Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

[PUISI] Menjadi Dewasa dan Kuburan Asa di Kepala

1 min read
[PUISI] Menjadi Dewasa dan Kuburan Asa di Kepala
ilustrasi pria (unsplash.com/Elimende Inagella)

Dulu kita meminjam keberanian dari langit,
Melukis hari esok tanpa pernah takut jatuh.
Namun waktu perlahan menggunting sayap kita,
Menyisakan sepasang kaki yang dipaksa terus patuh.

Kini ada sepetak tanah sunyi di rongga kepala,
Tempat kita memakamkan angan yang gagal tumbuh.
Ia menjelma deretan nisan tanpa nama,
Yang diam-diam kita ziarahi saat malam mulai luruh.

Orang-orang melihat kita sebagai wujud yang utuh,
Berjalan tegap menembus hari yang kian menyusut.
Padahal di balik dada yang terlihat begitu kukuh,
Ada anak kecil yang sendirian memeluk lutut.

Lalu aku bertanya
Jika menjadi dewasa hanyalah merawat nisan di kepala,
Untuk apa dulu kita diajarkan merakit asa,
Bila pada akhirnya menyerah adalah satu-satunya cara?

    This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
    Share Article
    Editorial Team

    Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel