Apa Perbedaan Beef Shigureni dan Jangjorim?

Apakah kamu pencinta kuliner Asia Timur, terutama Jepang dan Korea? Jika iya, tentu sering menjumpai adanya kemiripan makanan di antara kedua negara. Sebagian punya akar budaya serupa, baik dari salah satu negara atau bahkan dari China yang telah diadaptasi.
Beef shigureni dari Jepang dan jangjorim dari Korea Selatan, dua makanan yang sangat mirip, tetapi berbeda. Bahan dasar dan bumbu yang digunakan pun tidak hampir sama. Demikian pula dengan cara penyajiannya sebagai lauk pendamping nasi.
Lantas, apa yang membuat keduanya berbeda? Daripada penasaran, berikut ini perbedaan beef shigureni dan jangjorim.
1. Apa itu beef shigureni dan jangjorim?

Shigureni merupakan cara memasak ala Jepang yang mencampurkan berbagai bahan degan kecap dan jahe. Bahan utamanya tidak terbatas pada aneka jenis daging, tetapi juga ikan. Dalam kuliner Jepang sendiri, beef shigureni mirip dengan gyudon.
Sedangkan jangjorim termasuk makanan tradisional Korea yang dimasak dengan kecap, seperti semur. Bahan utamanya seringkali berupa daging sapi dan telur puyuh. Namun, ada pula yang menggunakan dagin babi, telur ayam, dan jamur.
2. Tingkat ketebalan potongan daging sapi

Beef shigureni maupun jangjorim sebaiknya menggunakan potongan daging sapi bagian has dalam, sandung lamur, atau sengkel. Perbedaan lain terletak pada cara memotong dagingnya. Untuk membuat shigureni, daging sapi diiris tipis seperti sukiyaki.
Sementara jangjorim menggunakan daging sapi yang dipotong dadu setebal 6–7 cm. Daging tersebut direbus dua kali untuk menghilangkan busa, kotoran, dan membuatnya empuk. Setelah empuk, lalu dimasak bersama bumbu kecap dan bahan lainnya hingga meresap.
3. Cara membuat

Meski pada akhirnya daging sapi akan dimasak bersama bumbu kecap, tetapi tahapan membuat dan durasinya berbeda. Beef shigureni cenderung lebih praktis dan cepat, karena dagingnya sudah diiris tipis. Hal tersebut membuat daging lebih cepat matang dan hanya memerlukan waktu 20–30 menit hingga bumbu meresap.
Bumbunya berupa jahe, kecap asin, gula pasir, dan mirin yang direbus lebih dulu. Setelah mendidih, barulah daging dimasukkan. Tahap akhirnya, dimasak dalam kondisi tertutup menggunakan api kecil hingga airnya berkurang dan hampir habis.
Cara membuat jangjorim sedikit lebih rumit dengan bahan maupun bumbu yang lebih banyak. Daging dengan potongan yang tebal perlu direbus menggunakan api sedang hingga besar, untuk menghilangkan kotoran dan lemaknya. Setelah itu, ditiriskan dan disiram menggunakan air dingin.
Agar lebih empuk, daging perlu direbus kembali selama hampir 1 jam. Kalau daging sudah empuk, masukkan bahan lain seperti bawang putih, bawang bombai, kecap asin, dan kkwarigochi. Masak kembali selama 20 menit. Biarkan dingin, lalu suwir-suwir daging sapi sebelum disajikan.
4. Aroma dan rasa yang mendominasi

Pada pembuatan beef shigureni biasanya tidak menggunakan bawang. Satu-satunya bahan yang cukup kuat untuk memengaruhi aromanya selain kecap asin adalah jahe. Rasa manis dan asinnya seimbang dengan sedikit sensasi hangat.
Di sisi lain jangjorim dibuat menggunakan bawang putih dan bawang bombai. Kedua bahan itu memberikan rasa gurih dan aroma bawang yang dominan. Selain itu, lebih kaya rasa dengan adanya kecap asin dan kadang ditambahkan sedikit jahe.
5. Tekstur dan cara penyajian

Cara memotong dan proses pembuatan yang berbeda, tentu saja memengaruhi tekstur pada daging. Beef shigureni bertekstur lembut dan sedikit kenyal. Disajikan hampir tidak berkuah atau seperti rendang, sehingga cocok dimakan sedikit demi sedikit maupun untuk isian onigiri.
Jangjorim seringkali disajikan berkuah dengan konsistensi light. Tekstur dagingnya juga empuk dan dapat ditambahkan beberapa bahan lain, bagi yang ingin dobel protein. Oleh karena itu, sesuai untuk lauk utama pendamping nasi.
Nah, sekarang kamu sudah tahu perbedaan beef shigureni dan jangjorim. Kuliner asal Jepang dan Korea Selatan yang tampak mirip, tetapi berbeda. Pernah mencicipi yang mana?


















