Retakan yang diam dan serpihan datang
Dinding rumah menyimpan napas masa lalu
Getar tawa yang dulu memenuhi ruang
Kini hanya menjadi angin yang berlalu

Kadang, di malam paling sunyi
Ia selalu membisikkan sendiri
Tentang lampu redup dan meja kayu
Tentang kehangatan yang kini hanya tinggal debu

Dinding rumah itu tidak pernah menangis
Dinding rumah itu tidak juga meringis
Dia berbicara lembut dan berdiri
Dengan berkata bahwa rindu punya cara sendiri

Kini, dinding rumah tak pernah lagi sepenuhnya diam
Dia hanya ingin menyembunyikan kisah
Kelak di masa depan, kamu hanya bergumam
Sambil mendengarkan bisikan dinding rumah