Ada malam ketika satu pertanyaan selalu lebih dulu mengetuk
“Mengapa mereka memilih pergi?”
Lalu ia duduk diam, seolah tak pernah ingin pergi
Ada hari-hari ketika aku berhasil berdamai
Membiarkan mereka menjadi bagian dari musim yang telah lewat
Namun ada pula malam
Saat pertanyaan itu kembali singgah di kepalaku
Kucari jawabannya di antara serpihan ingatan
Pada percakapan yang pernah kita sisakan
Pada diam yang tak pernah kupahami
Namun yang kembali hanya gema suaraku sendiri
Aku masih mengingat malam-malam itu
Ketika tangis pecah tanpa sempat kutahan
Dan kamar menjadi satu-satunya saksi
Betapa getirnya kehilangan kutelan seorang diri
Kadang kubayangkan
Jika suatu hari mereka kembali mengetuk pintuku
Akan kubiarkan mereka menunggu selama aku pernah menunggu
Namun rupanya, aku hanya bagian dari kisah
Yang telah lebih dulu mereka tamatkan
Mungkin luka ini belum benar-benar sembuh
Namun semoga suatu hari nanti
Pertanyaan itu tak lagi mengetuk kepalaku
Dan aku mampu memeluk diriku sendiri
Tanpa perlu menghukum diri atas kepergian yang bukan salahku
![[PUISI] Pertanyaan yang Tak Pernah Pergi](https://image.idntimes.com/post/20260730/pexels-jie-he-449340637-16125544_6ca12f64-be30-4e9e-a4f6-d1d1b7a1febb.jpg)