Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

4 Alasan Nasi Merah Tidak Boleh Dikonsumsi Setiap Hari

4 Alasan Nasi Merah Tidak Boleh Dikonsumsi Setiap Hari
Ilustrasi nasi merah (pexels.com/makafood)

Kamu pasti sering dengar kalau beras merah adalah "pahlawan" bagi mereka yang sedang menjalani program diet atau ingin hidup lebih sehat. Jika dibandingkan dengan beras putih, beras merah memang punya segudang keunggulan, terutama kandungan seratnya yang melimpah dan indeks glikemik yang lebih rendah. Tapi, tahu gak sih? Ternyata mengonsumsi beras merah setiap hari secara berlebihan itu tidak selalu baik untuk tubuh, lho.

Meski statusnya adalah superfood, segala sesuatu yang dikonsumsi secara membabi buta pasti punya efek samping. Bukannya makin bugar, kamu malah bisa merasakan gangguan kesehatan kalau tidak mengatur porsinya dengan bijak.

Penasaran kenapa kamu harus mulai menyelingi menu karbohidratmu? Yuk, simak 4 alasan beras merah tidak boleh dikonsumsi setiap hari secara berlebihan berikut ini!

1. Kandungan serat yang terlalu tinggi memicu perut kembung

Ilustrasi nasi merah
Ilustrasi nasi merah (unsplash.com/Alexandra Tran)

Secara umum, beras merah dikenal karena dedak dan bekatulnya yang masih utuh, sehingga kandungan seratnya jauh lebih tinggi daripada beras putih. Memang benar kalau serat itu bagus untuk melancarkan BAB, tapi kalau jumlahnya terlalu banyak masuk ke sistem pencernaan dalam waktu singkat, ceritanya jadi beda.

Ketika kamu mengonsumsi serat berlebih setiap hari, bakteri di usus besar harus bekerja ekstra keras untuk memecahnya. Proses fermentasi ini menghasilkan gas yang melimpah. Hasilnya? Perut kamu bakal terasa kembung, begah, bahkan bisa memicu kram perut. Kalau kamu punya sistem pencernaan yang sensitif, mengonsumsi beras merah tiga kali sehari tanpa jeda bisa membuat aktivitasmu terganggu karena rasa tidak nyaman di area perut.

2. Adanya kandungan asam fitat yang menghambat penyerapan mineral

Ilustrasi nasi merah
Ilustrasi nasi merah (pexels.com/ERIVELTO Martins)

Nah, ini adalah fakta yang jarang diketahui banyak orang. Beras merah mengandung senyawa yang disebut asam fitat (phytic acid). Asam fitat sering dijuluki sebagai "anti-nutrisi" karena kemampuannya mengikat mineral di dalam usus.

Saat kamu makan beras merah, asam fitat ini akan menempel pada mineral penting seperti zat besi, zinc, dan kalsium. Akibatnya, tubuh kamu tidak bisa menyerap mineral-mineral tersebut dengan optimal. Kalau kamu mengonsumsinya setiap hari dalam jangka panjang, kamu berisiko mengalami defisiensi mineral meskipun kamu sudah makan makanan bergizi lainnya. Jadi, pastikan kamu memberikan variasi sumber karbohidrat agar penyerapan nutrisi di tubuh tetap seimbang.

3. Potensi kontaminasi arsenik yang lebih tinggi

Ilustrasi beras merah
Ilustrasi beras merah (pexels.com/Polina Tankilevitch)

Mungkin ini terdengar agak menyeramkan, tapi ini adalah poin penting yang harus kamu waspadai. Beras secara alami cenderung menyerap arsenik dari tanah dan air lebih mudah dibandingkan tanaman lain. Arsenik sendiri adalah elemen berat yang jika menumpuk di tubuh bisa memicu masalah kesehatan kronis.

Kenapa beras merah lebih berisiko? Arsenik biasanya terkumpul di lapisan luar beras (dedak). Karena beras merah tidak melalui proses penggilingan atau penyosohan seperti beras putih, otomatis kandungan arseniknya tetap menempel di sana. Mengonsumsi beras merah setiap hari tanpa variasi bisa meningkatkan akumulasi arsenik dalam tubuhmu. Tidak perlu panik, kamu cukup membatasi porsinya dan memastikan cara mencucinya sudah benar untuk meminimalisir risiko ini.

4. Gangguan pencernaan bagi pemilik lambung sensitif

Ilustrasi beras merah
Ilustrasi beras merah (pexels.com/MART PRODUCTION)

Tekstur beras merah cenderung lebih keras dan kasar dibandingkan beras putih. Hal ini dikarenakan lapisan serat pelindungnya yang masih utuh. Bagi kamu yang memiliki masalah lambung, seperti maag atau GERD, tekstur ini bisa menjadi tantangan tersendiri bagi sistem pencernaan.

Proses pengolahan beras merah di dalam lambung memerlukan waktu yang lebih lama dan energi yang lebih besar. Jika dikonsumsi berlebihan setiap hari, lambung akan bekerja terlalu berat, yang pada akhirnya memicu iritasi atau gangguan pencernaan lainnya. Tidak jarang orang merasa mual atau sembelit jika tiba-tiba beralih ke beras merah secara total tanpa melakukan adaptasi atau pencampuran dengan jenis karbohidrat lain.

Beras merah memang sehat, tapi bukan berarti kamu harus menjadikannya satu-satunya sumber karbohidrat setiap saat. Kunci dari pola makan yang benar adalah variasi. Kamu bisa mengombinasikan beras merah dengan beras putih, ubi jalar, atau jagung agar kebutuhan nutrisi terpenuhi tanpa harus mengalami efek samping dari serat berlebih atau asam fitat.

Gimana, sekarang kamu sudah paham kan kenapa tidak disarankan makan beras merah secara berlebihan setiap hari? Tetap sehat dan jangan lupa dengerin kode dari tubuhmu sendiri, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Atqo Sy
EditorAtqo Sy
Follow Us

Latest in Food

See More

5 Alternatif Asam Jawa untuk Masak Sayur Asem, Rasa Tetap Segar dan Lezat!

06 Apr 2026, 13:15 WIBFood