026, 17:07 WIB
[PUISI] Pertanyaan yang Tak Pernah Pergi11 Agu 2026, 05:25 WIB