Aku pulang saat senja mulai menurunkan cahaya
Menyusuri jalan lama yang pernah terasa begitu akrab adanya
Langkah demi langkah membawaku pada halaman yang sama
Namun, entah mengapa, semuanya terasa berbeda
Pohon tua masih berdiri menjaga sudut rumah
Seolah setia menyimpan cerita yang pernah singgah
Dinding-dinding itu tetap kokoh seperti dulu kala
Tetapi kehangatan yang kukenal tak lagi sepenuhnya ada
Satu kursi di meja makan masih berada di tempatnya
Diam memandangi ruang yang kehilangan pemilik cerita
Jam dinding berdetak lebih nyaring dari biasanya
Mengisi sunyi yang kini menjadi penghuni setia
Aku menyadari bahwa waktu tak pernah benar-benar menunggu
Membawa pergi sebagian tawa yang dulu tumbuh
Rumah ini tetap menjadi tempatku untuk kembali berteduh
Namun, tak lagi sama seperti yang kukenal dahulu
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Kursi yang Tak Lagi Terisi
![[PUISI] Kursi yang Tak Lagi Terisi](https://image.idntimes.com/post/20260614/pexels-mart-production-7699492_134f26da-fdfc-4a4d-a005-727bd112103e.jpg)
ilustrasi seseorang duduk di kursi sendirian dan kesepian (pexels.com/MART PRODUCTION)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editorial Team
EditorYudha