Kubanting pintu pada kenangan yang terus merengek
Memutus rantai yang bikin leherku terasa tercekik
Dulu aku penimbun duka, penyimpan sesak paling setia
Namun, hari ini, semua sampah itu kubakar habis tanpa sisa

Tak perlu lagi menyesali diri yang pernah babak belur
Saatnya berdiri, menegakkan dada, dan biarkan trauma terkubur
Dunia tidak kiamat hanya karena aku pernah patah
Dari remah-remah ini, aku bangun rumah yang lebih megah

Aku tidak lagi menunggu izin untuk merasa bahagia
Atau menanti sembuh total baru berani tertawa
Cukup sedih-sedihnya, masanya sudah lewat
Sekarang waktunya melesat dengan jiwa yang kian kuat