Asal-usul Pisang Goreng, Ternyata Bukan dari Indonesia

Pisang goreng sudah lama menempati posisi khusus dalam ingatan rasa banyak orang, bukan hanya sebagai kudapan murah meriah, tetapi juga sebagai makanan yang lekat dengan momen santai dan kebiasaan sehari-hari. Popularitas pisang goreng semakin meroket setelah namanya beberapa kali masuk daftar dessert terbaik dunia versi TasteAtlas dan tahun ini menempati peringkat 14.
Pembahasan soal pisang goreng sering kali berhenti pada kebanggaan lokal, padahal jejak kulinernya justru melintasi benua dan budaya sejak ratusan tahun lalu. Cerita asal-usul ini menarik karena memperlihatkan bagaimana makanan sederhana bisa lahir dari pertemuan lintas budaya. Berikut pembahasan selengkapnya.
1. Bangsa Portugis membawa teknik menggoreng pisang ke Nusantara

Jejak awal pisang goreng berkaitan erat dengan kedatangan bangsa Portugis ke wilayah Nusantara pada awal abad ke-16. Saat singgah di kawasan Melayu sekitar tahun 1511, orang Portugis terbiasa menyantap pisang matang yang dibalut tepung terigu, bahan yang dalam bahasa mereka disebut trigo. Pisang tersebut digoreng dalam minyak panas lalu dimakan selagi hangat sebagai sarapan sederhana. Kebiasaan ini bukan berasal dari Indonesia, melainkan dari tradisi Eropa yang memadukan buah tropis dengan teknik olahan tepung.
Masyarakat Indonesia kemudian mengamati, mencicipi, dan perlahan mengadaptasi cara pengolahan tersebut sesuai bahan yang tersedia. Tepung terigu mulai dipadukan dengan bahan lain, sementara jenis pisang disesuaikan dengan varietas lokal. Dari sinilah pisang goreng berkembang sebagai makanan yang terasa akrab, meski teknik dasarnya datang dari Eropa. Proses adopsi ini berlangsung alami tanpa adanya catatan sejarah tertulis yang rinci, tetapi jejaknya terlihat jelas di wilayah Indonesia hingga sekarang.
2. Hidangan sarapan kolonial berubah menjadi kudapan rakyat

Pada masa Hindia Belanda, pisang goreng bukan sekadar jajanan pinggir jalan seperti yang dikenal sekarang. Hidangan ini kerap disajikan sebagai menu sarapan, terutama karena mudah dibuat dan mengenyangkan. Di lingkungan bangsawan Jawa, pisang goreng bahkan sempat menjadi sajian penutup yang disandingkan dengan teh atau kopi pagi. Seiring waktu, perubahan pola makan dan munculnya berbagai kudapan baru membuat pisang goreng bergeser menjadi camilan sehari-hari.
Warung kopi, pedagang kaki lima, hingga pasar tradisional menjadi tempat dimana kita semua dengan mudah menemukan keberadaannya. Meski statusnya berubah, nilai rasanya tetap bertahan dan justru semakin melekat sebagai makanan yang dekat dengan kehidupan banyak orang Indonesia. Sampai saat ini pisang goreng masih jadi camilan yang digemari berbagai kalangan.
3. Variasi lokal pisang goreng tumbuh dari kebiasaan sehari-hari

Di Indonesia, pisang goreng berkembang menjadi banyak bentuk karena kebiasaan dan selera yang berbeda di setiap daerah. Pisang molen muncul dengan balutan adonan tipis yang dililit rapi, sementara pisang kipas dibuat dengan cara disisir agar teksturnya lebih renyah. Ada pula pisang pasir yang memakai tepung berbutir halus sehingga menghasilkan sensasi kriuk. Setiap variasi lahir dari eksperimen khas dapur rumahan.
Selain bentuk, tujuan pengolahan juga memengaruhi variasi yang muncul. Sale pisang goreng, misalnya, dibuat agar lebih tahan lama dan mudah dikemas sebagai oleh-oleh. Ragam ini memperlihatkan kreativitas masyarakat lokal yang tumbuh dari praktik sehari-hari.
4. Versi pisang goreng dunia menawarkan karakter rasa berbeda

Di luar Indonesia, pisang goreng hadir dengan karakter rasa yang dipengaruhi bahan lokal dan kebiasaan makan setempat. Thailand mengenal kluay kaek yang memakai adonan tepung beras dan santan, sering ditambah wijen atau kelapa parut. Vietnam punya chuoi chien dengan pisang yang digeprek agar pipih sebelum digoreng, menghasilkan tekstur lembut di dalam dan renyah di luar. Meksiko juga punya pisang goreng versi mereka lewat platanos maduros fritos yang mengandalkan manis alami pisang matang.
Di Afrika, dodo hadir dengan sentuhan asin dan pedas dari lada, menunjukkan bahwa pisang goreng tidak selalu manis. Filipina punya pisang saba yang dibentuk seperti kipas, sementara Belanda dan Spanyol mengadaptasinya dengan adonan beraroma kayu manis atau pastry tipis. Ragam ini memperlihatkan satu teknik dasar yang sama, tetapi rasa akhir sangat ditentukan oleh masing-masing wilayah.
5. Jenis pisang dan topping mengubah arah cita rasa

Pilihan jenis pisang sangat menentukan hasil akhir pisang goreng. Pisang kepok dikenal padat dan gurih sehingga cocok untuk adonan sederhana tanpa banyak gula. Pisang raja memberikan aroma kuat dan rasa manis alami, sementara pisang uli menghasilkan tekstur lembut dan creamy. Perbedaan ini membuat teknik pemotongan juga bervariasi, ada yang disisir untuk memperluas permukaan, ada pula yang dipotong bulat agar bagian dalam tetap lembap.
Perdebatan muncul saat topping mulai ditambahkan, mulai dari keju, cokelat, susu kental manis, hingga es krim. Sebagian orang melihat topping sebagai penambah rasa, sementara yang lain menganggapnya mengaburkan karakter asli pisang goreng. Perdebatan ini tidak soal benar atau salah, melainkan soal preferensi makan. Meski demikian, pisang goreng polos dengan teh atau kopi tetap punya tempat yang sulit tergantikan, meski versi pisang goreng dengan topping terus bermunculan.
Pisang goreng membuktikan bahwa kudapan sederhana bisa bertahan lintas zaman dan budaya tanpa kehilangan daya tarik rasanya. Dari resep yang diwariskan hingga versi yang terus dimodifikasi, pisang goreng tetap hadir sebagai teman sarapan, camilan sore, atau pelengkap obrolan santai. Setiap daerah dan setiap rumah punya caranya sendiri menikmati pisang goreng. Semoga informasi di atas bisa menambah informasi kamu mengenai pisang goreng yang masuk ke dalam salah satu daftar 100 Best Dessert in The World 2025 versi TasteAtlas.
Referensi:
"Pisang Goreng Is the Sweet and Crunchy Snack Indonesian People Eat With Coffee" Matador Network. Diakses pada Desember 2025
"Pisang goreng" Taste Atlas. Diakses pada Desember 2025



















