Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
[PUISI] Sebuah Akhir yang Menyakitkan
ilustrasi pria yang merasa kecewa (pexels.com/Andrew Neel)
  • Puisi menggambarkan seseorang yang menyimpan harapan dan doa untuk hubungan, tanpa menyadari pasangannya telah menutup diri.
  • Perubahan terasa melalui jeda percakapan yang makin panjang, hingga sebuah kalimat menghancurkan keyakinan yang dibangun diam-diam.
  • Tokoh aku memilih tidak memaksa kepergian, tetapi masih sulit menerima kenyataan saat dirinya tertinggal sementara pasangan telah beranjak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kusimpan namamu di antara doa
Pada musim yang belum sempat tiba
Kubiarkan esok tumbuh dengan harapan
Tanpa tahu kau telah menutup jendela

Ada yang berubah di sela percakapan
Jeda memanjang tanpa rasa bertumbuh
Kukira lelah hanya singgah sebentar
Rupanya hati telah memalingkan wajahnya

Kini sebuah kalimat meruntuhkan segalanya
Yang kubangun diam-diam dengan keyakinan
Betapa jauh dua hati dapat berjalan
Meski satu masih menggenggam tujuan

Tak akan kupaksa senja menetap
Atau meminta laut mengembalikan ombak
Hanya saja sulit menerima kenyataan
Bahwa aku masih di sini saat kau telah beranjak

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team