Begitu getirnya
sunyi meraba luka-luka
belum sempat mengering
di balik pekat yang mencengkeram itu
aku ingin berterima kasih.
Terima kasih atas segala fitnah
yang tersemat, dipakukan erat-erat,
menjadi jubah prasangka
di punggung biruku.
Kutitipkan perih ini pada tubuh bisikan
mengembara tanpa lelah
mengetuk tiap tembok
ke mana-mana mencari cinta.
Biarlah desas-desus terbang bersama angin
sebab di ujung malam paling sepi,
aku tahu ke mana hati ini harus pulang.
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Jubah Prasangka
![[PUISI] Jubah Prasangka](https://image.idntimes.com/post/20260523/pexels-fernando-cortes-128710335-10068861_9719641f-80cd-4bf4-921b-84f3c21d256d.jpg)
ilustrasi jubah (pexels.com/Fernando Cortés)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editorial Team
EditorYudha