- www.storial.co
- Facebook: Storial
- Instagram: storialco
- Twitter: StorialCo
- Youtube: Storial co
Rumah Rombe - BAB 4

-Panji-
LOLONGAN TENGAH MALAM
**
Ketika melihat Rachel untuk kali pertama, Panji seperti melihat ada matahari kecil menyelinap masuk ke Desa Wingit yang terkesan gelap ini. Rachel begitu cerah. Cantik, bermuka agak bule. Rambutnya hitam lurus alami. Wajah semringah dan antusiasnya membuat Panji ingin ikut tinggal di rumah itu. Menyampingkan segala rumor yang menyertai. Kak Roni, si fotografer, tampak baik dan bertanggung jawab, tetapi Panji belum begitu banyak berinteraksi karena dia sudah harus pergi sehari setelah sampai di desa ini. Orangnya tinggi, kurus dan keriting gondrong seperti Bu Rombe. Si adik kecil, Tomi, dari mukanya saja kita sudah bisa bilang anak itu arogan. Dan memang, Tomi hemat bicara, tetapi kalau sudah bicara pasti yang keluar bernada ketus atau iseng. Panji tidak bermasalah dengan Tomi, menurutnya dia memiliki kepribadian yang menarik. Selama ikut bersih-bersih di rumah itu, Panji acap kali mendapati Tomi sedang mengetuk-ngetuk televisi tabung di ruang keluarga. Tomi seperti mencoba mengintip apa yang ada di balik layar kaca televisi itu.
Rumah itu sudah cukup membuat Panji bergidik. Rumah tua gaya belanda di tengah suatu desa bernamakan Wingit? Pas sekali. Panji kurang mengerti bagaimana mistis dan mitos bekerja. Mereka seperti bekerja di kesunyian, di dalam kerahasiaan, tetapi efeknya menjalar bagai virus. Sekali kena, akan teringat sepanjang waktu. Bahkan, tanpa perlu kau diberitahu, kau sendiri akan menyimpulkan bahwa rumah itu angker. Dan kini Panji sering masuk ke dalamnya. Seumur-umur, Panji belum pernah melihat penampakan. Selama ini, penampakan hanya didengar melalui pengakuan orang-orang. Semoga sampai kapan pun tidak. Rachel menjadi daya tarik tersendiri sehingga Panji perlu buat-buat alasan untuk bertemu dengannya. Bahkan ketika ibunya tidak memintanya untuk beres-beres rumah, dia yang mengajukan diri.
Seperti gayung bersambut, Panji kerap kali diminta datang setelah magrib untuk menemani Rachel dan Tomi belajar. Jam segitu Bu Rombe sering kali belum pulang dari pabrik. Ibunya sedang mengaji, jadi Panji yang harus datang. Rumor-rumor angker tentang rumah itu dia coba singkirkan selagi berjalan masuk melalui pagar, melintasi pekarangan luas yang kosong dengan kebun gelap yang seakan mengawasi dari keheningan malam. Seperti ada mata yang tidak tampak di sana. Perjalanan dari pagar sampai pintu depan senantiasa membuat bulu halusnya terus berdiri. Saat Rachel membukakan pintu, semua itu sirna seketika. Panji bisa tersenyum lebar.
Panji cuma perlu duduk dan mendengarkan Rachel membaca buku pelajaran dan melihat Tomi memutar-mutar matanya, membolak-balik halaman tanpa membaca. Mata Panji terpaku kepada Rachel. Ini adalah rekreasi bagi Panji. Melihat yang indah. Kadang Panji datang membawakan makanan masakan ibunya, takutnya Bu Rombe pulang lebih malam dan tidak sempat memasak. Rachel sering memuji masakan Bu Ningsih.
Hal-hal menyenangkan seperti itu sering kali terusik oleh penampilan dan pembawaan Bu Rombe. Beliau memang wanita anggun dan tangguh. Beliau mirip Tomi, cukup hemat bicara. Bagi Panji, melihat Bu Rombe seperti melihat Susanna. Setiap pulang dari pabrik, beliau memakai daster putih yang tanpa motif sama sekali. Sudah begitu, rambutnya dibiarkan terurai. Panjang dan keriting, sehingga tampak mengembang. Panji selalu berjengit ketika Bu Rombe naik ke lantai dua untuk mengecek Rachel dan Tomi. Bu Rombe hanya tersenyum saja menyapa Panji. Itu membuatnya merinding.
Gerakannya pelan. Persis seperti Susanna berkeliling desa meneror warga. Riasan wajah Bu Rombe terlampau putih. Mungkin sedang memakai krim perawatan. Panji berusaha berpikir positif.
Rachel sering bercengkerama di warung es. Warga desa senang dengan kehadiran Rachel. Dia acap kali dipuji-puji karena kecantikannya. Pemilik warung es bahkan bilang terima kasih, “Semoga dikunjungi Mbak Rachel, bisa bikin dagangan saya makin laris.” Rachel menanggapi itu dengan senyum manis nan lebar. Sikap Rachel manis sekali, itu yang membuat warga suka.
Selayaknya remaja SMP, Rachel tiba-tiba berubah uring-uringan. Sempat beberapa hari tidak mau diajak bersepeda ontel. Padahal waktu pertama dia senang sekali. Rupanya Rachel uring-uringan karena sedang menunggu anjing peliharaannya datang.
“Wah, seperti nama-nama mafia,” kataku saat Rachel memberi tahu nama-nama anjingnya.
“Iya, biar keren.”
Ketika mereka akhirnya tiba, Rachel girang bukan main. Keriangan dan sikap manisnya kembali lagi, bahkan berkali lipat. Di hari kedatangan anjing, Rachel meminta Panji ke rumah. Panji sebenarnya tidak suka anjing. Makhluk itu membuatnya tidak nyaman. Namun, demi Rachel, Panji abaikan itu. Awalnya Panji takut karena ia tidak mengerti bagaimana anjing bersikap. Dengar-dengar anjing akan menghampiri dan mengganggu kalau mereka mencium rasa takut dari dirimu.
Panji seumur-umur belum pernah melihat penampakan. Berada di rumah itu, membuat kemungkinan dia bakal melihat penampakan semakin besar. Tapi tetap saja, dia belum melihat apa pun. Selepas magrib, anjing-anjing itu tiba-tiba menyalak ganjil dan berlarian turun. Panji dan Rachel mengejar mereka. Setelah mencari ke sana kemari, mereka ditemukan sedang menyalak-nyalak ke salah satu sudut ruang tamu dekat dengan potret tunggal Mbah Putri yang level horornya lebih tinggi dari penampilan Bu Rombe. Waktu Panji bersih-bersih tempo hari, dia merasakan tengah diawasi Mbah Putri. Begitu pula saat ini. Mata potret itu bisa mengikuti ke mana pun dia bergerak. Seperti hidup. Atau itu hanya ilusi sebuah potret? Karena foto presiden dan wakil presiden di depan kelas juga seperti itu efeknya. Hanya saja mereka tidak horor. Siapa tahu kalau malam hari.
Tingkah dan suara salakan tiga anjing itu sama ketika berkenalan dengan Panji dan bermain bersama Rachel. Salakan antusias. Itu membuat bulu kuduk berdiri juga. Ada apa di sudut ruang tamu? Suasana sedang gelap waktu itu, Panji belum hafal letak sakelar. Di dalam benak Panji, yang sudah terkontaminasi cerita-cerita horor tentang rumah ini, tiga anjing itu sedang berkenalan dengan penghuni sebenarnya. Penghuni yang tidak terlihat. Panji tidak bisa melihat mereka. Mungkinkah Rachel bisa? Itu ditandai saat tiba-tiba lampu menyala, Rachel berjengit melihat Tomi. Bukan ke arah Tomi, tapi sesuatu di belakang Tomi. Hal itu Rachel tidak ceritakan lebih lanjut, dia lebih senang tiga husky mafia itu bermain bersamanya lagi.
Panji pulang bersama misteri. Bu Rombe dan Om Johan sudah pulang, mereka membawa lontong sambal, Panji dibawakan dua bungkus. Rachel dan tiga anjingnya mengantarkan Panji sampai gerbang. “Besok main lagi ya, Mas Panji.”
Setidaknya, itu membuat pikiran-pikiran horor Panji sirna sebentar. Sampai di rumah, dia bercerita tentang anjing itu kepada ibunya. Ibu yang pernah bilang kalau rumah ada lukisan manusia dan anjing, bakal susah dikunjungi malaikat. “Oh Ibu lupa, keyakinan kita berbeda. Mungkin di versi mereka lain.”
“Duh, Ibu.”
Apa yang dilakukan tiga anjing itu mengingatkan Panji dengan apa yang dikatakan Mbah Suro sore tadi. Waktu Panji menunggu di depan gerbang, duduk di atas batu, Mbah Suro lewat dan basa-basi dengannya. Bertanya ini itu yang membuat Panji malas menjawab. Panji keceplosan bilang akan ada anjing datang.
“Wah, semoga penghuni rumah itu menerima keberadaan anjing. Hmm, tapi kalau hewan peliharaan yang jinak mereka tidak akan masalah. Kalau sesuatu yang lain, hmmm. Itulah.” Mbah Suro meninggalkan Panji dengan bersiul. Siulannya seperti siulan pengundang demit. Panji menoleh ke sekitar pekarangan dan kebun. Sudah sore dan suasana semakin wingit saja. Seratus meter dari tempatnya, Mbah Suro terlihat sedang bersikap istirahat di tempat menghadap kebun. Dia mengangguk-angguk.
Apa yang dikatakan Mbah Suro cukup mengganggu. Malam itu, Panji susah tidur. Dia masih teringat cara Jansen, Hansen dan Donjon menyalak ke sudut ruang tamu sambil setengah berdiri. Rumah Panji tidak begitu jauh dari rumah Bu Rombe. Panji ingat di mata pelajaran IPA, di saat malam, suara dari kejauhan lebih mudah terdengar daripada di siang hari. Panji menajamkan telinga. Tepat tengah malam, dia mendengar lolongan. Persis seperti lolongan serigala di film atau di drama horor radio. Bulu kuduk Panji berdiri tegak. Apakah itu lolongan Jansen, Hansen dan Donjon?
Sebelum ini, sama sekali tidak terdengar adanya lolongan anjing. Panji khawatir, warga lain merasa terganggu. Karena lolongan macam ini, membawa sensasi horor tersendiri. Seperti anjing-anjing itu tengah memuja sesuatu. Sesuatu yang tidak terlihat. Panji tidak pernah mengerti apa maksud lolongan anjing atau serigala di tengah malam. Di luar tidak ada bulan purnama.
Malam-malam berikutnya, lolongan itu tetap berlangsung.
Panji tidak tahan untuk tidak bertanya. “Rachel, kalau malam, Jansen, Hansen dan Donjon suka melolong?”
Rachel mengernyit. “Melolong seperti serigala?”
Panji menirukan suara lolongan. Rachel tertawa.
“Tidak pernah. Sejak di Jakarta, mereka tidak pernah melolong seperti itu. Di sini pun, aku tidak pernah mendengar mereka melolong. Mereka tidur di kamarku. Kalau mereka melolong pasti aku tahu.”
Deg.
Lalu lolongan anjing mana yang Panji dengar setiap malam?
Panji bertanya ke penjaga warung es untuk mengonfirmasi apa yang didengarnya. Katanya dia tidak mendengar adanya suara lolongan. Panji bertanya kepada ibunya, juga tidak.
Lalu lolongan anjing mana yang Panji dengar setiap malam?
**
Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!
![[PUISI] Di Seberang Kedai Es Krim](https://image.idntimes.com/post/20260407/pexels-infou-28398246_d7a63c52-e5a2-4cd8-bb8f-a116c4bd53ae.jpg)
![[PUISI] Jendela yang Terbuka](https://image.idntimes.com/post/20260312/pexels-pixabay-259713_4775e0f9-8b69-49a5-b07e-25df73d09675.jpg)
![[PUISI] Redup Langit Mengantar Pulang](https://image.idntimes.com/post/20260315/cristina-gottardi-tspfyb4kdku-unsplash_9d369505-f7d7-4940-ab6e-fa392731d028.jpg)
![[PUISI] Yang Berkecamuk di Kepala](https://image.idntimes.com/post/20251104/pexels-muffinlandge-33863716_7dffecd1-79f7-4607-bd7b-1e65aca7ec2b.jpg)
![[PUISI] Deadline, Kopi, dan Mimpi yang Belum Selesai](https://image.idntimes.com/post/20260317/screenshot-2026-03-17-101142_6fd5bf3d-2b42-472c-a2c2-5cc4029bf37c.png)
![[PUISI] Asal Bapak Senang](https://image.idntimes.com/post/20260405/pexels-olly-3824771_c23d9aa7-678e-4c78-b591-0397ea1bdef4.jpg)
![[PUISI] Gema Renjana Melabuhkan Sauh](https://image.idntimes.com/post/20260402/1001407261_cfa4f7e7-daf7-4d18-9752-1973e134e9a6.jpg)
![[PUISI] Kencan yang Tersisa di Ingatan](https://image.idntimes.com/post/20251020/pexels-cottonbro-10071546_8ac9ec72-5005-4268-8b8a-7255e82966ff.jpg)
![[PUISI] Kepada Sepertiga Malam](https://image.idntimes.com/post/20260403/pexels-mfbeki-36429606_91f36501-17a0-43cf-849e-0e0d73bcde49.jpg)
![[PUISI] Rindu Rumah](https://image.idntimes.com/post/20260404/ainsley-myles-gm_4bfmtibk-unsplash_c5b3a775-48a5-45ec-87bd-d3d9280c0052.jpg)
![[PUISI] Setipis Alasan](https://image.idntimes.com/post/20260326/pexels-jokassis-5534410_64afcb4e-3a33-4cfe-8ca6-b8984a804bc0.jpg)
![[PUISI] Tak Berupa dan Terasa Nyata](https://image.idntimes.com/post/20250725/pexels-jose-david-sinza-458090456-15674505-1_0d5c5e17-d818-4ddb-89d3-e5d5258fc733.jpg)
![[PUISI] Perih yang Tidak Terlihat](https://image.idntimes.com/post/20240614/yosi-prihantoro-gxueqetpjms-unsplash-f96a2f31398211c36c1d614d2c908814-b90fa48e265e3e1bbcb91d220c468307.jpg)
![[PUISI] Tentang Kesepian yang Ingin Kubagi Denganmu](https://image.idntimes.com/post/20260403/pexels-doci-2215518-11963485_1d2f3421-6ef1-460d-83f8-6a6385f4ddf3.jpg)
![[PUISI] Ruang yang Belum Terisi](https://image.idntimes.com/post/20251109/pexels-m-venter-792254-1659437_b54f4955-a061-4f8b-a25e-5662d5f0c398.jpg)
![[PUISI] Semanis Madu](https://image.idntimes.com/post/20250629/screenshot-2025-06-29-151823_da0cf931-2720-4c44-8728-a530eded57a2.png)
![[PUISI] Cerita Akhir Maret](https://image.idntimes.com/post/20260331/1000576924_f15c7b9a-aa16-442e-8839-53466dacb827.jpg)
![[PUISI] Jedalah Sejenak](https://image.idntimes.com/post/20260331/pexels-cottonbro-9063397_0721bcbb-aac2-431f-8535-2e57ba77cb67.jpg)
![[PUISI] Rumah Ternyaman](https://image.idntimes.com/post/20260326/pexels-cottonbro-5097368_b1ad2e35-084a-405a-96d1-c2eb32da1a3f.jpg)
![[PUISI] Sebongkah Es](https://image.idntimes.com/post/20260331/pexels-ufoops-8732572_5fd16602-51a0-4b14-97cb-634ac912c916.jpg)