Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

[CERPEN] Menoreh

ilustrasi kereta (unsplash.com/@hughhan)
ilustrasi kereta (unsplash.com/@hughhan)
Intinya sih...
  • Kereta membawa penumpang menuju Bekasi dari Cirebon, menghadirkan perjalanan yang penuh dengan pengalaman dan refleksi.
  • Penulis merenungkan kehidupan sekitarnya, mengeksplorasi tempat-tempat baru, dan menemukan makna dalam setiap perjalanan.
  • Penulis jatuh cinta pada seni di Jakarta, menikmati pementasan teater, meskipun merindukan awan yang tak terlihat di kota itu.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di dua puluh lima Juli, sore. Keretaku melaju dari Cirebon menuju Bekasi. Ah, sialan. Tempat duduk yang ku pilih melawan arah jalannya kereta. Tapi untungnya, aku duduk di dekat jendela. Bisa bersandar atau bahkan memusatkan seluruh perhatianku pada jalanan. Pada kehidupan mereka. Kegiatan mereka menuju terbenamnya matahari. Melihat mereka tanpa malu-malu, sama seperti ketika mereka menatapku dari balik jendela kereta selepas aku sepulang sekolah.

Perjalanan kali ini membawaku pada suatu tempat yang sedikit berbeda dari tempat sebelumnya. Lebih panas. Lebih sesak. Lebih kumuh. Tapi dari tempat ini, aku menjadi lebih dekat dengan tempat yang ingin kutuju.

Ingat doa yang selalu kamu ucap ketika sedang menunggu kemacetan karena kereta lewat? Ingat bagaimana rasanya angin dan debu menerabas laju terkena wajah bersama bayangannya? Ingat orang-orang dari dalam kereta yang berhasil mengintip tanpa malu melihatmu tergesa ingin segera sampai di rumah?

Tadinya aku ingin menyicil bagian esai yang belum sempat di lanjutkan. Tapi, tidak mungkin. Jarak antara tempat duduk di depan dengan tempat dudukku dekat sekali sehingga menyulitkanku untuk bergerak leluasa barang sedikit.

Teringat pada pesan yang kamu sampaikan di pekan semalam kalau kamu ingin menceritakan tentang sejarah kotaku yang barang sedikit pun sulit untuk kupahami. Sepertinya kita di pertemukan memang penuh banyak kata karena. Karena aku yang haus akan pengetahuan. Karena aku yang butuh lebih banyak teman. Karena aku yang senang berjalan. Dan kamu sebagai pelengkap dari ketidaktahuanku, teman perjalananku, dan bersedia menemani setiap langkahku.

Nanti aku akan kesini lagi. Meski kamu tidak sedang di sini. Bahkan kamu ternyata lebih tahu banyak mengenali sejarah kota kelahiranku. Katanya, ayahmu suka sekali membicarakan sejarah. Menjelaskan makna dari dua kata di balik namamu. Aku suka sekali itu. Berharap namaku juga memiliki makna yang sama cantiknya denganmu.

Keretaku melaju dari Cirebon menuju Bekasi. Dan kamu membawaku kembali mengenali sejarah Cirebon. Bisa-bisanya!  Nanti kita akan cerita-cerita lagi di kereta. Kereta itu penuh dengan awan imajinasi. Fakta sejarah yang kamu coba torehkan di langit-langit.

Kita akan bertemu di stasiun. Berkelana mengunjungi Kota Udang. Kamu menjelaskan bagaimana tiap bangunan mempunyai ruh, mempunyai sejarah, dan memaknai setiap bangunan keraton di sana. Sedang aku, merekam semua lewat kamera,  lewat ingatan, dan mengabadikannya melalui tulisan. Karena katamu, sejarah bisa saja hilang dalam ingatan manusia. Jadi, aku akan mencari cara agar bagian dari perjalanan ini tetaplah abadi.

Tapi aku lebih suka Jakarta. Meskipun jauh di dalam hatiku terpatri pada Bandung. Jakarta bisa memperlihatkan jelas seni yang selama ini belum pernah kutemui. Bandung belum bisa memberikanku itu. Terlebih Cirebon? Aku belum bisa melihat banyak seni mengukir di tanah kelahiranku, walaupun banyak orang yang mampu melihat dan memperkenalkannya pada dunia luar.

Ingat kita di pertemukan di mana? Kita jatuh berkali-kali di kota yang tidak mau kunodai. Bandung. Kita diam-diam masuk melalui panjangnya perjalanan di kereta. Buku selalu menjadi alasan mengapa kita tidak pernah berhenti berpikir. Selalu ada peristiwa yang bisa dikaitkan dari apa yang sudah kita baca.

Lalu kamu mengambil pensil kesayanganmu untuk menggambar. Sedang aku terus mencoba berimajinasi lewat pertanyaan bodohku. Kamu menggambarnya dengan amat tenang. Berbeda denganku yang terlalu ekspresif ketika mengungkapkan semuanya lewat cerita. Gambar itu akan abadi di dalam kereta yang masih jauh dari tujuan. Cantik seperti Menoreh yang menemani pertemuan kita saat ini. Pada Menoreh, kereta senja yang membawaku merasa aman bersamamu.

Perihal Bekasi. Ah! Aku bisa merasakan panas dan hujannya yang tiba-tiba saja datang menemuiku ketika ingin pulang. Sama denganmu yang tiba-tiba menjemputku ketika sampai di stasiun. Bekasi selalu menjadi jalan tengah untuk kita yang ingin menikmati seni di Taman Ismail Marzuki. Karena memang tempat tinggalmu di sana dan untungnya aku punya saudara jauh yang bersedia menampungku selama berhari-hari.

Kemudian Jakarta, aku jatuh cinta pada seninya. Aku jatuh cinta setiap pementasan teater diadakan. Tapi, di Jakarta... aku tidak bisa melihat awan. Jakarta terlalu abu-abu ketika siang menyeruak. Pun malam, Jakarta masih terlalu sibuk dengan kendaraannya, kedatangan dan kepergian orang-orang, juga dengan masalahnya yang itu-itu saja.

Hei! Meskipun begitu, aku beruntung bisa mengenalmu melalui tiga kota itu. Kita menjelajah seperti pengelana muda yang tangguh. Merangkai cerita pada setiap perjalanan dan menorehkan pena lewat imajinasimu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us