Pagi itu, di bawah satu atap yang sama
Kita berbagi semangkuk bubur ayam
Kata orang, rasanya yang terbaik di kota ini
Bagiku yang menghangatkan bukan semata buburnya
Kita saling bertukar cerita sehabis lelah berlari
Kau pandai membuat pagi bernapas lebih pelan
Hingga semangkuk bubur ayam itu
Terasa lebih hangat daripada biasanya
Diam-diam aku berdoa
Agar waktu singkat itu lupa cara berakhir
Diam-diam aku berharap
Pagi terus tinggal di meja yang sama
Namun, perlahan kau menjadi nama yang tak lagi kutemui
Seolah pagi itu tak pernah ada
Sejak itu, sunyi lebih sering menemaniku
Lalu kudengar kursi di sampingmu telah terisi
Pertanyaan itu tak kunjung pergi dari kepalaku
Kukira waktu masih menyisakan satu kesempatan
Barangkali masa lalu masih tinggal lebih lama daripada maafku
![[PUISI] Semangkuk Pagi](https://image.idntimes.com/post/20260719/pexels-concentration-5820105_b2079ed6-d552-40ea-8c56-2f8dd340c4d0.jpg)