Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Perbedaan Sourdough dengan Roti Biasa, Mana yang Jadi Favoritmu?

4 Perbedaan Sourdough dengan Roti Biasa, Mana yang Jadi Favoritmu?
ilustrasi roti sourdough (unsplash.com/Lizie Oren)
  • Sourdough memakai ragi liar dari fermentasi starter tepung dan air, sedangkan roti biasa mengandalkan ragi komersial.
  • Bahan sourdough lebih sederhana—starter, air, dan tepung—tetapi pembuatannya minimal dua hari; roti biasa memakai lebih banyak bahan dan selesai sekitar 1–2 jam.
  • Fermentasi lama membuat sourdough kenyal, padat, sedikit asam, dan berindeks glikemik lebih rendah, tetapi tetap tidak aman bagi penderita intoleransi gluten atau celiac.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Di Indonesia, orang-orang lebih sering mengkonsumsi roti tawar atau roti manis dengan isian selai atau cokelat. Roti-roti ini disajikan saat sarapan atau sebagai teman minum kopi saat sedang santai.

Di Eropa, orang-orang justru lebih banyak mengonsumsi sourdough. Dibandingkan dengan roti yang biasa kita makan, sourdough memiliki ukuran yang lebih besar. Selain itu, penyajiannya juga sangat berbeda. Irisan sourdough disajikan dengan buah alpukat, telur, tomat, dan makanan sehat lainnya sebagai menu sarapan. Namun perbedaan sourdough dan roti bukan hanya terletak pada ukuran dan penyajiannya aja, lho! Berikut beberapa perbedaan antara sourdough dan roti biasa!

  1. 1. Sourdough menggunakan ragi liar, roti biasa menggunakan ragi komersial

    ilustrasi sourdough starter
    ilustrasi sourdough starter (unsplash.com/Margaret Jaszowska)

    Perbedaan utama sourdough dengan roti biasa terdapat pada ragi atau bahan pengembangnya. Sementara roti biasa menggunakan ragi komersial yang bisa dibeli di pasaran, sourdough justru merupakan jenis roti yang dibuat menggunakan ragi liar yang dihasilkan melalui fermentasi alami. Orang-orang menyebut ragi liar ini dengan istilah sourdough starter.

    Sayangnya beda dengan ragi komersial, orang-orang yang membuat sourdough biasanya membuat starter sendiri di rumah. Tenang, bahan untuk membuat sourdough starter cuma dua kok yaitu tepung terigu dan air. Campuran ini kemudian dibiarkan berfermentasi dalam jangka waktu tertentu untuk menghasilkan ragi liar dan bakteri asam laktat.

  2. 2. Roti biasa menggunakan banyak bahan, sementara bahan sourdough lebih sederhana

    ilustrasi bahan membuat roti
    ilustrasi bahan membuat roti (unsplash.com/Backen.de)

    Jika kamu suka membuat roti, kamu pasti sudah hafal di luar kepala bahan apa aja yang kamu butuhkan. Roti manis atau roti tawar yang biasa kita konsumsi umumnya terbuat dari campuran tepung terigu protein tinggi, susu atau air, ragi komersial, mentega, dan telur. Terkadang roti juga diberi tambahan berbagai isian lain yang bikin rasanya lebih nikmat. Namun jika kamu membuat sourdough, kamu gak membutuhkan bahan sebanyak ini.

    Sourdough pada dasarnya hanya membutuhkan tiga bahan yakni sourdough starter, air, dan tepung terigu protein tinggi. Hanya saja, proses pembuatan sourdough ini membutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Pasalnya berbeda dengan roti manis yang hanya butuh waktu 1-2 jam, proses pembuatan sourdough memakan waktu setidaknya 2 hari. 

  3. 3. Roti biasa memiliki tekstur yang lebih lembut, sedangkan sourdough lebih kenyal

    ilustrasi sourdough dan loaf bread
    ilustrasi sourdough dan loaf bread (unsplash.com/Victoria Nazaruk)

    Saat membahas soal roti, yang ada dipikiran kita adalah teksturnya lembut dan rasanya yang netral cenderung manis. Tekstur dan rasa ini terbentuk karena roti biasa dibuat menggunakan proses fermentasi yang lebih cepat. Hal itu berbanding terbalik dengan sourdough.

    Roti sourdough menjalani proses fermentasi yang lama. Nah proses inilah yang kemudian mengembangkan profil rasa yang kompleks, dan sedikit asam. Selain itu dibandingkan dengan roti yang biasa kita makan, sourdough memiliki tekstur yang lebih kenyal dan padat, dengan kulit luar yang renyah. Orang yang belum terbiasa dengan rasanya, mungkin akan lebih suka roti manis ketimbang sourdough.

  4. 4. Sourdough lebih mudah dicerna dan sehat ketimbang roti biasa

    ilustrasi roti sourdough ketika dibelah
    ilustrasi roti sourdough ketika dibelah (unsplash.com/Vicky Ng)

    Roti biasa menggunakan ragi komersial untuk proses fermentasi. Meski lebih efisien dalam mengembangkan adonan, ragi tersebut gak memiliki mikroorganisme yang beragam seperti yang ada di dalam sourdough. Selain itu, roti biasa juga terbuat dari tepung olahan yang memiliki kadar glikemiks lebih tinggi. Sourdough di sisi lain, merupakan jenis roti yang lebih sehat. Lagi-lagi rahasianya terdapat pada proses fermentasi alaminya yang melibatkan ragi liar.

    Fermentasi menurunkan indeks glikemiks roti jadi lebih rendah. Alhasil ketika dikonsumsi pun, roti sourdough gak akan menyebabkan lonjakan kadar gula darah. Selain itu, proses fermentasi juga membantu melepaskan zat besi, seng, dan magnesium pada tepung sehingga lebih mudah diserap tubuh. Sayangnya roti ini tetap gak aman untuk mereka yang menderita intoleransi gluten atau penyakit celiac. Pasalnya proses fermentasi hanya mampu mengurangi kadar gluten pada tepung, bukan menghilangkan gluten sepenuhnya. 

    Buat yang belum terbiasa mengonsumsi sourdough, roti ini mungkin terasa sedikit aneh. Namun jika kamu mau konsumsi roti yang lebih sehat, sourdough jelas merupakan pilihan yang tepat. Selain itu kamu juga bisa lho bikin sourdough sendiri di rumah. Prosesnya memang sedikit rumit dan panjang, tapi sekali kamu berhasil membuatnya, kamu pasti bakalan ketagihan untuk mengonsumsi roti satu ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More