Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

[PUISI] Seandainya

1 min read
[PUISI] Seandainya
ilustrasi seorang wanita yang sedih (pexels/@Sam Pineda)
  • Puisi mengenang cinta masa muda saat dua remaja berseragam putih biru belum memahami beratnya dunia, tetapi sudah terbiasa menunggu pesan dari satu nama.
  • Tokoh aku menggambarkan ketakutan kehilangan sebelum memahami cara bertahan dalam hidup; ketika dewasa, mereka justru benar-benar berpisah.
  • Perpisahan terjadi karena dianggap terlalu muda, membawa keduanya tumbuh di dua sisi lautan dan menyisakan pertanyaan tentang kemungkinan jika dulu memilih berani.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jatuh cinta saat muda itu lucu, ya
Dulu, kita hanya dua anak dengan seragam putih biru
Kita belum memahami beratnya dunia,
tapi sudah pandai menunggu satu nama muncul di layar

Jatuh cinta saat muda itu lucu, ya
Kita belum tahu cara bertahan di kehidupan,
tapi sudah takut kehilangan
Sekarang kita sudah paham kejamnya dunia,
malah benar-benar kehilangan

Jatuh cinta saat muda itu lucu, ya
Sayang, kata orang kita terlalu kecil saat itu
Jadi aku melepasmu walau aku belum benar-benar ingin pergi
Sejak saat itu, kita sibuk berjalan sendiri,
hingga akhirnya tumbuh di dua sisi lautan

Jatuh cinta saat muda itu lucu, ya
Tapi aneh, kadang ia terasa begitu menyakitkan
Sebab sesekali di sepertiga malam, aku masih kerap bertanya
Kalau saat itu aku memilih berani
Akankah kita masih saling menunggu?

    This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
    Share Article

    Curated For You

    Editorial Team