Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

[CERPEN] Hujan yang Menetes di Matamu

Ilustrasi foto (pexels.com/PratikGupta)
Ilustrasi foto (pexels.com/PratikGupta)
Intinya sih...
  • Lana pulang lelah dari kantor, merenungkan hidup yang tak memberi jeda dari tuntutan pekerjaan.
  • Bertemu pria di halte saat hujan, mereka berbagi perasaan dan menyadari bahwa kehangatan pertemuan tidak diukur dari lamanya.
  • Pemandangan pria menunggu seseorang di bawah hujan membuat Lana sadar bahwa kita tak sendirian menghadapi lelah.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Malam itu, hujan mengguyur deras, menyapu bersih jalanan kota yang dihuni Lana. Lana baru saja pulang dari kantor yang membuatnya lelah pada hari itu. Ia duduk di halte, menatap jalan basah, menanti bus yang tertunda oleh derasnya hujan.

Ia terdiam di halte, memikirkan hidup yang seakan tak pernah memberi jeda dari tuntutan pekerjaan. Kalau bisa, ia hanya ingin menikmati hidup dengan bersantai di rumah, banyak bermain dengan teman-temannya, dan melakukan berbagai kegiatan yang disukainya. Meski begitu, Lana menyadari bahwa tak satu pun dari itu dapat ia lakukan. Keluarganya saat ini sangat bergantung padanya sehingga ia harus bekerja keras untuk terus mendapatkan uang.

Tak lama setelah memikirkan itu, air mata Lana turun perlahan membasahi pipinya. Tetesan itu bercampur dengan percikan hujan yang tertiup angin, membuatnya tak lagi bisa membedakan mana air mata, mana air hujan.

“Sendirian?” Suara itu membuat Lana tersentak. Ia menoleh dan melihat seorang pria berdiri, memegang payung hitam di tangannya. Rambutnya sedikit basah, wajahnya terlihat tenang, namun ada bayangan lelah di matanya.

“Iya,” jawab Lana pelan.

Pria itu duduk di bangku sebelahnya, menutup payung, dan membiarkan hujan membasahi ujung sepatunya. Mereka terdiam, membiarkan rintik hujan mengisi ruang di antara mereka.

“Kamu menangis?” tanya pria itu tiba-tiba, nadanya tidak menghakimi, hanya bertanya.

Lana tersenyum pahit. “Mungkin… tapi hujan ini cukup baik menutupi.”

Pria itu mengangguk kecil. “Kadang hujan memang diciptakan untuk itu.”

Percakapan mereka singkat, tapi terasa dalam. Lana tak tahu kenapa ia merasa aman berbicara padanya, seolah pria ini mengerti lelah yang tak bisa diucapkan. Tatapan matanya pun sama, basah, memantulkan cahaya lampu jalan, dengan tetesan yang perlahan jatuh di pipinya.

“Kamu juga…” Lana ragu melanjutkan, “…menangis?”

Pria itu tersenyum tipis. “Kita semua punya alasan. Hanya saja, beberapa memilih menyembunyikannya di balik hujan.”

Akhirnya, bus yang ditunggu-tunggu Lana tiba, melambat tepat di depan halte. Lana berdiri, menatap pria itu sejenak. “Kamu nggak ikut naik?”

Pria itu menggeleng. “Nggak. Aku masih menunggu seseorang.”

Lana ingin bertanya siapa, tapi ia memilih untuk tidak memaksakan. Ia naik ke bus, dan dari jendela yang berembun, ia melihat pria itu masih duduk, menunduk, membiarkan hujan menetes di matanya.

Entah kenapa, pemandangan itu menancap di hati Lana. Ada rasa hangat yang aneh, bercampur sendu. Malam itu ia sadar, kehangatan sebuah pertemuan tidak diukur dari lamanya, tapi dari rasanya.

Terkadang, di balik satu tatapan yang basah di bawah hujan, kita menemukan kenyataan bahwa kita tak sendirian menghadapi lelah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us