Sore jatuh seperti kenangan,
jingga yang selalu datang, meski tak pernah benar-benar diminta.
Kita duduk di ambang senja,
dengan mata lelah,
memutar hal yang sama.
Sementara, Sore dalam kisah lain
adalah seorang istri yang
berkali-kali memutar harinya
untuk menyelamatkan suami
dari mati muda.
Mungkinkah kau ingat Erased?
Tentang anak yang terjebak dalam luka lama,
mencoba mengubah takdir dengan mengulang hidup,
tetapi yang mati tetap mati,
yang hilang tetap hilang.
Mungkinkah kau ingat pula dengan Tokyo Revengers?
Tentang pria dewasa yang kembali menjadi bocah,
berlari, berkelahi, terluka,
demi menyelamatkan cinta yang terulang,
selalu dengan cara yang berbeda,
tetapi hasilnya nyaris serupa.
Begitulah kita,
manusia di lingkaran waktu.
Berpagi dengan semangat yang dikira baru,
padahal hanya sisa semalam yang belum tuntas.
Berulang kali jatuh cinta pada harapan,
meski tahu, akhirnya bisa jadi sama: kecewa.
Lingkaran ini tak punya ujung,
hanya repetisi dalam wajah yang berubah.
Seperti kota yang tampak selalu sibuk,
tetapi menyimpan sepi di antara langkah-langkah cepat.
Seperti kita,
terlihat hidup,
tetapi sering lupa untuk benar-benar merasa.
Mungkin waktu itu tidak linear.
Mungkin kita tidak benar-benar berjalan ke depan.
Mungkin yang kita lalui hanyalah spiral,
naik sedikit, turun lagi,
berputar di tempat yang—walau berbeda musim—
aromanya tetap sama.
Dan sore pun jatuh lagi,
membasuh kita yang diam-diam letih
menjadi manusia yang—sekali lagi—
berharap esok tak seperti kemarin.
Walau jauh di dalam hati,
kita tahu: kita masih di sini.
Di lingkaran waktu yang tak pernah selesai.
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Sore dan Sebagian dari Kita yang Berada di Lingkaran Waktu
![[PUISI] Sore dan Sebagian dari Kita yang Berada di Lingkaran Waktu](https://image.idntimes.com/post/20250808/timeloop_fc1c142e-23dc-4495-a74a-33c488613300.jpg)
ilustrasi lingkaran waktu (unsplash.com/Jon Tyson)
Take a Deeper Read
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Curated For You
- Dipa Andika Bongkar Soal Perizinan dan Produksi Operasi Pesta Copet di Pestapora04 Sep 2026, 08:59 WIB
- [PUISI] Tatapan pada Langit06 Aug 2025, 05:04 WIB
- Mengendus Harumnya Bisnis Nilam Indonesia yang Terbang ke Luar Negeri03 Oct 2026, 10:00 WIB
- [PUISI] Manusia Tanpa Empati07 Aug 2025, 05:04 WIB
Editorial Team
EditorYudha
Related Article
[PUISI] Barangkali Menyerah Juga Bentuk Keberanian16 Oct 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Terlalu Banyak16 Oct 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Tentang Hari Esok yang Belum Tiba15 Oct 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Mimpi dengan Alur yang Padat15 Oct 2026, 20:17 WIB
[PUISI] Aku Hanyalah Rapuh yang Terpendam15 Oct 2026, 09:07 WIB
[PUISI] Napas Kecil di Tengah Asap15 Oct 2026, 07:25 WIB
[PUISI] Telanjur Berharap pada Hal yang Samar15 Oct 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Bahagia Sebesar Remah Roti14 Oct 2026, 22:22 WIB
[PUISI] Ketika Takdir Menghunuskan Lara14 Oct 2026, 21:17 WIB
[PUISI] Jika Awan Sudi14 Oct 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Setelah Lelah, Apa yang Tersisa?14 Oct 2026, 17:57 WIB
[PUISI] Rumah Bernama Ibu 14 Oct 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Mengira Singgah sebagai Rumah14 Oct 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Sebelum Senja Benar-benar Pergi13 Oct 2026, 21:27 WIB
[PUISI] Debu Diatas Kelopak13 Oct 2026, 21:17 WIB
[PUISI] Pesona Bentala Memahat Pemikat Nirwana13 Oct 2026, 10:07 WIB
[PUISI] Suara dari Sudut Kota yang Lupa 13 Oct 2026, 09:25 WIB
[PUISI] Jadilah Lampu Jalan13 Oct 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Tarian Indah dalam Bayangan Diri12 Oct 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Ada Lelah yang Tak Pandai Bersuara12 Oct 2026, 16:47 WIB