Ramadan menyalakan lentera kecil
Bukan di langit, tapi di dada
Cahayanya tidak menyilaukan
Namun cukup menuntun langkah
Lapar menjadi guru yang sabar
Mengajarkan arti cukup
Haus menyentuh tenggorokan
Agar doa terasa utuh
Siang berjalan perlahan
Seperti tasbih yang dihitung sunyi
Setiap detik menajamkan niat
Menempa hati yang goyah
Saat azan mekar di udara
Lentera itu makin terang
Keteguhan tak lagi kata-kata
Melainkan cahaya yang tinggal
![[PUISI] Lentera di Dalam Dada](https://image.idntimes.com/post/20251024/pexels-aqtai-2233416_5dfc82cb-4b85-4c61-9c4f-d129d9425fb8.jpg)