Di setiap penghujung senja
Aku belajar dari sebidang ladang
Dari hijau yang perlahan berganti keemasan
Hingga akhirnya merunduk ketika waktunya telah tiba
Kerbau masih menorehkan jejak
Di tanah yang tak pernah pandai mengingat nama
Sementara gemericik air
Tetap menemukan jalannya tuk menemani
Sebab embun tak pernah berkata cukup
Sebagai pasukan penumbuh kehidupan
Di sanalah sumur
Yang tetap tegak walaupun berumur
Ia tak mengenal kemarau ataupun hujan
Yang takdirnya terus menerus terkubur dalam lumpur
Seakan tahu bahwa akar tak pandai mencari air sendirian
Mungkin begitulah bentuk kebaikan
Tak haus berdiri agar dipuji
Cukup menjadi dirinya sendiri
Yang diam-diam menghidupi
Ia yang memilih hilang di dalam gelapnya tanah
Namun kekal hidup di setiap bulir yang menguning
Dan di setiap kenyang yang tak pernah tahu
Dari Dia yang lebih dahulu mengorbankan hausnya
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Tentang Air Sumur yang Tak Meminta Nama
![[PUISI] Tentang Air Sumur yang Tak Meminta Nama](https://image.idntimes.com/post/20260628/pexels-mrborys-7986066_781b114c-cf46-41f9-b1d9-bddda8dfe162.jpg)
ilustrasi sumur (pexels.com/Borys Zaitsev)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editor’s Picks
Editorial Team
EditorYudha