Maghrib hampir lewat seperempat jam
Kaki masih betah bersila sambil menikmati hidangan
Di bawah atap wisma yang masih asing baginya
Sebab hanya setahun sekali dikunjunginya
 
“Ayo segera pulang”
Cemas pun berkelahi dengan perasaannya
Hingga akhirnya terhenti di rumah Tuhan
Dekat sawah dan jalan

Siapa sangka
Terdengar suara gemericik air terdengar dari tempat wudhu pria
Ternyata ia sosok imam yang dirindu suaranya
Disusul sang nyonya di belakangnya

“Allahu Akbar”

Getarkan rungu serta kalbu sang nona
Hingga dibuatnya air mata menetes tak terkira
Sebab siapa sangka ia akan jadi makmumnya?
Setelah merindu dua windu lamanya

Terima kasih, Tuan
Kun fayakun-Mu nyata adanya
Hanya saja kami hamba pembangkang
Tak sabar menanti ucap-Mu “Iya sekarang”