Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Kopi Asal Melbourne Jadi Tren Baru di Indonesia?

Kenapa Kopi Asal Melbourne Jadi Tren Baru di Indonesia?
Potret proses pembuatan Golden Mont Blanc di Suasanakopi, Sarinah, Jakarta Pusat (IDN Times/Dhiya Awlia Azzahra)

Melbourne telah lama menyandang gelar sebagai salah satu "ibu kota kopi" dunia. Hal ini dikarenakan budaya menyesap kafein telah mendarah daging dan menjadi gaya hidup di kalangan masyarakat sana. Coffee shop pun menjamur di berbagai sudut Kota Melbourne.

Beberapa tahun terakhir, gelombang "Melbourne-style coffee" mulai merambah kota-kota besar di Indonesia, ditandai dengan menjamurnya kafe yang mengusung estetika minimalis, standar roasting yang spesifik, hingga menu sarapan yang ikonik. Fenomena ini tidak hanya berpengaruh dalam pemilihan biji kopi berkualitas, tetapi juga "mengimpor" beragam sajian kopi yang lahir di sana, seperti mont blanc, magic coffee, dan flat white.

Lantas, apa yang membuat kopi asal Australia ini begitu mudah diterima masyarakat Indonesia dan jadi tren baru di sini? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini, yuk!

1. Daftar kopi yang lahir di Melbourne

Potret mont blanc
Potret mont blanc (IDN Times/Dhiya Awlia Azzahra)

Sebelum membahas lebih jauh tentang alasan kopi asal Melbourne jadi tren baru di Indonesia, kita kenalan dulu apa saja olahan kopi yang lahir di sana. Melansir berbagai sumber, magic coffee dan mont blanc merupakan "anak kandung" dari budaya ngopi di Melbourne. Sementara itu, flat white juga menjadi primadona, meski tidak lahir di sana, melainkan di Sydney.

Magic coffee adalah olahan kopi berbasis susu (milk-based coffee) yang dianggap sebagai "rahasia umum" para pencinta kopi di Melbourne. Kopi ini terdiri dari double ristretto dan steamed milik. Ristretto sendiri terbuat dari espresso yang diekstraksi dengan air lebih sedikit dan waktu lebih singkat, hingga menghasilkan kopi yang lebih kental, manis alami, dan aromatik. Teksturnya juga cenderung lembut meski menggunakan double shot.

Penyajian magic coffee ini juga sangat khas dan unik, yakni menggunakan cangkir tulip berukuran 5–6 oz atau sekitar 150 ml-180 ml. Takaran ini pun sangat pas diminum untuk mengawali hari, saat bersantai, atau di sela-sela padatnya aktivitas.

Selain magic coffee, ada mont blanc yang sedang digandrungi orang Indonesia. Melansir akun Instagram influencer Jiewa Vieri (@inijie) pada Senin (20/4/2026), mont blanc lahir dari tangan kreatif barista di gerai kopi Good Measure, Lygon Street, Melbourne, Australia. Sebelum mont blanc lahir, latte, flat white, long black, magic, dan cappuccino telah lebih dulu menjadi best seller di sana.

Pada dasarnya, mont blanc merupakan minuman yang terdiri dari dua layer atau lapisan yang sangat kontras. Lapisan bawahnya berupa cold brew coffee dengan warna cokelat gelap.

"Agak deep dive ke postingan lama di IG Good Measure, disebutkan base-nya adalah Ethiopia Yirgacheffe cold brew," tulis Jiewa Vieri di Instagram pribadinya, @inijie, Senin (20/4/2026).

Sementara itu, bagian atasnya berupa textured milk atau susu yang dipanaskan menggunakan steam wand mesin espresso untuk menghasilkan microfoam yang halus, lembut, dan creamy. Bagian atasnya diberi taburan berupa grated nutmeg (biji pala utuh yang diparut) dan orange zest (parutan kulit jeruk terluar). Dua topping ini memberikan sensasi unik saat menyentuh mulut.

Jiewa Vieri juga menjelaskan tentang rasa dan tekstur mont blanc yang pertama kali ia coba saat mengunjungi Good Measure pada 2023 lalu. Layer paling atas dari kopi ini memiliki ketebalan sekitar 3 cm dengan tekstur milky, creamy, dan velvety. Rasa manisnya pas dengan sentuhan aroma sitrus dari orange zest.

Sementara itu, cold brew atau layer bawahnya rasanya manis alami dengan sentuhan aroma floral dan ada sedikit hint vanilla. Teksturnya pun cenderung ringan, menyegarkan, dan terasa "clean." Saat menyeruputnya langsung, bagian bawah cold brew seakan menembus foam yang atas.

"Jadi, sekali minum bisa dapat atas dan bawahnya," tulis Jiewa.

2. Perkembangan kopi di Indonesia dari kopi tubruk hingga kopi susu kekinian

Menu es kopi susu gober di Kopi Gober, Surabaya
Menu es kopi susu gober di Kopi Gober, Surabaya (IDN Times/Naufal Al Rahman)

Sebelum gelombang coffee shop bergaya Melbourne dengan berbagai inovasinya menjamur di Indonesia, budaya kopi di sini telah lebih dulu berakar pada minuman yang menjadi simbol kesederhanaan, yakni kopi tubruk.

Bagi masyarakat lokal Indonesia, kopi tubruk adalah identitas. Cara pembuatannya pun hanya dengan menyiram bubuk kopi dengan air panas mendidih, lalu dibiarkan mengendap.

Sensasi "nyruput" kopi hitam pekat dengan ampas yang tersisa memberikan kesan "maskulin" dan tradisional yang tidak akan pernah hilang, terutama di kedai-kedai kopi legendaris, warung kopi sederhana, angkringan atau wedangan, hingga obrolan santai di teras rumah.

Memasuki era modern, peta kuliner kopi kita sempat didominasi secara masif oleh fenomena kopi susu gula aren. Minuman ini menjadi revolusi besar yang membuat kopi makin digandrungi. Kopi yang tadinya dianggap pahit dan "tua" menjadi minuman favorit semua kalangan karena rasanya manis. Gula aren memberikan sentuhan lokal, serta menciptakan standar baru bagi lidah orang Indonesia yang gemar akan perpaduan rasa manis dan creamy.

Hadirnya tren kopi Australia, seperti magic coffee dan mont blanc, saat ini menandakan fase "pendewasaan" selera konsumen di Tanah Air. Menu-menu baru ini tidak serta-merta menggusur kopi tubruk atau es kopi susu aren, melainkan memperkaya pilihan, serta menunjukkan industri kopi Indonesia sangat adaptif dan mampu merangkul tradisi dengan tren global dalam satu meja.

3. Alasan kopi asal Melbourne jadi tren baru di Indonesia

Potret proses pembuatan Golden Mont Blanc di Suasanakopi, Sarinah, Jakarta Pusat
Potret proses pembuatan Golden Mont Blanc di Suasanakopi, Sarinah, Jakarta Pusat (IDN Times/Dhiya Awlia Azzahra)

Ada beberapa hal yang membuat kopi asal Melbourne jadi tren baru di Indonesia. Pertama, budaya kopi Melbourne sangat menekankan pada kualitas bahan baku dan ketelitian dalam proses roasting.

Berbeda dengan gaya tradisional yang cenderung dark roast dan pahit, tren kopi Melbourne di Indonesia memperkenalkan profil rasa yang lebih cerah, segar, dan menonjolkan karakter asli biji kopi. Pengusaha kopi di Indonesia yang terinspirasi dari Melbourne biasanya sangat selektif dalam memilih single origin berkualitas tinggi demi bisa menghasilkan rasa yang bersih di lidah.

Selain itu, teknik penyeduhan dan roasting ala Melbourne juga sangat digemari, karena memberikan pengalaman rasa yang lebih kompleks bagi para pencinta kopi. Barista tidak hanya sekadar membuat minuman, tetapi juga memastikan setiap variabel, seperti suhu air dan tekanan mesin espreso, berada pada angka yang presisi. Hal inilah yang membuat kopi bergaya Melbourne di Indonesia sering dianggap sebagai speciality coffee yang "naik kelas."

Tren ini juga mendorong kedai-kedai kopi di Indonesia untuk memiliki roastery sendiri atau bekerja sama dengan penyangrai lokal yang memiliki visi serupa. Di Indonesia, hasil roasting yang lebih ringan, tetapi tetap beraroma kuat ternyata sangat cocok dengan selera anak muda yang menyukai sensasi kopi modern. Konsistensi dalam menjaga kualitas rasa dari hulu ke hilir inilah yang membuat pelanggan rela membayar lebih demi mendapatkan segelas kopi dengan standar ala Melbourne.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah desain kedai kopinya yang estetik, mulai dari gaya industrial hingga minimalis cerah. Kafe-kafe di Indonesia yang mengadopsi tren ini biasanya juga memiliki pencahayaan alami dari jendela besar. Desain seperti ini sangat sinkron dengan keinginan milenial dan Gen Z di Indonesia yang selalu mencari tempat dengan visual menarik untuk konten media sosial mereka.

Selain visual yang memukau, tata letak kafe ala Melbourne sangat memperhatikan kenyamanan interaksi antara pelanggan dan barista. Biasanya, terdapat area bar terbuka yang memungkinkan pengunjung melihat langsung proses pembuatan kopi secara detail. Suasana yang diciptakan pun cenderung santai, tetapi tetap tenang untuk bekerja (WFC) atau sekadar berbincang santai dengan teman di akhir pekan.

Tak hanya visual kafe, tampilan minuman juga turut berpengaruh pada kepopuleran kopi ala Melbourne di Indonesia. Mari kita ambil contoh mont blanc! Kopi ini memiliki visual yang cantik dan cocok ditampilkan sebagai penghias Instagram Story and Feed atau media sosial lainnya. Warna hitam di bagian bawah dan putih di bagian atas menciptakan gradasi yang sangat kontras dan menawan saat difoto.

Para penikmat kopi yang melihatnya pun langsung penasaran dan ingin tahu di mana tempat untuk membelinya. Selanjutnya, saat sudah menemukan kopi tersebut, mereka pun mengalami FOMO (fear of missing out) dan turut mengunggah potret mont blanc di media sosial. Akhirnya, dari ke-FOMO-an ini menjadi gelombang yang membuat kopi ala Melbourne menjadi tren tersendiri di Indonesia.

Itulah beberapa alasan kenapa kopi asal Melbourne nge-trend dan begitu populer di Indonesia. Dengan banyaknya variasi yang terus berkembang, para penikmat kopi gak akan bosan menyesap kopi yang itu-itu saja.

Kamu sendiri, kopi seperti apa yang paling kamu suka? Tulis di kolom komentar, ya!

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dewi Suci Rahayu
EditorDewi Suci Rahayu
Follow Us

Related Articles

See More

Resep Beef Burger Pratha yang Praktis dan Mengenyangkan

03 Mei 2026, 12:30 WIBFood