Aku mengetuk pintu yang sama
Dengan keyakinan yang terus menipis
Mengira di balik sunyi
Ada jawaban yang sengaja ditunda

Ternyata bukan pintunya yang tertutup
Aku hanya salah membaca alamat
Harapan memang tak pernah menjanjikan apa-apa
Akulah yang menyebut penolakan sebagai penundaan

Kini, aku berhenti menunggu
Bukan karena tak lagi percaya
Hanya mulai mengerti satu hal
Tak semua pintu ditakdirkan untuk terbuka