Aku mengenalmu sebelum sapa
Nama kuhafal di luar kepala
Dialog kurangkai kata per kata
Menanti berani bertatap muka

Lalu, temu pun akhirnya menjelma
Jadi bersiap kuselaraskan rima
Sialnya, penaku sibuk terkesima
Dan baitku malah terbata

Kukira, takkan ada lagi sua
Sampai kau datang ungkapkan rasa
Katamu, kita satu bahasa
Padahal, aku memang sengaja

Lagi pula kaulah mahakarya
Dan aku bukanlah satu-satunya pemuja
Jika ingin kau sudi membaca
Bukankah paragraf harus sesuai selera?