Dulu, kaulah yang menyulut sapa
Memupuk satu per satu bara
Bersusah pertahankan nyala
Demi hati berkobar sempurna
Namun saat relung membalas damba
Lakumu malah sinari seluruh gulita
Buatku tersesat di labirin tanya
Tentang apa aku masih teristimewa
Puncaknya, ruangku mulai temaram
Sebab rentang kian memanjang
Ingin berhenti masih remang
Ingin menanti takut bayanganku pun hilang
Maka, kutulis kita di keranda rasa
Biarlah rindu menjelma abu
Lalu kenangan serupa jelaga
Dan aku terbiasa tanpa kilaumu
![[PUISI] Berhenti Saat Remang](https://image.idntimes.com/post/20260916/pexels-photo-13869715_b5da5449-eff8-4a5f-a6eb-1b71bbe9ea5a.jpeg)