Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

7 Bahan Makanan Impor dari Luar Negeri, Harga Rawan Naik!

7 Bahan Makanan Impor dari Luar Negeri, Harga Rawan Naik!
ilustrasi kacang kedelai (magnific.com/jcomp)
Share Article

Sadarkah kamu kalau sejumlah bahan makanan yang kita konsumsi sehari-hari ternyata dibeli menggunakan dolar? Kondisi ini membuat harga pangan cukup rentan terhadap perubahan nilai tukar mata uang. Ketika rupiah melemah, biaya impor otomatis meningkat dan memicu kenaikan biaya di tingkat produsen hingga konsumen.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat beberapa komoditas yang paling rawan terdampak karena nilai impor dan volumenya besar sepanjang 2025. Nah, berikut ini beberapa bahan makanan impor dari luar negeri yang harganya rawan naik. Kira-kira, apa saja ya?

1. Gandum dan meslin

ilustrasi gandum
ilustrasi gandum (pexels.com/Karyna Panchenko)

Gandum dan meslin (campuran biji gandum dan gandum hitam) termasuk bahan makanan yang sering dikonsumsi masyarakat Indonesia. Kamu bisa menjumpainya dalam wujud tepung terigu, mi instan, hingga aneka roti. Bahan ini hampir sepenuhnya didatangkan dari luar negeri, sehingga saat terjadi pelemahan rupiah akan membuat harga produk turunannya ikut naik.

Kedua jenis biji-bijian tersebut hanya tumbuh subur di wilayah subtropis. Alasan itulah yang membuat Indonesia harus bergantung pada pasokan dari produsen luar negeri. Beberapa negara pemasok utamanya antara lain Australia, Ukraina, Kanada, Argentina, serta Amerika Serikat.

2. Gula

ilustrasi gula
ilustrasi gula (magnific.com/jcomp)

Indonesia terkenal sebagai salah satu penghasil tebu sejak era kolonial. Buktinya, beberapa pabrik gula peninggalan Belanda beroperasi hingga saat ini. Namun, tahukah kamu kalau kita masih sering impor gula?

Pemerintah biasanya mendatangkan gula mentah (raw sugar) maupun gula rafinasi untuk kebutuhan industri pangan, seperti minuman kemasan, biskuit, roti, permen, mi instan, serta produk susu olahan. Jenis gula ini dipilih karena telah melalui proses pemurnian tinggi dan rasa yang lebih netral. Sementara gula konsumsi rumah tangga dan industri pangan skala kecil, per akhir 2025 lalu pemerintah berupaya memenuhi kebutuhan nasional melalui swasembada.

3. Kakao

ilustrasi kakao
ilustrasi kakao (pexels.com/Ákos Helgert)

Siapa yang suka cokelat? Bahan utamanya berasal dari biji kakao yang telah melewati proses fermentasi, pengeringan, dan pemanggangan untuk diolah menjadi makanan atau minuman instan. Tanaman ini berasal dari daerah tropis Amerika Tengah dan Amerika Selatan sehingga dapat tumbuh dengan baik di Indonesia.

Namun, siapa sangka Indonesia yang tercatat sebagai negara eksportir, ternyata masih rajin mengimpor kakao dari Ekuador, Pantai Gading, Guinea, Nigeria, dan Kenya untuk memenuhi kebutuhan nasional.  Pantas saja kalau harga cokelat di pasaran sering naik-turun mengikuti kurs dolar. Sedangkan produksi dalam negeri umumnya berasal dari Sulawesi dan Sumatera.

4. Kedelai

ilustrasi kedelai
ilustrasi kedelai (magnific.com/jcomp)

Kurang lengkap rasanya makan tanpa tahu dan tempe. Dua lauk sejuta umat itu terbuat dari kedelai, salah satu sumber protein nabati yang dapat dinikmati oleh berbagai kalangan. Olahan lainnya berupa oncom, susu kedelai, kembang tahu, hingga bumbu masakan seperti tauco.

Meski bisa tumbuh di Indonesia, produksi kedelai lokal belum mampu memenuhi kebutuhan nasional yang terus meningkat. Ujung-ujungnya, mengandalkan pasokan dari Amerika Serikat, Kanada, Argentina, Brasil, dan Malaysia. Ketergantungan ini membuat skala rumah tangga, pengusaha tahu-tempe, pedang keliling, hingga industri besar resah setiap kali dolar menguat.

5. Susu

ilustrasi susu sapi
ilustrasi susu sapi (pexels.com/Victoria Bowers)

Susu adalah sumber protein hewani yang penting untuk mencukupi kebutuhan gizi harian. Bahan ini juga diolah menjadi keju, yogurt, mentega, krim kue, hingga aneka camilan. Namun, industri susu bubuk dalam negeri masih bergantung dengan pasokan dari luar negeri.

Sekitar 79 persen susu yang dikonsumsi masyarakat Indonesia berasal dari impor, lho! Negara pemasok utamanya meliputi Selandia Baru, Amerika Serikat, Malaysia, dan negara-negara Eropa. Besarnya angka ketergantungan itu membuat bahan makanan ini rentan terhadap fluktuasi kurs mata uang asing. 

6. Daging sapi

ilustrasi daging sapi
ilustrasi daging sapi (unsplash.com/David Foodphototasty)

Bahan makanan lain yang diimpor untuk memenuhi kebutuhan nasional yaitu daging sapi. Protein hewani ini dijual dalam bentuk segar maupun beku untuk bahan baku bakso, sosis, kornet, sampai menu restoran siap saji. Pasokaannya biasa dikirim dari Australia, India, Amerika Serikat, dan Selandia Baru.

Konsumsi daging sapi yang terus meningkat membuat peternak lokal belum sepenuhnya mampu mencukupi permintaan pasar. Terlebih saat perayaan tertentu dan hari besar keagamaan. Oleh karena itu, impor dilakukan untuk menjaga stok dan menstabilkan harga.

7. Bawang putih

ilustrasi bawang putih
ilustrasi bawang putih (unsplash.com/ji jiali)

Ternyata, selain bahan makanan pokok, bumbu dapur seperti bawang putih pun masih impor. Bawang putih digunakan dalam berbagai masakan untuk kebutuhan rumah tangga, industri makanan, dan restoran. Walau bisa ditanam di dataran tinggi Indonesia, jumlah panen lokal belum bisa memenuhi kebutuhan pasar yang masif.

Alhasil, pemerintah mendatangkan bawang putih dari luar negeri, terutama China. Ketergantungan itu membuat harga bumbu dapur satu ini rentan terhadap perubahan kurs rupiah dan biaya distribusi. Ketika pasokan terganggu atau nilai tukar melemah, harga di pasaran pun berpotensi mengalami kenaikan.

Ketujuh bahan makanan impor di atas menjadi bukti bawah kita masih bergantung pada pasar global. Ketika nilai tukar rupiah melemah, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh para pelaku industri pangan skala besar, tetapi juga memengaruhi pengeluaran belanja rumah tangga. Dari daftar di atas, bahan pangan apa saja yang paling sering ada di menu harianmu?


This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Febrianti Diah Kusumaningrum
EditorFebrianti Diah Kusumaningrum

Related Articles

See More

5 Tips Membuat Adonan Tempura ala Jepang yang Krispi

31 Mei 2026, 08:50 WIBFood