Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Perbedaan Higashi dan Wagashi, Camilan Autentik Khas Jepang

Perbedaan Higashi dan Wagashi, Camilan Autentik Khas Jepang
ilustrasi wagashi (unsplash.com/Vicky Ng)

Siapa di sini yang suka banget sama segala hal berbau Jepang? Gak cuma anime atau pemandangannya yang indah, kuliner Jepang selalu punya daya tarik tersendiri, terutama makanan manisnya. Kalau kamu sering mampir ke toko kue tradisional Jepang atau menonton upacara minum teh, kamu pasti sering mendengar istilah wagashi.

Tapi, pernah gak kamu memperhatikan kalau di antara deretan kue-kue cantik itu, ada yang teksturnya kenyal lembut dan ada juga yang keras seperti permen? Nah, di sinilah letak kebingungan banyak orang. Banyak yang mengira semuanya sama saja, padahal ada pembagian jenis yang cukup spesifik, salah satunya adalah higashi.

Supaya gak salah sebut saat liburan ke Jepang nanti, yuk pelajari perbedaan antara higashi dan wagashi berikut ini!

1. Memahami definisi: mana yang lebih umum?

ilustrasi higashi
ilustrasi higashi (pexels.com/Alina Matveycheva)

Hal pertama yang wajib kamu tahu adalah posisi kedua istilah ini dalam kuliner Jepang. Secara sederhana, wagashi adalah istilah payung atau umbrella term untuk semua jenis kue dan manisan tradisional khas Jepang. Kata "wa" berarti Jepang dan "gashi" (berasal dari kashi) berarti kue atau camilan. Jadi, apa pun jenis kue tradisionalnya, selama itu asli Jepang, maka disebut wagashi.

Nah, sedangkan higashi adalah bagian dari keluarga besar wagashi tersebut. Higashi merupakan kategori spesifik untuk kue-kue yang sifatnya kering. Jadi, kalau ada orang yang bertanya apa bedanya, jawabannya sederhana yakni wagashi adalah kategori besarnya, sementara higashi adalah salah satu jenis varian di dalamnya. Ibaratnya, wagashi adalah "buku" dan higashi adalah salah satu "bab" di dalamnya.

2. Kadar air yang menentukan tekstur

ilustrasi higashi
ilustrasi higashi (unsplash.com/Yosuke Ota)

Perbedaan paling mencolok yang bisa kamu rasakan langsung saat menyentuhnya adalah kadar air. Ini adalah indikator utama yang membagi wagashi menjadi beberapa kelompok. Higashi sering juga disebut sebagai dry confectionery. Kue jenis ini dibuat melalui proses pengeringan atau pemanggangan hingga kadar airnya berada di bawah 10%. Gak heran kalau teksturnya cenderung padat, renyah, atau bahkan lumer di mulut seperti gula-gula.

Di sisi lain, tidak semua wagashi itu kering. Ada jenis lain yang disebut namagashi (kue segar) yang memiliki kadar air sangat tinggi, biasanya di atas 30%. Kalau kamu membayangkan tekstur mochi yang kenyal dan basah, itu adalah contoh wagashi yang bukan higashi. Jadi, perbedaan fisik ini sangat menentukan pengalaman kamu saat memakannya; apakah kamu ingin yang crunchy atau yang lembut meleleh.

3. Daya tahan dan cara penyimpanan

ilustrasi wagashi
ilustrasi wagashi (unsplash.com/Jonathan Cooper)

Karena perbedaan kadar air tadi, otomatis masa simpan keduanya pun sangat jauh berbeda. Ini poin penting kalau kamu berencana membawa oleh-oleh dari Jepang. Higashi adalah penyelamat bagi para turis karena kandungan airnya sangat sedikit dan memiliki daya tahan yang lama. Kamu bisa menyimpannya dalam suhu ruang selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan tanpa takut basi.

Berbeda cerita kalau kamu membeli wagashi jenis basah atau segar seperti Daifuku atau Uiro. Karena kadar airnya tinggi, kue-kue tersebut biasanya hanya bertahan satu atau dua hari saja. Jika tidak segera dimakan, teksturnya akan mengeras atau malah berjamur. Jadi, kalau kamu butuh camilan yang bisa disimpan lama untuk stok di rumah, higashi adalah pilihan yang paling tepat dan praktis.

4. Bahan baku dan teknik pembuatan

ilustrasi wagashi
ilustrasi wagashi (unsplash.com/Vlad Melnikov)

Terakhir, mari kita intip dari apa mereka dibuat. Higashi umumnya terbuat dari bahan-bahan yang "kering" pula seperti tepung beras halus, tepung kedelai, atau gula Wasabonnito (gula premium khas Jepang). Teknik pembuatannya sering kali melibatkan cetakan kayu yang sangat detail untuk membentuk pola bunga atau simbol musim, lalu dikeringkan.

Sedangkan wagashi secara umum, terutama yang jenis basah, sering kali menggunakan bahan-bahan yang mengandung kelembapan tinggi seperti pasta kacang merah (anko), agar-agar (kanten), atau tepung beras ketan yang dikukus.

Meskipun keduanya sama-sama mengedepankan estetika visual yang melambangkan keindahan empat musim di Jepang, teknik pengolahannya tetap dibedakan berdasarkan hasil akhir yang diinginkan yaitu apakah itu makanan yang bisa dikunyah lama (higashi) atau seni yang lembut di lidah.

Sekarang kamu sudah paham kan perbedaan di antara keduanya. Mau pilih yang kering atau yang basah, yang jelas keduanya adalah bukti betapa kayanya budaya kuliner Jepang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febrianti Diah Kusumaningrum
EditorFebrianti Diah Kusumaningrum
Follow Us

Latest in Food

See More

7 Makanan Alternatif Selain Daging untuk Jumat Agung

02 Apr 2026, 18:29 WIBFood