[NOVEL] Jakartaholic - BAB 1
![[NOVEL] Jakartaholic - BAB 1](https://image.idntimes.com/post/20200519/jakartaholic-idn-d24e495476a0727215db620cd5752638.jpg)
1 – Jakarta – The City Drunk on Perfection
***
What is perfection?
Mengapa ada orang yang rela melakukan apa saja, bahkan hal yang mungkin mengada-ada dan tidak masuk akal, untuk memastikan dirinya, juga kehidupannya, tampak sempurna?
Aku setuju dengan kalimat yang diucapkan seorang atlet asal Inggris, Ronnie O’Sullivan, looking for perfection is the only way to motivate yourself. Berusaha meraih sebuah kesempurnaan, entah dalam hal pekerjaan, penampilan, percintaan, atau hidup secara keseluruhan, adalah cara untuk memotivasi diri agar memaksimalkan potensi yang dimiliki.
Namun, seberapa jauh kita rela berkorban dan memperjuangkan kesempurnaan tersebut?
“Mbak, kita harus lewat Sudirman.”
“Lalu?” Aku menjawab pertanyaan Pak Amin tanpa mengalihkan pandangan dari iPad, membaca kembali daftar pertanyaan yang akan kuajukan kepada narasumber.
“Sekarang tanggal genap, kita enggak bisa lewat Sudirman.”
Penjelasan Pak Amin sukses menyita perhatianku. Mengapa hal kecil seperti ini harus mengganggu hariku? Ada banyak hal lain yang lebih penting untuk dipikirkan ketimbang peraturan ganjil genap yang berlaku di Jakarta.
Aku melirik jam tangan. Aku sedang dikejar waktu karena ada dinner meeting dengan narasumber. Tidak mungkin meminta perubahan jadwal. Sangat tidak profesional. Lagi pula, tidak mudah untuk membuat janji wawancara dengan Celine Yang, cellist terkenal asal Singapura yang kebetulan berada di Jakarta.
Celine Yang dikenal sebagai sosok yang tepat waktu. Telat lima menit saja, silakan say goodbye dengan jadwal interview. Dia bisa meninggalkan lokasi, tidak peduli apa pun alasan keterlambatan si wartawan. Kalau dia punya waktu satu jam, setiap wartawan harus memanfaatkan waktu satu jam itu.
Seakan realitas sedang berbaik hati kepadaku, hanya berjarak beberapa meter di depan, aku melihat neon box menandakan sebuah dealer mobil yang menyala. Aku tidak menyangka solusi atas permasalahan ini akan bertemu secepat kilat.
“Kita mampir di dealer depan, beli mobil baru saja.”
Pak Amin hanya mengangguk. Dia sudah lama bekerja dengan keluargaku, sehingga kejadian seperti ini bukan hal baru baginya.
“Bapak telepon Debby, minta dia mengurus surat-suratnya,” seruku, sambil menyebutkan nama Debby, sekretaris Papa yang sangat ahli dalam mengurus apa pun. Dia seperti ibu peri yang mampu mewujudkan apa saja.
Aku melenggang ke dalam dealer. Begitu masuk, Lexus RX 350 Luxury langsung menyita perhatianku. Mobil berwarna putih itu terlihat seksi sekaligus menantang. Aku memilihnya karena tidak ada waktu untuk mengecek jenis lain. Aku hanya butuh mobil untuk saat ini, agar bisa mengatasi ganjil genap.
Lagi pula, aku juga sudah punya Mercedes Benz SLK yang kupakai sehari-hari, juga Lamborghini Gallardo hadiah ulang tahun dari Papa yang jarang kupakai.
“I want this car,” ujarku, kepada petugas dealer yang langsung menghampiriku. “Now.”
Petugas dealer itu tersenyum maklum. Mungkin dia sudah cukup sering menghadapi konsumer berkelakuan ajaib, sehingga mendapati seseorang membeli mobil untuk dipakai saat ini juga merupakan hal yang normal.
“Untuk pelat mobil, saya mau yang nomor genap.” Aku melanjutkan.
Si petugas itu membuka mulut, ingin mengucapkan sesuatu. Namun, ponselku berdering, dan nama Debby tertera di layar.
“Debby,” seruku. “I need new car. Aku buru-buru.”
“It’s okay. I’ll handle it. Kamu tinggal mengisi SPK saja, sisanya biar aku yang mengurus. Untuk pembayaran, serahkan padaku.”
Senyum lebar terpampang di bibirku. Debby memang selalu bisa diandalkan. Dia tidak ubahnya seperti seorang pesulap. Simsalabim, maka semua masalah selesai. Tidak ada yang tidak bisa diatasi oleh Debby.
Bulan depan, aku ada liputan Gucci di Hong Kong. Aku mengingatkan diri untuk membawakan Debby handbag baru sebagai oleh-oleh.
“Alright.”
“Aku urus dulu. Nanti aku kabari kalau sudah selesai.”
Debby menutup telepon, meninggalkanku yang berdiri mematung menatap mobil itu. Sesekali aku melirik jam tangan. Masih ada waktu, Debby tidak akan berlama-lama untuk menyelesaikan masalah ini.
Benar saja, karena beberapa menit kemudian, petugas dealer yang menyambutku tadi memanggilku. Perempuan itu menyerahkan lembaran SPK untuk kuisi dengan data diri. Tanpa membuang waktu, aku menulis data diriku di lembaran kertas itu dan langsung mengembalikannya setelah kutandatangani. Dia lumayan efektif, bisa bekerja dengan cepat, sehingga aku tidak perlu mendesaknya dan memperingatkannya bahwa aku tidak bisa membuang waktu di sini.
“Pembayarannya sudah diterima,” ujarnya.
Aku mengangguk, dan bersiap-siap untuk pergi. Perempuan itu meninggalkanku, sementara rekannya yang lain menyiapkan mobil yang ingin kubeli. Pelat mobil sudah terpasang di sana, dan aku siap memakainya.
“Saya menyetir sendiri, Pak Amin bawa mobilnya pulang, ya.” Aku memberi tahu Pak Amin yang setia menunggu di parkiran.
“Iya, Mbak.”
Aku semakin diburu waktu, sehingga aku pun langsung memacu mobil itu menuju ke tempat janji dengan Celine.
Deringan ponsel memecah keheningan di mobil ini. Aku melihat nama Debby di layar ponsel, dan langsung menerima panggilan telepon itu.
“Everything’s okay?” tanyanya.
“Yes. Thank you for your hard work.” Kalimat itu mengalir begitu saja dari bibirku, seolah-olah sudah terprogram secara otomatis. Kalimat itulah yang selalu kuucapkan setiap kali Debby berhasil membuat keajaiban.
“Oke, aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja.”
“By the way, Debby?” Aku memanggilnya, sebelum memutus sambungan telepon. “Papa besok ada waktu? Aku sudah lama tidak bertemu beliau. Kangen.”
“Let me check.”
Debby membiarkanku menunggu di telepon sementara dia mengecek jadwal Papa. Dia orang kepercayaan Papa yang paling paham jadwal Papa sepanjang hari. Selama ini, jika aku kesulitan menghubungi Papa, aku pasti bisa mengandalkan Debby.
“Pak Arya ada waktu pukul 2, tapi cuma satu jam. Is it okay with you?”
“Nevermind,” sahutku. “Late lunch mungkin. Bisa kamu reservasi restoran untuk kami?”
“Sure. Anything else?”
“No. Thank you, Debby.”
Tidak ada yang tidak mungkin bagi Debby.
**
Namaku Tina Maria Nugroho. Aku baru saja berulang tahun ke-22 bulan Agustus lalu. Tidak ada yang spesial denganku. Aku hanya perempuan biasa, yang sehari-hari bekerja di majalah gaya hidup bernama Belle sebagai lifestyle editor.
Setamatnya dari Royal Holloway, University of London, aku langsung diterima bekerja di Belle. Sejak awal, aku memang mengincar Belle, karena itulah aku mengambil jurusan Creative Writing saat kuliah.
Banyak yang tidak menyangka aku akan berkarier di bidang media massa. Papa dikenal sebagai politikus yang dihormati. Dia sudah lolos ke DPR selama dua periode, dan kesempatan itu tidak menghentikan sepak terjang Papa di politik.
Banyak yang menduga aku akan mengikuti jejak Papa. Apalagi aku adalah anak satu-satunya. Walaupun aku mengikuti perkembangan di dunia politik, juga membekali diri dengan ilmu seputar politik dan pemerintahan, untuk saat ini aku belum berminat untuk berkarier di bidang yang sama dengan Papa.
Sejak kecil, aku sudah jatuh cinta kepada tulis menulis. Sebuah peristiwa traumatis di masa kecil membuatku berkenalan dengan menulis. Awalnya, menulis hanyalah terapi untuk mengatasi trauma, tapi lama-lama aku jadi terbiasa dan jatuh cinta.
Menulis adalah nyawa. Menulislah yang membuatku selamat melewati masa kecil dan remaja yang kesepian karena homeschooling. Menulis juga yang menyelamatkanku dari homesick ketika baru memulai perkuliahan dan tinggal jauh dari keluarga di Jakarta. Menulis juga yang membuatku tetap waras di tengah semua deadline dan target yang tidak pernah mengenal kata "finish".
Karena itu, aku sangat menyukai pekerjaanku di Belle. Bukan hanya memiliki kesempatan untuk menuangkan uneg-uneg di kepala ke dalam tulisan, aku juga berkesempatan bertemu banyak orang baru. Dengan bekerja di Belle, aku jadi punya tempat yang tepat untuk menyalurkan rasa cintaku kepada menulis.
Aku percaya, setiap orang yang hadir di hidupku memiliki cerita masing-masing. Cerita yang tidak sama dengan cerita hidupku. Cerita yang menarik untuk diulik, karena siapa tahu, cerita yang mereka miliki akan membantuku dalam memenuhi hidupku, bukan?
Seperti Celine, yang akan kutemui malam ini.
“Tina.”
Aku berbalik ketika mendengar namaku dipanggil. Di pintu masuk restoran, aku bertemu Mutiara, rekan sesama jurnalis. Wajah Mutiara tampak kesal dan ditekuk. Dia mematikan rokok yang sejak tadi diisapnya dan menginjaknya, sebelum menghampiriku.
“Kamu janjian dengan Celine?”
Aku mengangguk.
“Dia mengusirku, padahal hanya terlambat lima menit.”
Bagi Celine, lima menit itu sangat berharga. Aku juga mengerti, karena ada banyak hal yang bisa dikerjakan dalam waktu lima menit itu.
“Padahal, aku sudah memberitahunya dan meminta kelonggaran waktu karena ibuku dirawat di rumah sakit. Dia enggak peduli.”
Aku meneliti wajah Mutiara. Dia memiliki alasan yang masuk akal, tapi Celine tidak pernah peduli pada alasan apa pun.
“Kamu ngapain masih di sini?”
“Nungguin sampai dia kelar. Mungkin aja dia luluh lihat aku nunggu di sini. Aku enggak mungkin kehilangan momen ini. Bisa-bisa dapat SP 1 dari kantor.” Mutiara mengeluh.
Ucapan Mutiara mengingatkanku. Buru-buru aku berpamitan dan menemui Celine.
Celine menyambutku dengan senyum lebar.
“You’re on time. I really appreciate that.”
Aku menyambut uluran tangannya. “Thank you for your time. As you know, this is for special 10th anniversary.”
Senyum Celine semakin lebar. “It would be an honor for me.”
Dia mempersilakanku duduk, dan aku siap memulai interview.
***
Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!
www.storial.co
Facebook : Storial
Instagram : storialco
Twitter : StorialCo
Youtube : Storial co
![[PUISI] Jendela yang Terbuka](https://image.idntimes.com/post/20260312/pexels-pixabay-259713_4775e0f9-8b69-49a5-b07e-25df73d09675.jpg)
![[PUISI] Redup Langit Mengantar Pulang](https://image.idntimes.com/post/20260315/cristina-gottardi-tspfyb4kdku-unsplash_9d369505-f7d7-4940-ab6e-fa392731d028.jpg)
![[PUISI] Yang Berkecamuk di Kepala](https://image.idntimes.com/post/20251104/pexels-muffinlandge-33863716_7dffecd1-79f7-4607-bd7b-1e65aca7ec2b.jpg)
![[PUISI] Deadline, Kopi, dan Mimpi yang Belum Selesai](https://image.idntimes.com/post/20260317/screenshot-2026-03-17-101142_6fd5bf3d-2b42-472c-a2c2-5cc4029bf37c.png)
![[PUISI] Asal Bapak Senang](https://image.idntimes.com/post/20260405/pexels-olly-3824771_c23d9aa7-678e-4c78-b591-0397ea1bdef4.jpg)
![[PUISI] Gema Renjana Melabuhkan Sauh](https://image.idntimes.com/post/20260402/1001407261_cfa4f7e7-daf7-4d18-9752-1973e134e9a6.jpg)
![[PUISI] Kencan yang Tersisa di Ingatan](https://image.idntimes.com/post/20251020/pexels-cottonbro-10071546_8ac9ec72-5005-4268-8b8a-7255e82966ff.jpg)
![[PUISI] Kepada Sepertiga Malam](https://image.idntimes.com/post/20260403/pexels-mfbeki-36429606_91f36501-17a0-43cf-849e-0e0d73bcde49.jpg)
![[PUISI] Rindu Rumah](https://image.idntimes.com/post/20260404/ainsley-myles-gm_4bfmtibk-unsplash_c5b3a775-48a5-45ec-87bd-d3d9280c0052.jpg)
![[PUISI] Setipis Alasan](https://image.idntimes.com/post/20260326/pexels-jokassis-5534410_64afcb4e-3a33-4cfe-8ca6-b8984a804bc0.jpg)
![[PUISI] Tak Berupa dan Terasa Nyata](https://image.idntimes.com/post/20250725/pexels-jose-david-sinza-458090456-15674505-1_0d5c5e17-d818-4ddb-89d3-e5d5258fc733.jpg)
![[PUISI] Perih yang Tidak Terlihat](https://image.idntimes.com/post/20240614/yosi-prihantoro-gxueqetpjms-unsplash-f96a2f31398211c36c1d614d2c908814-b90fa48e265e3e1bbcb91d220c468307.jpg)
![[PUISI] Tentang Kesepian yang Ingin Kubagi Denganmu](https://image.idntimes.com/post/20260403/pexels-doci-2215518-11963485_1d2f3421-6ef1-460d-83f8-6a6385f4ddf3.jpg)
![[PUISI] Ruang yang Belum Terisi](https://image.idntimes.com/post/20251109/pexels-m-venter-792254-1659437_b54f4955-a061-4f8b-a25e-5662d5f0c398.jpg)
![[PUISI] Semanis Madu](https://image.idntimes.com/post/20250629/screenshot-2025-06-29-151823_da0cf931-2720-4c44-8728-a530eded57a2.png)
![[PUISI] Cerita Akhir Maret](https://image.idntimes.com/post/20260331/1000576924_f15c7b9a-aa16-442e-8839-53466dacb827.jpg)
![[PUISI] Jedalah Sejenak](https://image.idntimes.com/post/20260331/pexels-cottonbro-9063397_0721bcbb-aac2-431f-8535-2e57ba77cb67.jpg)
![[PUISI] Rumah Ternyaman](https://image.idntimes.com/post/20260326/pexels-cottonbro-5097368_b1ad2e35-084a-405a-96d1-c2eb32da1a3f.jpg)
![[PUISI] Sebongkah Es](https://image.idntimes.com/post/20260331/pexels-ufoops-8732572_5fd16602-51a0-4b14-97cb-634ac912c916.jpg)
![[PUISI] Lahan Basah](https://image.idntimes.com/post/20260329/wetland-marshall-county-indiana_0de74f62-c302-4755-9c0f-30b0fc64b7a6.jpg)