Bunyi alarm subuh ketukan paling karib di telinga,
memaksa kelopak mata terbuka sebelum kantuk benar-benar reda.
Kita melangkah terburu-buru menembus dingin dan macetnya jalanan,
membawa raga yang belum sepenuhnya utuh dari kelelahan.
Di depan layar persegi yang menyala sepanjang hari,
kita menukar waktu, tawa, dan kewarasan dengan angka-angka kompromi.
Tenggat waktu berkejaran seperti singa yang siap menerkam,
membuat kepala bising, bahkan saat dunia luar sudah sunyi dan kelam.
Ada lelah yang tak bisa sembuh hanya dengan tidur semalam,
ia mengendap di sela punggung, menjelma cemas yang mendalam.
Kadang di antara ketikan kibor dan tumpukan berkas yang menjemukan,
kita bertanya pada diri sendiri: apakah ini hidup yang dulu kita impikan?
Namun, kaki ini harus tetap tegak berdiri menantang hari,
sebab ada dapur yang harus mengepul dan mimpi yang mesti dibeli.
Kita hanya manusia biasa, bukan mesin yang tak bisa patah,
maka malam ini, biarkan aku merebahkan lelah, tanpa perlu merasa bersalah.
![[PUISI] Sajak Presensi dan Hati yang Sangsi](https://image.idntimes.com/post/20260124/pexels-rdne-7888726_20c78580-c6fd-49f1-97ab-90132f1bb777.jpg)