Kau tumbuh tanpa ketukan
di kamar yang tak pernah kusiapkan.
Menyelinap di sela sunyi yang kukira rapat
seperti musim yang melompati pagar kalender,
meretakkan rumah yang dulu kuanggap suci.
Aku bertahan sampai lutut ragaku gemetar,
seperti tanah bodoh memeluk batu panas
dan menyebutnya akar.
Lalu kesabaran remuk di tulang rahang.
Kau dicabut.
Dan sekarang
aku tinggal dengan ruang yang terus mengingat
bukan derita yang menjerit,
tapi ketiadaan yang sedang belajar memahat
wajahnya menyerupai rindu.
Di situlah aku tahu....
tak semua yang tumbuh adalah berkah,
dan tak semua yang pernah melekat di tulang
pantas kusebut pulang.
![[PUISI] Gigi Bungsu](https://image.idntimes.com/post/20260610/ozkan-guner-lfbjq7lf_qa-unsplash_10e7baec-d8a8-474c-b072-4c6f814dede8.jpg)