Mengenal Es Gabus, Jajanan Jadul yang Teksturnya Mirip Spons

Belakangan ini, es gabus kembali menjadi perbincangan publik setelah ramai di media sosial isu yang mengeklaim jajanan tradisional tersebut mengandung bahan berbahaya. Kejadian ini dimulai dari penggerebekan penjual es gabus anggota Polri dan anggota TNI AD di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Sabtu (24/1).
Hal ini membuat pedagang es gabus tersebut mengalami tekanan psikologis hingga menghentikan aktivitas berjualannya sementara. Di tengah derasnya arus informasi dan kekhawatiran masyarakat, es gabus pun menjadi sorotan, tak hanya dari sisi keamanan pangan, tetapi juga keberadaannya sebagai jajanan legendaris yang lekat dengan memori masa kecil banyak orang.
Padahal, di balik tampilannya yang sederhana, es gabus menyimpan berbagai fakta unik, mulai dari bahan dasar yang digunakan hingga tekstur yang dihasilkan. Berikut di antaranya.
1. Es gabus adalah jajanan tradisional Indonesia
Es gabus merupakan jajanan tradisional yang populer pada era 1980–1990-an. Jajanan ini sering dijumpai di depan sekolah dasar, pasar, hingga acara rakyat. Nama “gabus” disematkan karena teksturnya yang ringan, kenyal, dan berpori, menyerupai gabus atau busa saat digigit.
Meski tampilannya unik, es gabus merupakan bagian dari warisan kuliner lokal yang dibuat dari bahan-bahan pangan alami. Popularitasnya di masa lalu menjadikan es gabus sebagai simbol jajanan sederhana yang lekat dengan kenangan masa kecil banyak orang Indonesia.
2. Tekstur unik es gabus bukan dari bahan berbahaya

Salah satu pemicu kekhawatiran publik adalah tekstur es gabus yang dianggap menyerupai busa spons atau polyurethane foam (PU foam). Padahal, tekstur tersebut tidak berasal dari bahan sintetis apa pun.
Kekenyalan dan pori-pori khas es gabus dihasilkan dari penggunaan tepung hunkwe sebagai bahan utamanya. Tepung ini memberikan struktur padat tapi lembut setelah dimasak dan dibekukan, sehingga menghasilkan sensasi “menggigit” yang berbeda dari es pada umumnya.
3. Tepung hunkwe berasal dari kacang hijau
Sebagai bahan utama es gabus, tepung hunkwe merupakan pati murni yang diekstrak dari sari kacang hijau. Bahan ini telah digunakan selama puluhan tahun dalam tradisi kuliner Asia Timur sebelum diadaptasi secara luas dalam berbagai jajanan Indonesia, seperti kue lapis, puding, dan es gabus.
Dalam proses pembuatannya, tepung hunkwe dimasak bersama air hingga mengalami gelatinisasi. Saat didinginkan, pati tersebut membentuk gel elastis yang secara alami menciptakan tekstur kenyal dan berpori, bukan karena campuran zat kimia berbahaya.
4. Pori-pori es gabus terbentuk secara alami

Banyak orang belum memahami bahwa pori-pori pada es gabus merupakan hasil reaksi fisik dari pati yang dipanaskan dan didinginkan. Proses ini menyebabkan molekul pati saling mengikat dan membentuk struktur gel berongga.
Fenomena tersebut lazim terjadi pada berbagai olahan berbasis pati, termasuk agar-agar dan puding tertentu. Ketidaktahuan akan proses ini kerap memicu kesalahpahaman, terutama ketika potongan es gabus dilihat sekilas tanpa konteks.
5. Kandungan gizi tepung hunkwe
Dari sisi gizi, tepung hunkwe tergolong aman dan bernilai nutrisi. Setiap 100 gram tepung hunkwe mengandung energi sekitar 364 Kkal, dengan karbohidrat mencapai 83,5 gram sebagai sumber energi utama.
Selain itu, tepung hunkwe juga mengandung protein nabati sekitar 4,5 gram, lemak rendah, serta mikronutrisi seperti natrium dan beta-karoten. Kandungan protein dari kacang hijau memberikan keunggulan dibandingkan pati murni lain yang cenderung minim zat gizi.
6. Keamanan es gabus bergantung pada proses produksi

Seperti jajanan lainnya, keamanan es gabus sangat bergantung pada kebersihan proses pembuatan dan bahan tambahan yang digunakan. Pewarna makanan, misalnya, harus berasal dari bahan yang telah terdaftar dan tersertifikasi BPOM.
Selama diproduksi secara higienis dan menggunakan bahan pangan yang aman, es gabus tidak membahayakan kesehatan. Kekhawatiran yang muncul akibat isu viral lebih disebabkan oleh rendahnya literasi pangan dan derasnya arus informasi yang belum tentu akurat.
7. Es gabus adalah warisan kuliner yang patut dilestarikan
Terlepas dari polemik yang sempat terjadi, es gabus jadul tetap merupakan bagian dari identitas kuliner Indonesia. Jajanan ini mencerminkan kreativitas masyarakat dalam mengolah bahan sederhana menjadi makanan yang unik dan berkarakter.
Alih-alih panik terhadap isu yang belum terverifikasi, masyarakat diimbau untuk lebih kritis dalam menyikapi informasi kesehatan yang beredar di media sosial. Dengan pemahaman yang tepat, es gabus dapat kembali dinikmati sebagai jajanan tradisional yang aman sekaligus bernilai budaya.
Jadi, kapan terakhir kali kamu menikmati es gabus?

















