Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
[PUISI] Mengaku Pengecut pada Waktu
Kawanan burung terbang pulang menyongsong petang di bawah langit senja yang kian meredup. (pexels.com/Denis Larzul)
  • Puisi menggambarkan senja, burung yang pulang ke sarang, serta langit gelap sebagai latar perenungan tentang perjalanan waktu.
  • Kegelapan digambarkan melumpuhkan jiwa yang lebam, sementara hati yang benderang mampu membaca sunyi dan menghadapi keadaan.
  • Aku lirik mengakui rasa pengecut terhadap waktu, meski menyadari waktu mengendalikan segala hal dan ketakutan terus hadir.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

sore berkumandang di pelupuk jingga
kawanan burung beterbangan
rendah, menuju sarang
hanya mereka yang paham jalan pulang

padamlah cahaya
fana kian nyata
langit diselimuti noda hitam
yang tak luntur dengan cacian

bagi jiwa yang lebam
kegelapan membuat mereka bertekuk lutut
bagi hati yang benderang
panggung tepat membaca sunyi

perlahan,
dinding-dinding pekat itu
mulai terkoyak
digerogoti cahaya

lantas kenapa aku begitu pengecut?
meski tahu semua di kendali waktu
seolah tak pernah melipir,
semua rasa takut

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team