Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
[PUISI] Semangkuk Pagi
ilustrasi semangkuk bubur (pexels.com/Calvin)

Pagi itu, di bawah satu atap yang sama

Kita berbagi semangkuk bubur ayam

Kata orang, rasanya yang terbaik di kota ini

Bagiku yang menghangatkan bukan semata buburnya

 

Kita saling bertukar cerita sehabis lelah berlari

Kau pandai membuat pagi bernapas lebih pelan

Hingga semangkuk bubur ayam itu

Terasa lebih hangat daripada biasanya

 

Diam-diam aku berdoa

Agar waktu singkat itu lupa cara berakhir

Diam-diam aku berharap

Pagi terus tinggal di meja yang sama

 

Namun, perlahan kau menjadi nama yang tak lagi kutemui

Seolah pagi itu tak pernah ada

Sejak itu, sunyi lebih sering menemaniku

Lalu kudengar kursi di sampingmu telah terisi

 

Pertanyaan itu tak kunjung pergi dari kepalaku

Kukira waktu masih menyisakan satu kesempatan

Barangkali masa lalu masih tinggal lebih lama daripada maafku

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team