Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengenal Ketupat Sumpil, Makanan Sarat Makna untuk Maulid Nabi
ilustrasi ketupat sumpil (dok. pribadi/Fatma Roisatin)
  • Ketupat sumpil merupakan kuliner khas Kaliwungu, Kendal, berbahan beras, berukuran kecil berbentuk limas segitiga, dan dibungkus daun bambu; namanya terinspirasi siput kecil bernama sumpil.
  • Diperkirakan hadir sejak zaman Sunan Kalijaga sekitar 1450, sumpil terkait tradisi Maulid Nabi di Kaliwungu, seperti weh-wehan untuk berbagi makanan dan mempererat silaturahmi.
  • Bentuknya dimaknai sebagai hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama; sumpil juga hadir pada momen sakral di Jawa Tengah, dengan penyajian berbeda sesuai budaya daerah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketupat telah menjadi bagian dari budaya kuliner Indonesia yang sering disajikan pada perayaan hari besar keagamaan, termasuk Maulid Nabi. Ternyata ketupat sejumlah daerah punya varian ketupatnya sendiri yang tidak selalu dibungkus menggunakan janur. Masyarakat Jawa Tengah, khususnya Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal punya ketupat sumpil atau lebih akrab disebut sumpil.

Sumpil sama seperti ketupat umumnya yang terbuat dari beras. Bedanya, berukuran lebih kecil, bentuknya limas segitiga, dan dibungkus menggunakan daun bambu. Agar gak penasaran, yuk kenalan dulu dengan ketupat sumpil yang kerap disajikan saat Maulid Nabi!


1. Asal-usul nama sumpil

ilustrasi membuat ketupat sumpil (dok. pribadi/Fatma Roisatin)

Nama ketupat sumpil terinspirasi dari sejenis siput kecil berwarna hitam yang biasa ditemukan di sungai atau sawah. Hewan tersebut punya cangkang seperti kerucut, agak panjang, dan ukurannya kecil. Namanya sumpil dalam bahasa Jawa.

Ukuran ketupat ini yang lebih kecil dari biasanya. Demikian pula bentuknya yang unik berupa limas segitiga dan dianggap mirip sumpil. Oleh sebab itulah ketupat khas Kaliwungu ini disebut sebagai kupat sumpil.


2. Sudah ada sejak zaman Sunan Kalijaga

ilustrasi aktivitas menyambut Maulid Nabi (commons.wikimedia.org/Surya Selfika)

Makanan tradisional ini ternyata sudah ada sejak zaman Sunan Kalijaga, diperkirakan sekitar tahun 1450. Ketupat sumpil menjadi bagian dari tradisi weh-wehan dan teng-tengan yang dilakukan masyarakat Kaliwungu. Kedua tradisi tersebut dilakukan untuk menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW.

Weh-wehan yakni tradisi saling berbagi makanan antarwarga setiap Maulid Nabi. Tujuannya untuk mempererat silaturahmi masyarakat setempat. Sedangkan teng-tengan merupakan sejenis lampion berbentuk prisma yang dipasang di depan rumah. 

Tradisi tersebut masih dilestarikan, walau tidak selalu menyuguhkan ketupat sumpil. Sebagian masyarakat mulai beralih ke makanan modern yang lebih praktis. Meski begitu, sumpil tetap menjadi simbol yang tidak lepas dari perayaan Maulid Nabi di Kaliwungu dan sejumlah daerah di Jawa Tengah.

3. Bentuk limas segitiga yang sarat makna

ilustrasi ketupat sumpil (dok. pribadi/Fatma Roisatin)

Bentuk ketupat sumpil bukan hanya membuatnya unik, tetapi sarat makna. Menurut pemerhati kuliner tradisional, garis segitiga ke atas melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan atau habluminallah. Sedangkan garis ke bawah sebagai simbol hubungan sesama manusia atau habluminannas.

Sebenarnya, konsep itu diadopsi dari kepercayaan masyarakat Jawa sebelum Islam masuk ke tanah Jawa. Kemudian, dimaknai ulang agar sejalan dengan ajaran Islam yang dibawa para wali. Maka dari itu, ketupat sumpil bukan sekadar makanan khas daerah, tetapi juga punya makna yang berkaitan dengan unsur religi.

4. Beda ketupat sumpil dengan ketupat biasa

kolase ketupat biasa dan ketupat sumpil (pexels.com/fey wardhani | dok. pribadi/Fatma Roisatin)

Kalau kamu perhatikan lebih jauh, ketupat sumpil berbeda dengan ketupat biasa. Perbedaan paling jelas dapat dilihat dari bungkusnya yang menggunakan daun bambu. Sementara ketupat biasa dibungkus janur.

Bentuk ketupat sumpil menyerupai limas segitiga dengan ukuran lebih kecil. Teksturnya pun cenderung lebih padat dan punya umur simpan lebih lama. Sedangkan ketupat biasa umumnya berukuran besar dengan bentuk segi empat.

Cara penyajian ketupat sumpil biasanya cukup disantap bersama serundeng. Ada pula yang menyantapnya dengan tempe orek. Kombinasi rasa gurih dan pedas ini memberikan karakter tersendiri.

5. Tersebar di sejumlah daerah untuk sajian berbagai momen penting

ilustrasi gunungan saat perayaan Maulid (commons.wikimedia.org/Heri nugroho)

Ketupat sumpil tersebar di sejumlah daerah di Jawa Tengah. Bagi masyarakat Kaliwungu, Kendal, hidangan ini erat kaitannya dengan Maulid Nabi yang disajikan melalui tradisi weh-wehan. Lain halnya di Purworejo dan Kebumen yang lebih populer saat Idul Fitri.

Sementara itu di Temanggung, varian ketupat ini sering hadir dalam acara pernikahan. Meski punya makna berbeda karena tergantung budaya setempat, namun, intinya tetap sama bahwa ketupat sumpil hadir dalam momen penting yang dianggap sakral oleh masyarakat.

Nah, sekarang kamu sudah tahu bahwa ketupat sumpil bukan hanya makanan khas daerah yang disajikan saat Maulid Nabi. Keberadaannya bermakna dan menjadi perantara menjaga kebersamaan di tengah masyarakat.

Apakah kamu pernah mencicipi ketupat sumpil?


This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article