Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
[NOVEL] Sabria: Bab 4
storial.co

[Hari Penuh Kejutan]

 

Jian menatap jalanan ramai di depannya dari balik kemudi. Baris-baris hujan di luar masih menyertai perjalanannya, titik air di kaca depan mobil menyerang semakin banyak. Mobilnya tertahan di lampu merah, membuatnya menyandarkan punggung lelah itu ke jok dengan wajah yang sedikit menengadah.

Selain suara air hujan dan klakson kendaraan di luar sana, suara karet wiper yang tengah mengusap-usap kaca mobil juga terdengar nyaring. Tidak. Di perjalanannya kali ini ia tidak akan memutar lagu kesukaan Frea yang biasa diputarnya untuk menemani perjalanan sendirian, juga tidak sambil menelepon wanita itu jika kebetulan sudah pulang kerja.

Jian … tidak ingin mengganggu wanita yang tengah asyik tertawa dan mengobrol, entah tentang apa, dengan pria lain sambil memanggang daging di I-ta Suki. Kejadian itu baru saja dilihatnya.

Ia tahu, menenangkan diri dalam situasi seperti ini tidak ada gunanya. Senyum Frea pada pria itu, gerakan saling sentuh yang akrab dan terkesan intim dari keduanya, juga tawa yang diakhiri dengan usapan di pipi wanita itu dari Si Pria, membuat Jian tahu mungkin selama ini ia sibuk setia sendirian.

Hunjaman klakson dari arah belakang membuat Jian sedikit terperanjat, ia tertinggal sekitar lima meter dari kendaraan yang sudah melaju di depannya. Lampu merah sudah berubah warna.

Pukul sembilan malam ia baru sampai di apartemen yang berada di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. Melihat lampu kamarnya yang menyala, ia sadar bahwa masalahnya hari ini belum usai. Ada gadis asing yang tengah berbaring di kamar tidurnya tadi sore—yang mungkin saja sekarang sudah terbujur kaku karena ia cukup lama meninggalkannya.

Bahkan, ia tidak peduli jika esok hari namanya akan masuk headline surat kabar bahwa ia telah melakukan pembunuhan berencana pada seorang gadis di apartemennya.

Langkahnya terayun memasuki kamar, melihat gadis itu berbaring dengan posisi yang masih sama dengan terakhir kali ia tinggalkan.

Suara pintu depan terdengar dibuka, tidak lama kemudian, sosok Ghazi muncul dari balik pintu kamar. “Sori, sori, macet, Yan,” ujarnya seraya menaruh tas di ujung tempat tidur dan mendekat ke arah Sabria.

Jian adalah tipe orang yang tidak keberatan memberikan password pintu apartemen pada orang terdekat, sehingga orang-orang tertentu bisa masuk kapan saja tanpa perlu dibukakan pintu—termasuk Frea tentu saja.

“Baru balik?” tanya Jian, menatap Ghazi yang kini membuka tasnya dan mengeluarkan stetoskop. Temannya itu memang tampak letih, kelihatan sekali dari kemeja kusutnya yang tampak lelah dipakai seharian.

Ghazi mengangguk. “Ini pasiennya?” tanyanya. Ia menyingkap selimut yang menutupi setengah tubuh Sabria. “Bisa-bisanya ya, mahasiswi pingsan lo bawa ke apartemen?” tanyanya sebelum memeriksa keadaan Sabria. “Kalau Frea tahu gimana?”

“Panjang ceritanya.” Dan Jian serang tidak ingin berbaik hati mengumpulkan niat untuk bicara panjang-lebar.

Ghazi menatap Jian sesaat, seperti mampu membaca keadaan Jian yang kalut. Pria itu tidak banyak bertanya dan langsung menjejalkan dua eartips ke telinga, menempelkan ujung stetoskop ke dada Sabria. Ia melepas alat itu dari telinga, mengalungkan di leher begitu saja, lalu satu tangannya ditaruh di atas perut Sabria, tangan yang lain mengetuk-ngetuk di atasnya. “Lo nggak niat bawa nih perempuan balik?”

“Kalau gue tau alamat rumahnya, udah gue anterin dari tadi.”

Ghazi mengernyit. “Bisa begitu?”

“Yah, bisa aja.” Jian mengibaskan tangannya, malas menceritakan kesialannya hari ini.

“Kenapa, sih? Melas banget.” Ghazi membereskan perlengkapan kedokterannya. “Ada yang gue lewatin kayaknya dari ketidakhadiran gue akhir pekan kemarin.”

Ghazi adalah teman dekat Jian, sama seperti Kemal dan Damar. Namun, kesibukannya sebagai dokter bedah di salah satu rumah sakit swasta saat ini membuat pria itu menjadi personel yang sering absen ketika ada acara berkumpul di akhir pekan atau kapan pun itu.

“Ada apa antara lo dengan Frea?” Ghazi kembali memperhatikan Sabria.

“Nggak ada hubungannya dengan cewek itu,” sanggah Jian ketika melihat Ghazi menatap curiga ke arah Sabria.

“Oh.” Ghazi mengangguk-angguk. “Tapi, lain waktu, gue harap lo jelasin sama gue tentang alasan mahasiswi cantik ini bisa ada di ranjang apartemen lo.”

“Gue lihat Frea makan bareng sama laki-laki lain barusan. Di I-ta Suki.”

“Oh, terus lo bawa cewek ini ke sini karena lo kecewa dengan—”

“Gue bilang nggak ada hubungannya, Zi.”

Ghazi tertawa kecil melihat respons kesal Jian. “Oke, oke.” Ia menghadapkan telapak tangannya. “Frea makan? Sama laki-laki lain? Makan doang?” tanyanya. “Gue juga sering makan berdua sama salah satu dokter atau perawat perempuan rumah sakit, Yan. Teman kantor kali itu.”

“Pakai ketawa-ketawa akrab.”

“Ya gue juga kalau makan sama teman pakai ngobrol, pakai ketawa, masa makan diem-dieman.”

“Pakai pegang-pegangan juga.”

“Ya …, kalau pegang. Paling perempuan-perempuan itu yang pegang gue. Gerakan refleks saat ketawa gitu, kayak nepuk pundak atau—”

“Usap pipi, cium tangan.” Jian berdecak. Wajahnya pasti sudah berubah sangat melankolis saat mengatakannya, karena ia melihat Ghazi kini tertegun.

“Oh …. Waw.” Hanya itu kata yang digumamkan Ghazi.

Jian melangkah ke luar kamar, diikuti oleh Ghazi yang sudah menjinjing tas hitamnya. Mereka duduk di stool setelah Jian mengambilkan segelas air. Tidak ada yang dikeluhkan Ghazi tentang keadaan Sabria, jadi bisakah ia menganggap keadaan Sabria tidak terlalu buruk dan akan segera pulih?

“Gue harusnya nggak usah capek-capek datang ke sana sih karena Kemal nggak mungkin bohong, kan?”

“Lo tahu info Frea jalan sama cowok lain dari Kemal?”

Jian hanya mengangkat alis, lalu meneguk habis air di gelasnya.

“Nggak juga. Mata minus Kemal memang seharusnya nggak bikin lo langsung percaya. Jadi ya, lo harus buktiin sendiri.” Ghazi terkekeh pelan. “Dia kan paling sering salah orang, yang paling fatal waktu terakhir kali kita ngopi, waktu Damar ulang tahun. Dia salah narik tangan orang buat bayar ke kasir, dikira Damar.”

Jian juga ingat momen itu. “Ya mungkin itu juga yang bikin gue tanpa sadar langsung ingin membuktikan sendiri. Dan ….” Ia mendesih. “Nyesel juga gue.”

“Jadi, gimana setelah itu? Lo cuma lihat aja?” tanya Ghazi.

“Maksudnya?”

“Ya, maksudnya nggak lo samperin?”

“Mau ngapain?” Bukankah itu akan membuatnya terlihat menyedihkan?

“Ya lo tarik lah, ajak berantem kek.”

“Siapa?”

“Pelayan I-ta Suki.” Ghazi menjawab dengan intonasi suara yang tinggi. “Kok nanyanya goblok. Ya, cowoknya lah.”

“Ngapain? Mending kalau Frea belain gue, kalau lebih milih cowok itu?”

Sesaat Ghazi tampak iba. “Se-hopless itu lo, Yan. Padahal lo yang punya hubungan empat tahun sama dia.”

“Tapi gue nggak tahu cowok itu udah menjanjikan apa untuk Frea, kan?

“Iya, sih. Janji dibikinin candi kali.” Ghazi tampak malas menanggapi. “Tapi lo tetap harus selesaikan masalah ini sama Frea, Yan. Gue sama sekali nggak berharap lo pura-pura nggak tahu dan memaklumi kejadian itu. Itu kesalahan dan lo nggak boleh diem aja.”

“Lihat nanti.”

“Yan, tolong jangan anggap gue gay karena ngomong gini ya, tapi gue yakin masih banyak cewek yang mau sama lo di luar sana.” Ghazi berbicara tanpa bercermin, ia bahkan bertahun-tahun sendirian setelah putus dari tunangannya.

“Itu omongan nyokap gue saat minta gue bawa cewek ke rumah.” Dan menganggap dia sebagai penyuka sesama jenis ketika Jian mengungkapkan berbagai alasan untuk menghindar.

“Balik ah gue.” Ghazi turun dari stool, lalu melirik ke arah pintu kamar yang setengah terbuka. “Kalau perempuan itu—”

“Namanya Sabria.”

Ghazi mengerjap pelan. “Oh, lo tahu namanya?” Lalu meringis kecil. “Oke, whatever her name is, walaupun dia emang cantik dan patut diingat. Kalau dia bangun dan kelihatan sesak, lo bantu longgarin pakaiannya, ya. Terus kasih minun air putih. Duduk sambil sandarin ke bantal tinggi. Dia pasti bakal pusing banget dan kebingungan karena baru sadar. Kalau lo mau sih … kasih makan juga.”

“Gue antar dia balik, lebih baik kayaknya.”

“Iya, sih.” Ghazi bersiap melangkah ke arah pintu.

“Oke. Thanks, Zi.”

Ghazi mengangguk. Lalu meninggalkan apartemen itu. Meninggalkan Jian yang kini sudah kembali ke kamar, berdiri di samping ranjang seraya melipat lengan di dada, melihat Sabria yang masih terbaring di tempat tidurnya.

Ia memperhatikan perempuan itu lamat-lamat. Dari rambut ikal hitamnya yang sejengkal melewati bahu, lalu keningnya yang tertutup sedikit poni, bentuk hidungnya yang mungil, bibirnya yang tipis dengan sisa warna peach agak pudar, dan lekuk dagunya.

Berkali-kali Ghazi mengatakan gadis itu cantik.

Namun, untuk pria yang baru saja patah hati, sulit sekali menemukan definisi cantik pada perempuan lain secepat itu.

Saat Jian masih menatapnya, kepala Sabria bergerak pelan, menggeleng ke kanan dan kiri dengan raut wajah tidak nyaman, desahan lemah terdengar kemudian, dua tangannya menggapai-gapai kerah kemeja.

Jian mengingat pesan Ghazi sebelum pergi, longgarkan pakaiannya.

Kini, Jian mendekat, dua lututnya ditaruh di tempat tidur, di sisi gadis itu, dua tangannya bergerak membuka kancing teratas kemeja cokelat muda yang dikenakannya. Ia melihat satu tangan Sabria menarik satu sisi kerah sampai bahu, sampai Jian bisa melihat tali bra berwarna hitam di baliknya.

Oke, Jian. Bukan waktunya memperhatikan hal tidak penting semacam itu.

Setelah satu kancing kemeja terbuka dan Sabria masih tampak gelisah, tangan Jian turun ke batas roknya, mengangkat pinggang gadis itu dengan dua tangannya untuk meraih pengait atau ritsleting yang mungkin posisinya ada di belakang. Namun, tunggu, Jian tidak menemukannya, sehingga ia mengangkat pinggang kurus itu lebih tinggi lagi.

Suara pintu depan terdengar kembali dibuka, suara langkah kaki yang memasuki apartemennya kembali terdengar. Namun, Jian mengabaikannya, karena ia yakin itu pasti Ghazi yang mungkin saja meninggalkan kunci mobil atau ponselnya di atas meja bar.

Suara langkah kaki itu semakin dekat ke arah kamar, pintu kamar yang tadi hanya terbuka setengah, kini terbuka sepenuhnya. Lalu suara nyaring dari ambang pintu itu terdengar. “ASTAGFIRULLAH, AA! KAMU NGAPAIN?!”

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editor’s Picks

Editorial Team

EditorYudha ‎