[CERPEN] Hari yang Baik Setelah Berpisah

Aku bangun tepat waktu, dan cahaya matahari hangat menerpa wajahku. Sarapan favorit dimasak Ibu. Kakiku melangkah tanpa ragu. Ke jalanan yang telah penuh, jalanan yang tampak baru. Kudengar beberapa lagu dari penyuara telinga, dan seekor kucing gemuk bermain riang di depan warung sate. Ini hari yang sempurna, hari yang baik, tapi kita tahu, kita sudah berpisah.
Seperti cerita yang lalu-lalu. Kita sama-sama pernah mencoba membuka halaman kembali. Mengisinya dengan catatan-catatan paling berkesan. Menulis ulang, katamu. Ya, menulis ulang, kataku. Tapi akhirnya tetap sama. Tidak berubah. Dan itu tidak apa-apa.
Saat sedang menunggu bus, kulihat seorang anak perempuan berlari-lari, lalu terjatuh, tapi tidak menangis. Ibunya terlihat cemas, tapi berhasil tidak membantunya kembali berdiri. Anak perempuan itu berdiri sendiri. Bus datang saat aku merasa sangat siap untuk berdesakan, tapi kabar baik, tidak banyak penumpang kali ini. Aku duduk dengan tenang, menatap jendela. Pantulan cahaya sesekali membuatku menyipitkan mata. Aku membuka kamera ponsel dan memotret apa saja. Gambarnya kabur, tapi aku tetap suka. Ini hari yang indah, hari yang sangat baik, dan kita, kita sudah berpisah.
Aku mengingat pertemuan kita kemarin. Ketika kita saling berhadapan, melihat mata masing-masing, tapi kita sepenuhnya sadar, hati kita sedang berada di tempat lain. Kita sama-sama tidak tahu apa jawaban yang kita mau, tapi bahkan memang tidak pernah ada pertanyaan. Keinginan berpisah dan tanya mengapa, seperti tidak memiliki keterkaitan. Hanya ingin dan itu tidak apa-apa.
Jika bisa memilih untuk menjalani kisah bersama, aku akan tetap memilih kisah kita, meskipun sudah tahu bagaimana akhirnya. Hati kita sama-sama beranjak dan tumbuh, belajar banyak cara untuk bertahan, tapi mempertahankan sesuatu bukan suatu hal yang mesti. Lagi-lagi kita bisa memilih. Dan jika kita memilih pergi, itu bukan kesalahan. Bahkan jika dipandang sebagai kesalahan, mari tetap lakukan.
Suara mesin ketik, kopi susu di meja yang dinginnya telah berkurang, titik-titik air yang membekas, yang tak sengaja menyentuh kulit tanganku, membuatku tersenyum. Aku memandang keluar gedung. Matahari semakin meninggi. Tawa di meja lain terdengar sesekali. Rekan-rekanku sedang merencanakan kejutan ulang tahun untuk petugas keamanan yang sering melucu. Aku masih berkutat dengan layar. Sungguh, ini hari yang baik. Walaupun kita tahu, kita sudah berpisah.
Tetap saja, ini hari yang baik.
Tasikmalaya, 2026


















