Malamku enggan melabuhkan tirai selayaknya insan yang lain,
Aku masih terjebak dalam gaduhnya keheningan yang berpendar.
Entah bagaimana cara meredupkan netra,
Tatkala angan terus berkelana dalam kontemplasi yang tak kunjung usai.
Aku berada di titik pergulatan sunyi nan lara,
Mengeja setiap beban yang kian menghunjam pundak.
Meniti hikmah dari tiap langkah yang sempat tersungkur,
Aku hanyalah jiwa yang renik di hadapan bentang waktu yang mahaluas.
Bahkan untuk memaknai satu noktah kehidupan pun, aku tak berdaya.
Menjadi pengelana yang mencari muara makna,
Tentang hakikat fana di jagat raya.
Kegelisahan itu terus menghantui tiap jengkal lelapku,
Membuatku senantiasa waspada akan rahasia sang kala.
Membayang mungkinkah masa kepulangan kian merapat di ambang mata,
Sebab aku sadar, bekal yang kupunya hanyalah sezarah debu,
Hingga malamku tak pernah benar-benar tenang untuk menutup buku.
![[PUISI] Pendar Noktah Jiwa Renik](https://image.idntimes.com/post/20260401/aron-visuals-bxoxnq26b7o-unsplash_49aa05c0-b88e-47e5-bbb0-fd5d166c68f0.jpg)