Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
[PUISI] Berhenti Saat Remang
ilustrasi wanita yang duduk di ruangan remang (Pexels.com/Matheus Bertelli)

Dulu, kaulah yang menyulut sapa

Memupuk satu per satu bara

Bersusah pertahankan nyala

Demi hati berkobar sempurna

Namun saat relung membalas damba

Lakumu malah sinari seluruh gulita

Buatku tersesat di labirin tanya

Tentang apa aku masih teristimewa

Puncaknya, ruangku mulai temaram

Sebab rentang kian memanjang

Ingin berhenti masih remang

Ingin menanti takut bayanganku pun hilang

Maka, kutulis kita di keranda rasa

Biarlah rindu menjelma abu

Lalu kenangan serupa jelaga

Dan aku terbiasa tanpa kilaumu

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team