Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mengenal Yusheng Imlek: Arti, Makna, Isian, Penyajian, dan Cara Menyantapnya

ilustrasi tradisi Yusheng Imlek
ilustrasi tradisi Yusheng Imlek (commons.wikimedia.org/Jan)

Perayaan Imlek selalu lekat dengan sajian khas yang tidak sekadar mengenyangkan, tetapi juga sarat simbol dalam dunia kuliner Tionghoa, salah satunya ialah Yusheng. Hidangan ini kerap muncul di meja makan saat Imlek sebagai menu pembuka yang dinantikan karena cara menikmatinya berbeda dari sajian Imlek yang lain. Yusheng merupakan salad ikan mentah dengan kombinasi sayuran segar, saus khas, dan taburan pelengkap yang beragam.

Keberadaannya dalam tradisi Imlek tidak muncul begitu saja, melainkan terbentuk dari kebiasaan kuliner lintas wilayah dan generasi. Berikut penjelasan mengenai Yusheng yang membuat hidangan ini begitu khas saat Imlek.

1. Yusheng memiliki makna simbolis melalui susunan bahan

Yusheng
Yusheng (commons.wikimedia.org/Pauloleong2002)

Yusheng bukan salad biasa karena setiap bahan yang digunakan dipilih berdasarkan makna dan fungsinya dalam tradisi Imlek, bukan sekadar rasa. Ikan mentah seperti salmon atau yu sheng fish melambangkan kemakmuran karena kata “yu” terdengar mirip dengan kata berlimpah dalam bahasa Mandarin. Irisan lobak, wortel, dan daikon disusun tipis untuk memberi tekstur renyah sekaligus tampilan warna yang kontras.

Buah jeruk pomelo dan saus plum dipilih bukan tanpa alasan karena rasa asam-manisnya dianggap membawa keseimbangan saat disantap. Wijen dan kacang tanah sangrai ditambahkan untuk aroma serta sensasi gurih yang memperkaya rasa keseluruhan. Kombinasi ini membuat Yusheng terasa kompleks, tidak dominan manis atau asin, tetapi tetap ringan di lidah. Susunan bahan yang tampak sederhana sebenarnya dirancang agar setiap suapan terasa berlapis. Itulah sebabnya Yusheng jarang dimakan sendirian.

2. Isian Yusheng disusun dengan urutan yang tidak acak

Yusheng
Yusheng (commons.wikimedia.org/Encik Tekateki)

Penyajian Yusheng selalu dimulai dari bahan kering hingga saus, bukan sebaliknya dan urutan ini memengaruhi rasa akhir saat kita santap. Sayuran parut biasanya diletakkan lebih dulu sebagai dasar agar saus tidak langsung menggenang di piring. Setelah itu, ikan mentah diletakkan di bagian tengah sebagai fokus utama hidangan.

Saus manis asam dituangkan terakhir agar tetap segar dan tidak meresap terlalu lama ke ikan. Minyak wijen dan taburan biji wijen ditambahkan setelah saus supaya aromanya lebih tajam saat diaduk. Jika urutan ini diubah, rasa Yusheng bisa terasa terlalu asam atau justru hambar. Urutan penyajian ini membantu menjaga tekstur tetap segar sampai momen dimakan bersama-sama. Detail kecil ini sering terlewat oleh orang yang baru pertama kali mencoba Yusheng.

3. Cara penyajian Yusheng menekankan kebersamaan di meja makan

Yusheng
Yusheng (commons.wikimedia.org/Jayden Teo)

Yusheng selalu disajikan dalam piring besar karena memang dirancang untuk dimakan ramai-ramai. Ukuran piring memungkinkan semua orang menjangkau Yusheng tanpa harus memindahkan isi terlalu banyak. Posisi duduk mengelilingi meja juga memengaruhi kenyamanan saat mengaduk Yusheng bersama.

Biasanya, sumpit digunakan untuk mengangkat bahan setinggi mungkin sebelum diaduk, sebuah praktik yang dikenal sebagai “lo hei”. Proses ini membuat saus dan bumbu tercampur lebih merata ke seluruh bahan isian Yusheng. Gerakan mengangkat dan mengaduk juga mencegah ikan mentah menempel terlalu lama di dasar piring. Hasilnya, tekstur ikan tetap segar dan tidak lembek.

4. Cara makan Yusheng memengaruhi rasa akhir hidangan

Yusheng
Yusheng (commons.wikimedia.org/Fortresseconomist)

Yusheng sebaiknya langsung dimakan setelah diaduk karena tekstur sayuran dan ikan mudah berubah. Jika dibiarkan terlalu lama, saus akan membuat sayuran layu dan ikan kehilangan kesegarannya. Mengambil Yusheng dengan sumpit dalam porsi kecil membantu menjaga keseimbangan rasa di setiap suapan.

Hindari mengaduk ulang setelah semua bahan tercampur karena dapat membuat tekstur terlalu lembek. Yusheng jauh lebih nikmat jika dimakan dalam satu sesi singkat. Setiap suapan seharusnya terasa renyah, segar, dan sedikit manis tanpa rasa amis yang dominan. Cara makan yang tepat membuat Yusheng terasa ringan meski terdiri dari banyak bahan. Inilah alasan Yusheng jarang dijadikan hidangan sisa.

5. Yusheng berkembang sebagai ikon kuliner Imlek modern

Yusheng
Yusheng (commons.wikimedia.org/Apluswiki)

Awalnya, Yusheng lebih dikenal di komunitas Tionghoa tertentu sebelum akhirnya populer di Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Perkembangannya membuat variasi bahan semakin beragam, termasuk penggunaan ikan yang lebih mudah ditemukan. Meski begitu, prinsip dasar rasa dan penyajian tetap dipertahankan.

Restoran Chinese modern sering menambahkan sentuhan baru seperti saus khusus atau topping premium, tetapi tetap mengikuti struktur asli Yusheng. Inovasi ini membuat Yusheng berkembang dengan selera masa kini tanpa kehilangan identitasnya. Yusheng menunjukkan bagaimana tradisi bisa beradaptasi tanpa kehilangan ciri utamanya. Itulah yang membuatnya terus hadir setiap Imlek hingga sekarang.

Yusheng menjadi hidangan Imlek yang menonjol karena menggabungkan ikan segar, sayuran renyah, dan saus bercita rasa manis-asam dalam satu sajian pembuka. Cara penyajian dan proses mencampurnya membuat hidangan ini tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga seimbang dari sisi tekstur dan rasa. Apakah kamu siap menikmati Yusheng saat Imlek nanti?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febrianti Diah Kusumaningrum
EditorFebrianti Diah Kusumaningrum
Follow Us

Latest in Food

See More

5 Resep Cokelat Lumer Kekinian, Cocok untuk Hadiah Valentine

07 Feb 2026, 10:00 WIBFood