Seraya beradu,
diam,
kesakitan,
tanpa kata.
Merintih,
menanyakan kepada semesta,
bagaimana mungkin pulih
dari luka yang terus dipaksa terbuka.
Daun-daun berguguran,
air hujan tak lagi tertampung,
hutan t'lah menjadi abu,
tanah tak kuasa menopang dan kering kerontang.
Penglihatan pun perlahan kabur
karena udara yang semakin pekat,
hingga yang tersisa
Hanyalah pandangan yang samar.
Mau sampai kapan
dirusak,
dihancurkan,
dirampas,
lalu dipaksa pulih,
seolah ia mampu menyembuhkan lukanya sendiri?
Jika ia bisa berbicara,
maka ia hanya akan berkata lirih,
"Kami lelah,
sudah cukup,
jangan rusak alam ini."
![[PUISI] Jangan Rusak Alam Ini](https://image.idntimes.com/post/20260811/1000853014_c1eef3f7-f5f9-4337-91d6-c6ea8d4f53f9.jpg)