Langit sore menggantung muram
di atas jalan yang mulai asing,
sementara angin berhembus pelan
membawa sisa kenangan yang belum sempat pergi.
Aku berdiri di antara kenangan dan waktu
yang diam-diam berubah menjadi sepi,
mencari sesuatu yang dulu terasa utuh
namun kini jatuh begitu dalam tanpa suara.
Musim datang dan pergi seperti biasa,
tetapi tidak dengan rasa di hatiku
yang masih tertinggal pada beberapa nama,
pada tawa yang kini hanya menjadi gema.
Hujan turun tanpa benar-benar menenangkan,
malam pun gagal membuatku lupa.
Semua terasa berjalan ke arah berbeda,
seolah dunia kehilangan arah jalannya.
Dan aku—
masih menjadi seseorang
yang setia berjalan perlahan di tengah musim
yang kehilangan arah.
![[PUISI] Musim yang Kehilangan Arah](https://image.idntimes.com/post/20260528/pexels-kwnos-iv-250460536-14546335_cd37be1c-893d-4864-ba06-d3cb792b121c.jpg)