Dio May Avico, Direktur VII KFC Indonesia di acara konferensi pers HUT ke-47 KFC Indonesia, Selasa (29/9/2026) di KFC Taman Melawai, Jakarta Selatan (Dok. KFC Indonesia)
Untuk mewujudkan transformasi tersebut, KFC Indonesia menyiapkan empat pilar utama, yakni Modern Experience, Modern Assets, Modern Menu, dan Modern Communication. Keempatnya akan disatukan oleh satu pendekatan, yaitu cultural relevance, agar perubahan yang dilakukan tetap terasa dekat dengan konsumen, khususnya generasi berikutnya.
Perubahan pertama terlihat dari pengalaman pelanggan yang semakin terintegrasi dengan teknologi. KFC menghadirkan berbagai kanal digital seperti KFCku App, kiosk, dan web order untuk membuat proses pemesanan lebih mudah diakses.
KFCku App juga dikembangkan dengan pengalaman yang lebih personal melalui fitur yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan serta elemen gamifikasi. Namun, KFC menilai transformasi digital bukan berarti menghilangkan interaksi manusia.
“Digital itu tidak harus terasa dingin dan satu arah. Justru lewat digital, pengalamannya bisa jadi lebih personal dan lebih seru,” ujar Dio.
Menurutnya, semakin dekat konsumen dengan teknologi, semakin penting pula kehadiran human hospitality di restoran. Hal sederhana seperti senyuman, sapaan ramah dari tim restoran, hingga interaksi personal tetap menjadi bagian yang ingin dipertahankan KFC.
“Semakin kita lihat bahwa digital memang bisa menerima pesanan, tapi engagement atau experience yang akan customer rasakan ketika datang ke store kami, senyuman ramah dari tim store kami itu akan semakin penting,” lanjutnya.
Dio May Avico, Direktur VII KFC Indonesia di acara konferensi pers HUT ke-47 KFC Indonesia, Selasa (29/9/2026) di KFC Taman Melawai, Jakarta Selatan (Dok. KFC Indonesia)
Transformasi juga akan terlihat dari tampilan restoran. KFC memperkenalkan New Visual Identity yang lebih modern dan dinamis. Namun, modernisasi tersebut tidak berarti seluruh elemen lokal ditinggalkan. Salah satu contoh yang diperkenalkan KFC adalah restoran KFC Banyuwangi yang menggabungkan identitas visual baru dengan inspirasi dari karakter rumah khas Banyuwangi.
“Kami ingin store kami itu bukan cuma untuk tempat beli makan, tapi tempat yang menarik dan enak untuk didatangi oleh customer kami. Jadi, modern assets tapi tetap berasa lokal,” kata Dio.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu cara KFC menggabungkan identitas global dengan karakter lokal di setiap wilayah.
Selain restoran dan teknologi, modernisasi juga menyentuh menu. KFC ingin memberikan lebih banyak pilihan serta cara menikmati produk yang sesuai dengan perubahan gaya hidup konsumen. Ada lima area yang menjadi perhatian, yakni boneless, portable, sauces full of flavor, beverages, serta peningkatan keseluruhan pengalaman produk.
Pilihan boneless ditujukan bagi konsumen yang menginginkan cara menikmati ayam yang lebih praktis. Sementara itu, konsep portable menjawab gaya hidup konsumen yang semakin mobile.
KFC juga akan menghadirkan lebih banyak pilihan saus dan minuman, sekaligus meningkatkan pengalaman produk secara keseluruhan, mulai dari makanan, penyajian, hingga packaging.
“More choices, more ways to enjoy KFC, and more moments to enjoy it,” ujar GM Marketing KFC Indonesia, Alfiya Rahmani.
Perubahan berikutnya hadir dari cara KFC berkomunikasi dengan konsumen. KFC ingin bergerak menjadi social-first brand, bukan sekadar membuat konten untuk menyampaikan pesan. Dio mengatakan KFC ingin menciptakan percakapan dan membuat konsumen merasa terlibat dengan brand.
“Kami tidak hanya ingin mengikuti tren, tetapi menciptakan momen yang dapat menjadi bagian dari percakapan dan pengalaman konsumen,” ujar Alfiya.
Pendekatan ini juga akan dibawa ke berbagai aktivitas offline, seperti KFC Bucket Hoops, Children's Creative Carnival, dan KFC Birthday Party. Dengan begitu, komunikasi tidak hanya berlangsung melalui media sosial, tetapi juga melalui pengalaman yang bisa dirasakan langsung oleh konsumen.