Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Beda Masakan Peranakan dan Masakan Tionghoa: Ciri, Rasa, dan Asal Usulnya

ilustrasi laksa dan lamian
ilustrasi laksa dan lamian (pixabay.com/faizdila | commons.wikimedia.org/TaronjaSatsuma)

Masakan Peranakan dan Tionghoa sering dianggap mirip. Meski keduanya berasal dari akar yang sama, tetapi perkembangannya menghasilkan ciri khas budaya kuliner yang berbeda. Hal tersebut membuat sebagian orang kebingungan untuk membedakannya.

Apakah kamu juga mengalami hal serupa? Eits, tenang saja. Artikel ini akan mengulas tentang perbedaan masakan Peranakan dan masakan Tionghoa. Yuk, baca ulasannya berikut ini!

1. Latar sejarah kuliner

ilustrasi set menu makan malam untuk perayaan Imlek di Provinsi Shanxi
ilustrasi set menu makan malam untuk perayaan Imlek di Provinsi Shanxi (commons.wikimedia.org/HerryCFPL)

Asal-usul masakan Peranakan erat kaitannya dengan komunitas Peranakan atau Baba-Nyonya. Komunitas itu terbentuk melalui interaksi maupun perkawinan campuran antara migran Tionghoa dan Melayu di Asia Tenggara. Diperkirakan bermula pada abad ke-15. 

Perpaduan budaya tidak hanya memengaruhi lingkungan sosial, tetapi juga kulinernya. Masakan Peranakan tetap menghadirkan unsur Tionghoa dari teknik memasaknya. Namun, bahan-bahan yang diolah telah disesuaikan dengan ketersediaan dan selera orang Asia Tenggara.

Kata Peranakan sendiri berarti lahir di daerah setempat yang menekankan perpaduan antara kedua tradisi kuliner. Kini, masakan Peranakan dapat dijumpai nyaris di seluruh Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Di Malaysia, Singapura, dan Thailand bagian selatan lebih dikenal sebagai masakan Nyonya atau Baba-Nyonya. Sementara di Filipina lebih akrab dengan sebutan Tsinoy.

Sementara itu, masakan Tionghoa merupakan tradisi kuliner regional di China yang berkembang di wilayah asalnya. Umumnya menggunakan bahan makanan segar dan menekankan pada rasa, warna, aroma, serta tekstur. Resep dan tekniknya pun cukup konservatif serta diwariskan secara turun-temurun untuk menjaga keasliannya. 

Setiap region di China memiliki masakan khas Tionghoa dengan ciri khas berbeda. Secara garis besar dibagi menjadi delapan region yang disebut Eight Great Traditions, serta ditambah empat wilayah baru meliputi Xinjiang, Mongolia, Yunnan, dan Tibet. Contohnya, masakan Sichuan terkenal pedas dan tajam, masakan Hunan punya rasa dominan pedas asam, dan masakan Kanton atau Guangdong cenderung segar dengan teknik memasak yang fleksibel.

Selain itu, masakan Tionghoa juga menjadi bagian dari filosofi yin dan yang. Makanan yin, cenderung lebih dingin dan ringan untuk mengurangi kekeringan serta panas, banyak dijumpai di China bagian selatan. Sedangkan China utara didominasi makanan yang, cenderung pedas dan panas, termasuk penggunaan bawang serta cabai untuk mengurangi rasa dingin, lembap, maupun meningkatkan sirkulasi darah. 

2. Pemilihan bahan yang digunakan

ilustrasi rempah-rempah
ilustrasi rempah-rempah (pexels.com/arthousestudio)

Perbedaan selanjutnya dapat dilihat dengan jelas pada pemilihan bahan yang digunakan dalam setiap masakan. Pada masakan Peranakan yang menjadi hasil akulturasi, didominasi bahan lokal. Alasan utamanya, karena lebih mudah didapat dan melimpah.

Sesuai dengan kondisi iklim di Asia Tenggara, maka masakan Peranakan cenderung menggunakan bahan tropis. Salah satu contohnya, penggunaan santan untuk memberikan rasa gurih dan creamy. Seringkali menambahkan asam jawa atau belimbing wuluh untuk rasa asam. 

Di sisi lain, masakan Tionghoa sering menggunakan bahan yang dapat mempertahankan rasa aslinya. Bahan utama yang umum digunakan antara lain sayur segar, daging, ikan, olahan kedelai maupun gandum. Tidak hanya itu, sebagian hidangan sangat tergantung pada ketersediaan bahan setiap musimnya.

3. Profil rasa dan penggunaan rempah

ilustrasi lontong Cap Go Meh, salah satu masakan Peranakan
ilustrasi lontong Cap Go Meh, salah satu masakan Peranakan (commons.wikimedia.org/Gunkarta)

Selain bahan utamanya, penggunaan rempah antara masakan Peranakan dan masakan Tionghoa pun berbeda. Masakan peranakan menggunakan rempah dan bumbu aromatik yang lebih kuat. Tentu akan menghasilkan hidangan dengan profil rasa yang lebih kaya, kompleks, dan medok.

Sementara masakan Tionghoa mengutamakan keseimbangan bahan alami dan kesederhanaan rasa. Rempah dan bumbu yang digunakan sebagai pelengkap, tanpa menghilangkan rasa bahan utama. Beberapa yang sering digunakan yakni kecap asin, jahe, dan bawang putih.

4. Teknik memasak

ilustrasi memasak dengan cara menumis
ilustrasi memasak dengan cara menumis (pexels.com/Prince Photos)

Teknik memasak hidangan Peranakan hampir mirip dengan masakan Tionghoa. Namun, terdapat sentuhan lokal yang membedakannya. Salah satu ciri khas masakan Peranakan yakni memasak menggunakan api kecil untuk mengekstrak dan memadukan cita rasa. 

Proses tersebut membuat rempah-rempah dan herba meresap sepenuhnya, sehingga menghasilkan hidangan yang kaya dan beraroma. Selain itu, makanan dibungkus lebih dulu menggunakan daun sebelum dipanggang atau dikukus. Tujuannya untuk menjaga kelembapan, memberikan aroma tanah yang lembut, dan meningkatkan cita rasa.

Lain halnya dengan teknik memasak dalam masakan Tionghoa yang cenderung lebih simpel, tapi bervariasi. Teknik memasak klasik yang terkenal adalah menumis, menggoreng dengan cara cepat dan mudah. Namun hasilnya tetap lezat dan kaya rasa, tanpa menghilangkan rasa dominan bahan utama.

Teknik memasak lainnya yang, yakni mengukus menggunakan pengukus bambu. Cara lain yang lebih unik adalah rebusan merah, digunakan untuk memasak potongan daging atau unggas yang keras. Sedangkan teknik yang paling sederhana adalah merebus seperti hot pot

5. Gaya penyajian hidangan

ilustrasi gaya penyajian masakan Tionghoa
ilustrasi gaya penyajian masakan Tionghoa (pixabay.com/peciriacks)

Satu lagi perbedaannya dapat dilihat dari gaya penyajian hidangan. Masakan Peranakan memberikan perhatian ekstra pada visual serta kompleksitas rasa. Terutama pada hidangan yang disajikan saat perayaan keluarga atau hari besar. Tentu sudah menjadi hal lumrah saat masakan Peranakan disajikan dengan aneka condiment atau topping di atasnya. Bahan sederhana saja, seperti bawang goreng dapat memengaruhi visual dan rasa pada hidangan. Demikian pula dengan berbagai jenis kue yang dibuat lebih berwarna dan menggugah selera.

Sebaliknya, masakan Tionghoa secara tradisional lebih menekankan pada pola makan komunal. Meja keluarga biasanya berbentuk lingkaran dan hidangan disajikan sekaligus di tengah. Meski visual juga penting untuk meningkatkan selera makan, tetapi lebih fokus pada rasa dan teksturnya.

Nah, setelah membaca ulasan tersebut, kini kamu sudah tahu perbedaan masakan Peranakan dan masakan Tionghoa. Perbedaan bukan sekadar dari penamaannya, tetapi juga dijumpai pada teknik memasak hingga cita rasanya. Bagaimana menurutmu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febrianti Diah Kusumaningrum
EditorFebrianti Diah Kusumaningrum
Follow Us

Latest in Food

See More

5 Sup Korea Berkhasiat sebagai Obat, Cocok untuk Santapan selama Musim Hujan!

29 Jan 2026, 21:15 WIBFood